in

Signature Park, Taman Pertama di Kota Semarang dengan Utilitas di Bawah Tanah

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali, meninjau proyek pembangunan Signature Park, Senin (23/11/2020).

 

HALO SEMARANG – Pembangunan Signature Park atau Taman Signature di persimpangan Jalan Piere Tendean dan Jalan Pemuda terus dikebut penyelesaiannya.

Saat ini proses pembangunan baru mencapai progres 50 persen.

Hal itu diketahui saat Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali, meninjau proyek tersebut, Senin (23/11/2020).

Ali mengatakan, ground breaking peletakan batu pertama pembangunan Taman Signature dilakukan pada 29 Juli lalu.

Sementara kontrak pekerjaan hingga akhir Desember ini. Pemerintah Kota Semarang maupun PT Surya Madistrindo selaku pihak swasta yang mendanai pembangunan taman tersebut berharap, kontraktor dapat merampungkan pekerjaan tepat waktu.

“Kalau melihat tinjauan progres baru 50 persen. Harapannya Desember bisa selesai. Saya sudah pendekatan dengan pihak kontraktor, dia masih optimistis dengan cara lembur,” papar Ali.

Dia melanjutkan, Taman Signature akan menjadi percontohan mengingat taman tersebut mengusung konsep taman modern smartpark. Taman ini bakal menjadi taman pertama yang menerapkan konsep ducting atau utilitas berada di bawah tanah.

“Ini taman pertama memakai konsep ducting di Semarang. Semua utilitas yang ada di atas, kami masukan ke ducting,” katanya.

Selain itu, ada berbagai tasilitas pendukung antara lain bicycle dan vehicle parking, charging station, vertical garden, toilet, sitting area, plaza, CCTV, dan wifi.

Pihaknya juga akan memasang sprayer kabut pendingin dengan pewaktu, sehingga pada saat hawa panas bisa terasa sejuk.

Ali membeberkan, pembangunan taman ini menelan anggaran Rp 3,2 miliar yang didanai dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Surya Madistrindo. Masa pemeliharaan satu tahun pertama akan dilakukan pihak developer.

Sejauh ini, sambung dia, sudah ada 289 ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Semarang.

Sejumlah 89 di antaranya merupakan taman aktif. Sementara itu, sudah ada dua taman yang dibangun dengan dana CSR swasta, yaitu Taman Indonesia Kaya yang didanai PT Djarum dan Taman Signature yang didanai PT Surya Madistrindo.

Ke depan, Ali ingin lebih banyak pihak swasta yang peduli dengan pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Semarang.

“Kami berusaha menggandeng swasta supaya tiap tahun ada kegiatan pembuatan taman,” ucapnya.

Kabid Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati menambahkan, untuk menanamkan rasa nasionalisme kepada warga Kota Semarang, Taman Signature juga akan dilengkapi monument Kapten Piere Tendean.

Ini sebagai upaya untuk mengenang jasa sebagai pahlawan revolusi juga sebagai fungsi edukasi di taman tersebut.

Sebelumnya, lahan tersebut merupakan lahan mangkrak milik Kementrian Keuangan.

“Kami sulap lahan 767 meter persegi dengan perjanjian hibah menjadi taman dan akan ada peningkatan trotoar di dalamnya,” terangnya.

Sementara itu, perwakilan Kontraktor PT Karya Satriya, Bambang L Supatra berupaya menyelesaikan Taman Signature tepat waktu. Pihaknya akan menambah jumlah pekerja dan jam kerja untuk mempercepat pembangunan.

“Jumlah tenaga selama ini 45-50 orang, akan kami tambah menjadi 80 orang. Jam kerja biasanya sampai 18.00, akan kami tambah sampai 22.00,” katanya.

Diakuinya, pada bulan lalu memang cukup banyak kendala dalam pembangunan.

Satu di antaranya yaitu perlunya koordinasi dengan beberapa pihak pemilik utilitas yang melintang di wilayah taman.

Utilitas tersebut akan dimasukan dalam ducting sehingga butuh koordinasi dengan pihak terkait, semisal PLN dan Telkom.

“Mereka punya jadwal kerja dan anggaran tersendiri. Itu harus dibicarakan agar timbul singkronisasi,” sambungnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga mengantisipasi cuaca musim hujan. Tenda-tenda pengamanan saat kerja akan lebih banyak disiapkan. Begitu juga penerangan malam diperbanyak untuk kerja lembur.

Saat ini, proses pengerjaan sudah memasuki tahap finishing yaitu pembentukan lempung untuk taman, tempat duduk, pot bunga, tempat penanda tangan, dan kelengkapan sekitar patung.

“Finishing memang harus banyak tenaga mengingat pekerjaan tidak bisa terburu-buru, harus pelan-pelan karena ini kerapian dan kerajinan,” imbuhnya.(HS)

Share This

Satpol PP Tertibkan Tempat Tinggal Liar di Pasar Tradisional Kota Semarang

Kota Semarang Lolos Sebagai Anggota Open Government Partnership