Shuniyya Ruhama Pembatik Asal Weleri Yang Peduli Batik Khas Kendal

Shuniyya Ruhama dan Pascalis, dari Tim Fisipol UGM, saat dijumpai di bengkel batik Shuniyya di Penaruban, Weleri, Kamis (1/4). (Foto : Halo Semarang / Hanief)

 

HALO KENDAL – Kepeduliannya kepada Batik, khususnya batik khas Kendal, menjadikan Shuniyya Ruhama diakui sebagai salah satu sosok pembatik yang sukses di Kabupaten Kendal. Dia juga merupakan sosok yang pintar.

Hal ini dibuktikan oleh Shuniyya Ruhama, dengan menyelesaikan kuliah pada 2004, di jurusan Sosiologi Fosipol Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dengan predikat cumlaude IPK 3,56.

Skripsinya berjudul Respon Masyarakat terhadap Keanekaragaman Ekspresi Busana Waria, mendapat nilai A dari dosen penguji.

Saat kuliah, Shuniyya aktif di himpunan mahasiswa jurusan dan lembaga penerbitan pers mahasiswa Sintesa Fisipol UGM.

Saat dijumpai Halosemarang.id di kediamannya di Jalan Gunung Mas, Penaruban, Weleri,  Shuniyya saat itu sedang menerima kunjungan dari tim Fisip UGM, dengan koordinator Pascalis, yang merupakan teman kuliah Shuniyya dulu.

Pascalis mengatakan dirinya bersama mahasiswa Fisipol UGM, berkunjung ke kediaman Shuniyya, dalam rangka untuk membuat profil Shuniyya yang harus banyak diketahui masyarakat.

“Masyarakat harus tahu mindset Mbak Shuniyya. Kemudian kami membuat video sisi lain Mbak Shuniyya untuk disampaikan kepada mahasiswa yang tertarik sosial politik. Selain itu juga nilai-nilai yang disampaikan. Jadi kewirausahaan yang tidak hanya mencari untung saja, namun ada sisi pemberdayaan kepada masyarakat,” terangnya, Kamis (1/4).

Terkait batik, Pascalis mengaku sebelumya sudah melakukan wawancara dan riset di beberapa media. Ia juga mengaku jika batik buatan Shuniyya sudah laku di berbagai negara di belahan dunia.

“Saya tidak hapal negara mana saja, yang jelas pangsa pasarnya sangat bagus. Nah sisi yang kita angkat adalah, pelanggan Shuniyya bukan menghargai batiknya dari warna dan coraknya saja, namun juga proses pembuatan batik. Ada nilai sosialnya yang menjadikan pembeli tertarik tanpa melihat harga. Kalau melihat harga di Pasar Beringharjo Jogja atau di Pasar Klewer banyak,” ungkapnya.

Sementara itu, saat ditanya apa saja yang diunggulkan dari seni membatiknya, Shuniyya mengaku bisa menebak motif dan asal dari daerah mana, bahkan kisaran usia batik tersebut dengan sekali pandang.

Aneka motif kain mulai motif batik klasik hingga modern kontemporer dipajang di dinding. Sisanya ia biarkan bertumpukan di rak, di ruang tamu sekitar 3 x 4 meter yang ia disain menjadi area display batik.

“Rumah saya ini, selain bengkel batik, juga sebagai galeri studio yang mengerjakan proses batik rancangan saya sendiri. Juga perawatan batik-batik kuno,” ujarnya.

Dikatakan, selain merancang, Shuniyya juga membatik sendiri, dengan menggunakan canting elektrik, bukan canting yang tradisional.

“Soalnya untuk menjaga dari polusi bau malam dan menghindari risiko kebakaran. Juga menggunakan murni pewarna alam sehingga tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.

Shuniyya mengaku batik buatannya sudah laku di berbagai negara. Diantaranya America, Rusia, Afrika, Cheko dan lain-lain. Namun sejak adanya pandemi, semua order dari luar negeri berhenti.

Untuk harga batik buatannya, dirinya mengaku dibanderol dengan harga kisaran Rp 400.000 – Rp 750.000. Adapun untuk yang diekspor, Shuniyya membandrol harga 1.500.000 – Rp 2.500.000. Bahkan sampai ada yang puluhan juta.

“Sekarang produksi tersendat, tidak ada peningkatan. Bahkan menurun sampai 90 persen. Saya sekarang hanya melayani dalam negeri saja. Seperti Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang dan Bali sebagai prioritas. Kalau luar paling hanya Malaysia dan Singapura. Itupun kalau ada permintaan,” paparnya.

Dirinya berharap kepada para perajin batik di Kendal, untuk bersama melestarikan batik khas Kendal khususnya batik tulis. Karena saat ini sudah banyak batik cetak atau sablon pabrikan.

Shuniyya juga berharap kepada pemerintahan Kendal yang baru untuk peduli kepada nasib perajin batik di tengah masa pandemi ini.

Selain itu, dirinya juga berharap dukungan dari masyarakat dengan membeli batik produk lokal di daerah sendiri, sehingga bisa menggairahkan pelaku UMKM di Kabupaten Kendal untuk terus maju dan berkarya.

“Sekarang ini ada motif semarangan dari Semarang, motif kudusan dari Kudus, bakaran dari Pati, demakan dari Demak, motif laseman dari Rembang. Nah Kalau bisa ada motif Kendal juga dong. Ini yang saya coba buat,” kata dia. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.