in

Setahun Dikungkung Pandemi Covid-19, Ini Curahan Hati Masyarakat Kecil Kota Semarang

Foto ilustrasi: Salah satu Warteg di Jalan Gajah Raya Kota Semarang.

 

BANYAK orang tidak menyangka jika pandemi Covid-19 masih bertahan sejak awal ditemukan penularan Maret 2020 lalu. Sudah menjadi rahasia umum, terjadi dampak yang sangat mengejutkan bagi seluruh sektor.

Tidak hanya sektor kesehatan saja, akan tetapi sektor ekonomi yang mengalami dampak nyata akibat bertahannya pandemi Covid-19 selama 12 bulan ini.

Pemerintah berusaha melakukan upaya untuk menangani dan menekan penyebaran Covid-19. Mulai dari imbauan di rumah saja, pembatasan aktivitas masyarakat di manapun berada, hingga menutup sejumlah tempat hiburan dan wisata.

Termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Akibat dari pembatasan-pembatasan tersebut, berpengaruh pada aktivitas usaha yang kemudian berimbas pada perekonomian.

Halosemarang.id menemui beberapa warga yang merasakan akan imbas dari pandemi Covid-19. Mereka tidak hanya memikirkan kondisi kesehatan saja, akan tetapi bagaimana mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup, minimal untuk keseharian.

Di situasi yang serba sulit seperti ini, apapun tetap mereka lakukan demi dapur tetap mengepul. Meski mereka yang sebagian terdampak, mengalami penurunan penghasilan pesat.

Ahmad, salah satu pedagang kaki lima (PKL) di pinggiran Jalan KH Agus Salim Semarang mengatakan, selama pandemi Covid-19 merasakan besarnya imbas. Bahkan dirinya tidak menyangka pandemi Covid-19 awet bertahan sampai sekarang, dengan usia satu tahun.

Dirinya mengaku, lapaknya mengalami penurunan dari segi pengunjung yang secara langsung dengan omzet yang diterima dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Penghasilan anjlok drastis, wes nggak umum Covid ini. Sekarang dapat kotor Rp 200 ribu/hari sudah bersyukur,” aku Ahmad kepada halosemarang.id, Jumat (5/2/2021).

Pria yang berjualan kaos kaki dan sarung tangan ini menyampaikan, penurunan omzet yang dialaminya mencapai 50 persen. Biasanya, sebelum pandemi Covid-19 dirinya mendapatkan penghasilan kotor rata-rata Rp 500 ribu setiap hari.

Ahmad menyadari, bahwa kondisi saat ini tidak mudah untuk diandalkan. Akan tetapi, dirinya tidak dapat berbuat lebih selain meneruskan lapaknya dan tetap berusaha.

“Saya hanya jualan saja, sampai sekarang tidak dapat bantuan dari pemerintah. Sudah daftar ya hasilnya tidak tahu,” tutur Ahmad.

Informasi bantuan dari pemerintah selama pandemi Covid-19, dirinya sudah mendaftar sebagai penerima. Namun belum pernah sampai ke tangan Ahmad.

“Bantuan yang katanya Rp 600 ribu tidak dapat, Rp 2,4 juta juga tidak dapat. Isinya sabar menghadapi. Ya pagebluk ini semoga cepat selesai,” tutupnya.

Pandemi Berlalu
Di kesempatan berbeda, halosemarang menemui pengusaha Warung Makan Tegal (Warteg) di Jalan Gajah, Kota Semarang. Fadil yang mengaku sudah lima tahun mendirikan usahanya mengaku sangat terdampak pandemi.

Senada dengan Ahmad, pendapatannya menurun drastis selama pandemi Covid-19. Bahkan, dirinya tidak menyadari wabah ini menginjak satu tahun di Indonesia.

“Menurun, apalagi di Semarang itu kalau tidak ada anak kuliahan ya mempengaruhi juga. Mungkin semua Warteg mengalami hal yang sama,” tutur Fadil, Jumat (5/3/2021).

Fadil mengatakan, pendapatannya menurun sekitar 25 persen selama pandemi Covid-19. Dirinya enggan menyebutkan nominal yang didapatkan.

Dirinya menyebut sesama pengusaha Warteg di Kota Semarang sebagian memilih menutup warungnya. Karena letaknya berada di kawasan kampus yang notabene pembelinya adalah mahasiswa.

Sementara kampus-kampus meniadakan kuliah tatap muka.

Pria asal Kabupaten Brebes ini menyampaikan, dirinya tidak melirik bantuan yang akan diberikan oleh pemerintah. Menurutnya, bantuan dari pemerintah tidak dapat diharapkan.

“Malas saya cari bantuan, lebih enak usaha sendiri untuk mendapatkan penghasilan. Nanti malah ketergantungan,” imbuh bapak satu anak ini.

Di Kota Semarang, dirinya menginjak lima tahun dalam menjalankan usaha bersama sang istri.

Perihal kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan-kegiatan masyarakat, dirinya mengaku juga berdampak pada operasional Wartegnya.

“Biasanya dini hari baru tutup, sekarang tutup lebih awal pukul 22.00,” terang Fadil.

Fadil berpendirian, jika menaati peraturan nantinya akan aman dan nyaman untuk selanjutnya. Selain itu, Fadil juga memegang teguh peribahasa ikuti arus yang mengalir.

“Harapan semua orang pasti sama kayak saya. Ya intinya pandemi segera berlalu,” pungkasnya.(HS)

Share This

BKKBN Apresiasi Penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi, dan Stunting di Kota Semarang

Karya Zaenul Muttaqin, Berhasil Memenangkan Lomba Kreasi Video Tentang Kendal