Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Setelah Direnovasi, Kini di Museum Mandala Bhakti Semarang Ada Lukisan 3 Dimensi

Petugas pemandu museum Mandala Bhakti Semarang, menunjukkan lukisan 3 dimensi mengenai sejarah perjuangan salah satu pahlawan nasional, Pangeran Dipenegoro.

SEJAK beberapa tahun terakhir, Kota Semarang terus berbenah untuk menggenjot sektor wisata. Selain memiliki tempat wisata Lawang Sewu, Kota Lama, Goa Kreo dan Pantai Marina, kini pilihan untuk menjelajahi destinasi wisata bertambah banyak.

Salah satu jujugan wisata yang saat ini masih digarap adalah Museum Mandala Bhakti Semarang.

Meski museum ini sudah lama ada, namun mulai tahun lalu ada pembenahan dan renovasi yang dilakukan pengelola untuk lebih meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke sana.

Kini, meski belum 100 persen proses renovasi selesai, namun museum ini sudah banyak menyimpan benda-benda bersejarah yang menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya ada kendi raksasa, berbagai macam jenis koleksi senjata yang digunakan dalam peristiwa peperangan dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, seragam tentara masa penjajahan, diorama yang menceritakan peristiwa penggalian korban Lubang Buaya, serta berbagai peralatan untuk membantu tentara yang luka-luka dalam perang.

Yang terbaru, setelah dilakukan renovasi di Museum Mandala Bhakti Semarang, di dalam museum kini ada lukisan 3 dimensi sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah Belanda. Lukisan tersebut dibuat di dinding dan lantai museum. Pengunung pun bisa berswafoto dengan latar belakang lukisan tersebut.

Sehingga diharapkan museum yang dikelola di bawah Kodam IV/Diponegoro makin diminati para pengunjung sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari lukisan 3 dimensi ini diceritakan, dari kelahiran Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta pada  11 November 1785, sampai dengan tertangkapnya pahlawan nasional ini oleh pasukan Belanda di Magelang yang dipimpin Jenderal De Kock pada 23 Maret 1830.

“Tertangkapnya Pangeran Diponegoro karena ada salah satu pengkhianat dari warga lokal yang memberitahukan keberadaan Pangeran Diponegoro. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia untuk menyerahkan diri dengan satu syarat, sisa dari laskarnya yang ada agar dibebaskan,” kata, Gandung Raharjo, petugas museum saat ditemui, Kamis (1/8/2019).

Setelah ditangkap, lanjut Gandung, Pangeran Diponegoro diawali ditangkap dari kediaman Tegal Rejo dipenjarakan di benteng Wiliam 2 di Ungaran, dari Ungaran kemudian diasingkan ke Menado yang terakir diasingkan di Makasar sampai akhirnya wafat. Dan hingga sekarang, Pangeran Diponegoro dijadikan junjungan dari Kesatuan Kodam IV/Diponegoro.

“Benda sejarah lain yang ada di sini adalah seragam karung goni. Akibat penjajahan tentara Jepang tahun 1942 lalu, saat itu rakyat Indonesia menderita, sengsara. Sehingga terpaksa memakai karung goni untuk pakaian dan seragam,” terangnya.

Setelah direnovasi, lanjut dia, ada perubahan, penempatan koleksi yang ada di museum, yang dipindahkan di lantai dua gedung museum.

“Saat ini dijadikan satu di lantai dua, masing-masing benda diurutkan sesuai dengan peristiwanya. Seperti peristiwa pertempuran lima hari, peristiwa pemberontakan 30 September, dan lainnya. Kalau dulu, berdasarkan jenisnya, misalnya ruang senjata sebdiri dan seragam sendiri,” imbuhnya.

Museum ini dibuka untuk umum, dari hari Senin sampai Jumat mulai pukul 08.00-15.00. Namun, jika pengunjung yang akan berkunjung pada hari Sabtu dan Minggu, harus ada surat permohonan kunjungan sebelumnya kepada pihak museum, agar buka pada hari tersebut.

“Saat ini rata -rata pengunjung sekitar 100 perhari. Tergantung musimnya, kalau musim liburan anak sekolah, dan ada kunjungan dari bataliyon, kadang lebih,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang