Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Situs Klentengsari, Banyumanik Diperkirakan Peninggalan Abad ke 5 hingga 7 Masehi

Sebuah benda peninggalan zaman kerajaan Hindu berupa Yoni berada di Kelurahan Pedalangan, Banyumanik.

 

KEBERADAAN situs batu candi yang diperkirakan peninggalan zaman kerajaan Hindu, tergeletak di halaman masjid Al-Hudda, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik. Di dekatnya, juga ada batu yoni, yang terjepit akar sebuah pohon beringin besar yang kini sudah mati. Warga sekitar menyebutnya situs itu dengan Batu Candi Klentengsari. Memang belum ada informasi resmi terkait situs tersebut, kapan ditemukan dan kapan dibuatnya. Namun dari berbagai sumber, situs ini diduga bagian dari Candi Sumurboto, Ngesrep yang diperkirakan sudah ada sejak abad 5 hingga 7 masehi.

Letak yoni memang dekat dengan daerah Sumurboto, terpisah dengan area jalan tol yang dulunya masih menjadi satu kampung sebelum jalan tol menuju Banyumanik ini dibangun.
Untuk menuju lokasinya dari arah Ngesrep, menuju kampus Universitas Diponegoro, kemudian menuju arah ke Jalan Tirto Agung dan lurus menuju sekolah Al-Azhar. Setelah melewati terowongan tol, kemudian berbelok ke kiri ke Jalan Durian Utara III, lokasi situs berada di kiri jalan, tepatnya di halaman masjid Al-Hudda.

Salah satu warga, Banyumanik, Gunawan mengatakan, untuk yoni berada di atas akar pohon beringin yang sudah mati setinggi 10 meter. Konon yoni terangkat secara alami oleh akar pohon beringin berukuran besar tersebut.

“Saya kira dulunya tempat ini adalah sebuah tempat peribadatan agama Hindu. Karena selain ada yoni juga ada alas atau lapik untuk sebuah arca, tepatnya di dekat yoni ini. Letaknya terlilit dengan akar pohon,” ujarnya, Jumat (30/8/2019).

“Saya penasaran dan masih belum percaya di daerah yang padat penduduk masih ada sebuah sisa peninggalan sejarah masa silam yang berlatar belakang agama Hindu. Entah siapa yang membawanya ke sini saya tidak tahu, tapi yang saya tahu situs ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, saat saya tinggal di sini,” imbuhnya.

Dari berbagai sumber literasi yang diperoleh halosemarang.id, meski tak menyebut secara spesifik soal situs di Pedalangan, namun dijelaskan bahwa sebelum peradaban Islam masuk, di wilayah yang kini bernama Semarang sudah ada peradaban Hindu-Buddha khususnya pada abad 5-7 Masehi. Dari buku Semarang Riwayatmu Dulu jilid pertama karya Amen Budiman juga menjelaskan, pada abad 6-7, Bandar atau Pelabuhan Bergota di Pulau Tirang (lokasi sekarang Semarang) pernah menjadi bandar utama Kerajaan Mataram Kuno yang dimungkinkan berpusat kota di wilayah Medang (lokasinya masuk wilayah Jawa Tengah, namun posisi pastinya kini masih dalam perdebatan). Hingga akhirnya pada abad VIII Masehi, pusat kerajaan Mataram Kuno ini dipindah ke wilayah Jawa Timur.

 

Sebuah benda peninggalan zaman kerajaan Hindu berupa Yoni berada di Kelurahan Pedalangan, Banyumanik.

 

Dari tulisan dalam buku tersebut bisa disimpulkan bawa pada abad 5-7 Masehi wilayah yang kini bernama Kota Semarang ini memiliki peran penting dalam kemajuan pemerintahan Mataram Kuno. Oleh sebab itu tak menutup kemungkinan diwilayah ini sudah ada peradaban yang akhirnya meninggalkan banyak jejak sejarah, termasuk beberapa situs yang ditemukan di Banyumanik, Pleburan, Tugu, hingga Mijen.

Pada masa perkembangan Hindu tersebut, yoni merupakan simbol dari Dewi Parvati istri dari Dewa Siwa. Yoni adalah tumpuan bagi lingga atau arca. Bersatunya Lingga dan Yoni adalah pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan wanita (Pradhana) yang merupakan lambang kesuburan, sehingga muncul kehidupan baru (kelahiran). Oleh sebab itu pemujaan akan lingga dan yoni yang merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parvati adalah suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga-yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu.

Apalagi wilayah Semarang dulunya merupakan wilayah bandar yang sudah ada peradaban dan tatanan pemerintahan di masyarakat.

Sementara itu, dari penelitian Veronique Degroot, arkeolog dan peneliti Lembaga Penelitian Prancis untuk Kajian Timur Jauh (EFEO) setelah melakukan survei situs dari peninggalan zaman kerajaan Hindu/Buddha yang masuk melalui pantai utara Jawa, berhasil menemukan puluhan situs yang tersebar dari Brebes hingga Rembang.

Ada beberapa titik yang potensial untuk diekskavasi, termasuk temuan-temuan yang ada di Semarang. Situs batu candi dari jenis batuan andesit atau batuan beku vulkanis yang tersebar di beberapa wilayah seperti Situs di Sumurboto, Semarang, diperkirakan dari bagian batu candi, peninggalan zaman Hindu/Buddha pada abad 5-7 silam.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang