in

Si “Mesin Terbang” Elang Laut Dada Putih, Satwa Dilindungi Yang Ditemukan Di Semarang 

Elang Laut Dada Putih dengan nama latin Haliaeetus leucogaster atau biasa dijuluki "Mesin Terbang" yang ditemukan jatuh di area Puskesmas Ngemplak Simongan, Kampung Srinindito, Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang pada Rabu (2/2/2022) lalu.

 

HALO SEMARANG – Pria paruh baya bernama Afandi (60) asal Semarang menemukan seekor satwa langka yaitu elang laut dada putih dengan nama latin Haliaeetus leucogaster atau biasa dijuluki “Mesin Terbang”.

Sang kakek menemukan elang itu saat jatuh di area Puskesmas Ngemplak Simongan, Kampung Srinindito, Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang pada Rabu (2/2/2022) sekira pukul 13.30 WIB lalu.

“Burung itu yang menemukan bapak saya. Saat ini sudah diserahkan ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Jateng,” terang saksi mata, Devi kepada wartawan, Jumat (4/2/2022).

Sementara itu, menurut penuturan petugas dari BKSDA Jateng, Rimbawanto menjelaskan, semula Afandi terkejut saat melihat benda yang terjatuh dari atas pohon siang itu. Setelah didekati, ternyata ada seekor elang laut dada putih.

Afandi lalu menangkapnya, selepas itu memposting temuannya di laman media sosial Facebook. Hingga akhirnya memutuskan menyerahkan elang laut dada putih itu ke kantor BKSDA Jateng.

“Mendapat informasi kami langsung datangi lokasi Jalan Srinindito. Di sana Mbah Afandi dengan sukarela menyerahkan elang laut dada putih,” bebernya.

Berdasarkan keterangan BKSDA Jateng, elang tersebut merupakan satwa langka yang sedang dilindungi oleh negara. Tercatat, elang laut dada putih memiliki sebaran dari Kepulauan Karimunjawa, pesisir pantai Jawa, Nias, Mentawai, Kepulauan Seribu, Pulau Bawean.

Berikutnya, Pulau Komodo, Pulau Bali, Sulawesi hingga Papua. Dengan kemampuan terbang mencapai 115 kilometer perjam sehingga elang laut dada putih kerap dijuluki sebagai si mesin terbang.

Sedangkan Kepala BKSDA Jateng, Darmanto menyebut, elang laut dada putih yang diamankan di Kampung Srinindito termasuk dalam status konservasi rendah.

“Meski begitu elang laut dada putih termasuk hewan yang dilindungi,” kata Darmanto.

Dilihat dari rentang sayap dan postur tubuhnya, Darmanto memperkirakan jika elang laut dada putih tersebut telah berusia dewasa. Setelah hewan tersebut diamankan, ia bersama dokter hewan akan memantau perkembangan perilaku satwa tersebut selama ditaruh di kandang.

Jika perilakunya masih liar, maka elang laut dada putih akan dikembalikan ke alam bebas. Namun kalau sifat liarnya sudah berkurang, personilnya akan membawanya ke lokasi rehabilitasi yang ada di Jakarta.

“Kalau sudah tidak liar maka direhabilitasi di kandang habituasi milik Pemprov DKI Jakarta. Kemudian ditaruh ke Kepulauan Seribu untuk mengembalikan sifat liarnya,” jelasnya.

Ia meminta kepada masyarakat agar tidak lagi memelihara burung elang. Selain termasuk satwa langka, memelihara elang justru membahayakan ekosistem dan melanggar undang-undang.

Ia juga akan terus memantau hewan piaraan milik masyarakat dengan melibatkan para mitra polisi hutan (polhut).

“Kami selalu rutin menyebar mitra polhut untuk menyosialisasikan larangan memelihara satwa yang dilindungi negara terutama pelarangan memelihara burung elang,” imbuhnya. (HS-06)

Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe di Kota Pekalongan Berani Pertahankan Harga dan Mutu

Ikuti Bina Mental Ideologi, ASN Pendidik di Jepara Diminta Sampaikan Nilai-Nilai Pancasila saat Mengajar