in

Seni Pertunjukan Daring, Antara Tuntutan dan Penyesuaian

CongRock 17 saat menggelar konser secara daring.

 

DUNIA seni pertunjukan dituntut beradaptasi dengan situasi pandemi Covid-19. Kondisi itu, seakan membuat pelaku atau seniman pertunjukan baik musik, tari, dan teater menjadi buyar.

Mereka dipaksa kreatif dan belajar hal baru untuk keberlangsungan nyawa kesenian.

Seiring berjalannya waktu, seniman mulai beralih menggunakan panggung dalam jaringan atau daring. Kreatifitas seniman bermunculan dengan beragam bentuk menghadirkan pertunjukan daring.

Namun, terdapat persoalan perihal pertunjukan daring menggantikan pertunjukan secara luar jaringan atau luring. Pro dan kontra terhadap problematika tersebut sampai saat ini masih bertahan. Di sisi lain, di luar status pandemi Covid-19, perkembangan kesenian menuju digitalisasi telah banyak dikampanyekan.

“Saya tidak melihat sesuai dan tidaknya, yang penting sebuah karya itu bisa dilontarkan kepada masyarakat. Sehingga melalui apa saja itu sah kemudian kita harus puas,” tutur Marco Manardi punggawa kelompok keroncong CongRock17 kepada halosemarang.id, Sabtu (20/7/2021).

Marco menyebut, kondisi saat ini harus menjadi semangat dalam melahirkan sebuah karya. Dirinya merasa tidak terpaksa oleh keadaan beralih menuju pertunjukan daring. Baginya, pertunjukan melalui daring hanyalah perubahan persoalan teknis saja, namun belum untuk mencari kepuasan.

“Waktu itu hanya dengan televisi tidak ada audience dan sorak sorai, bagaimanapun kita harus bisa menciptakan entertain jadi orang seakan-akan menonton (langsung-red),” kenang Marco.

“Di saat seperti ini kreativitas sangat dibutuhkan. Kalau mencari kepuasan yang wah belum mungkin, karena barang baru. Keuntungannya yang biasa tampil di acara televisi menjadi tidak canggung,” imbuhnya.

Menurutnya, jika tidak segera beralih pada pertunjukan secara daring sebagai cara penyebaran karya, maka perkembangan menuju digitalisasi akan terhambat. Seniman, lanjut Marco, harus tetap bergerak tidak memandang situasi.

“Rugi dan sangat rugi sekali kalau kita tidak mau beradaptasi dengan kondisi yang ada. Bahwa orang yang tidak mau beradaptasi dengan kekinian, akan hancur kalau tidak menyadari. Itu repot,” ujar tokoh keroncong Kota Lumpia ini.

Berbeda dengan Marco, Imam Putre satu di antara musisi di Kota Semarang menyebut, permasalahan untuk menggelar pertunjukan secara daring datang di kala terjangan virus asal Wuhan Tiongkok ini. Menurutnya, pertunjukan secara daring tetap tidak bisa disamakan dengan pertunjukan luring.

“Permasalahannya terhitung sejak ditetapkannya status pandemi. Kita dihadapkan dengan dilema, jadi mau tidak mau harus setuju. Kalau disuruh memilih, saya tetap tidak setuju. Cuma mau gimana lagi. Membicarakan masalah pertunjukan daring merupakan wacana baru,” ujarnya.

Imam menuturkan, paksaan menuju pertunjukan daring seakan belum bisa terhubung dengan publik seperti pertunjukan luring. Kendati demikian, eksplorasi yang segar harus terus dimunculkan di tengah kondisi sulit ini.

“Dalam keadaan apapun setiap pelaku seni harus terus berjalan. Okelah kalau sekarang gelar langsung belum bisa, tapi sisi lain kita tetap membuat karya,” tutur pria berambut gondrong itu.

Pelaku Digital

Pergeseran kesenian dalam bentuk digital saat ini menjadi bagian yang diterima oleh masyarakat atas paksaan keadaan. Masyarakat nampak mulai sedikit menikmati karya-karya seniman lewat ruang digital yang tidak ada batas untuk mengaksesnya.

“Kalau saya sebagai penikmat musik melihat media daring cukup untuk menikmati karya-karyanya. Tetapi rasanya emang kurang untuk dinikmati,” kata satu di antara penikmat musik yang mengaku bernama Anwar Fuadi.

Pria yang biasa disapa Fuad ini merasa, interaksi antara seniman dengan penonton pada media daring jauh berbeda dengan pertunjukan yang digelar secara luring. Ia merindukan digelarnya sebuah pertunjukan luring.

“Saya sangat rindu sekali dengan adanya konser musik. Yang dirindukan adalah kumpul teman-teman, kita bisa interaksi sama band yang performance, itu adalah pengalaman yang super tersalurkan daripada daring. Kalau daring hanya sekadar nonton video,” ucap penggemar The Beatles ini.

Pengamat seni pertunjukan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ibnu Amar Muchsin mengungkapkan, bahwa saat ini tidak ada pilihan lain. Seniman diharuskan melahirkan karya dengan menyesuaikan situasi. Menurutnya, permasalahan sekarang yaitu mencari solusi dan alternatif untuk mewujudkan inovasi.

“Pertunjukan daring itu sebetulnya sebelum ada pandemi sudah biasa dilakukan, mungkin semacam pertunjukan langsung ada penontonnya dan disiarkan melalui televisi maupun media sosial,” tutur pria kelahiran Banjarnegara ini.

Menurutnya saat ini sudah waktunya para seniman terjun secara total dalam dunia digital. Terdapat banyak manfaat jika pertunjukan daring diterapkan. Meskipun dengan kondisi terbatas jauh sebelum pandemi datang.

Karya yang disampaikan melalui daring, lanjutnya, merupakan aset yang harus diperhatikan. Kesempatan tersebut harus dimanfaatkan para seniman supaya tidak menjadi budak digital, melainkan menjadi pelaku digital. Hal ini akan menjadikan terkoneksinya karya-karya yang diterima masyarakat melalui digital membuat Indonesia menjadi semakin maju.

“Digitalisasi itu sebuah keniscayaan, kita tidak bisa menolak. Tapi jangan sampai kita menjadi budak digital itu. Kita harus menjadi manusia yang seutuhnya dengan tetap berkreativitas, produktif kita manfaatkan digital itu. Kita selalu mencari alternatif-alternatif,” tandasnya.(HS)

Share This

Dixon Gantikan Posisi Morbidelli

Inilah Dua Pelatih Paling Boros