Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Sendang Mintoloyo di TBRS Semarang, Menyimpan Banyak Cerita Tapi Malah Tak Terurus

Sendang Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang masih digunakan untuk kebutuhan air di beberapa warung, Jalan Sriwijaya.

 

KEBERADAAN sendang dan mata air di banyak kota besar, yang semula digunakan untuk suplai kebutuhan air bagi warga sekitar lambat laun terkikis oleh pembangunan yang tanpa memperhatikan dampak lingkungan.  Hal ini menyebabkan sejumlah sendang mati kehilangan sunber air dan akhirnya terbengkalai. Sehingga sendang-sedang mata air tersebut, kini hanya menyisakan riwayat dan cerutanya.

Padahal dalam perjalanan peradaban manusia, sendang dan sungai memiliki filosofi sumber panguripan (sumber kehidupan) yang melambangkan kemakmuran bagi warga sekitar. Maka masyarakat dulu, mengenal istilah tradisi ritual seperti sedekah bumi, nyadran selametan, dan lain-lain.

Di Kota Semarang, khususnya di sekitar Genuk Krajan, Peleburan, dan Wonodri ada beberapa sendang dan sumber mata air yang dimanfaatkan oleh warga. Namun di tengah kemajuan pembangunan, sendang-sendang itu kini terancam mati sumber airnya. Padahal selama ini, mata air itu sudah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat sekitar untuk pemenuhan air bersih.

Salah satunya adalah Sendang Mintoloyo atau dikenal masyarakat dengan sebutan Sendang TBRS, karena lokasinya memang berada di dalam kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Belum banyak yang tahu tentang keberadaan sendang ini. Lokasinya berada paling pojok, berdekatan dengan makam Mbah Mintoloyo, dikelilingi permukiman warga dan gedung Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Tengah, serta taman permainan Wonderia Semarang, di Jalan Sriwijaya.

Setelah beberapa kali menjadi pusat kegiatan, Sendang Mintoloyo di dalam komplek TBRS kini memang semakin banyak dikenal. Namun, saat halosemarang.id berkunjung ke TBRS, sumber mata air itu terlihat agak kurang terawat, karena selama satu tahun ini, belum ada kegiatan bersih sendang.

Rumput dan dedaunan yang gugur dari tumbuhan liar mulai terlihat menumpuk di beberapa sudut. Lampu sorot yang dipasang untuk penerangan juga nampak jaringan listriknya mati. Padahal, jika ditata sedemikian rupa, suasana di sekitar sendang itu akan terasa nyaman, dengan ditumbuhi dua pohon beringin besar.

Menengok lebih dalam sendang ini, keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari empat makam di sekitarnya. Paling dekat adalah makam Mbah Mintoloyo yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter. Kemudian makam Mbah Balal di belakang Gedung Wanita, dan Mbah Kliwon di dalam komplek Wonderia. Selain Mbah Kliwon, di dalam kompleks Wonderia juga ada dua makam lagi yang dikenal sebagai makam pasangan suami isteri Mbah Genuk.

“Mbah Genuk ini, menurut cerita dari turun-temurun orang tua dulu, yang membuka daerah sini. Ceritanya masih satu era dengan Ki Ageng Pandanaran,” kata Antok Galon, salah seorang warga setempat, yang juga keturunan dari juru kunci makam Mbah Genuk, saat ditemui di sekitar sendang, Jumat (2/8/2019).

Antok, yang sejak kecil hingga dewasa hidup di wilayah Genuk Krajan itu menuturkan, dari ceritanya, konon Mbah Genuk semasa hidup merupakan tokoh masyarakat yang disegani. “Bahkan dari cerita orang-orang, banyak cerita supranatural soal Mbah Genuk ini. Konon bisa menurunkan hujan es saat dikepung musuh melawan Belanda karena doanya,” katanya.

Beberapa tahun silam, masyarakat sekitar masih kerap melakukan ritual wayangan dan sebagainya. Ubo rampe yang disiapkan untuk “bancaan”, di antaranya ingkung dan ikan panggang.

“Ubo rampe tersebut, ibu saya dulu yang masak. Khususnya saat ada acara wayang kulit di sini,” imbuhnya.

 

Suasana makam Mbah Mintoloyo yang ada di dekat sendang Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Setelah adanya penebangan beberapa pohon besar yang dilakukan oleh PT Guci sekitar tahun 1990an, suasana alam di sekitar TBRS menurutnya mulai mengalami perubahan. Padahal kalau tidak ada penebangan, tempat ini bisa jadi hutan lindung atau hutan kota.

“Dulu banyak pejabat nyekar di makam Mbah Genuk. Sendangnya sering dipakai mandi anak-anak. Sejak ada pembangunan rumah pompa, dan pembangunan Wonderia Semarang pada tahun 2000-an, kolam itu terus ditutup. Kini semuanya kenangan itu hilang,” ujarnya.

Didik Untung Suwito (64) petugas kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, mengatakan, dulu warga selalu nanggap wayang kulit di sekitar Sendang Mintoloyo rutin setahun sekali.

“Biasanya tanggal 10 Sasi Apit (bulan Jawa) ada wayangan di sini,” katanya.

Karena ajaran Mbah Genuk lah, Didik mewakafkan 18 tahun waktunya untuk merawat TBRS ini. “Dulu hutannya lebat sekali, tahun 1996 habis semua ditebang perusahaan PT Guci. Sebelum itu wilayah sini juga sempat jadi kebon binatang. Saat itu tanaman masih banyak dan asri. Setelah terlantar saya dan warga sini berinsiatif menanami lagi sehingga jadi hijau lagi,” katanya.

Menurut Didik, Sendang Mintoloyo dulu luasnya kira-kira seratus meter persegi. Airnya yang melimpah dan bening menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari warga Genuk Sari, Genuk Krajan, dan Genuk Baru, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari.

Wali Kota Semarang kala itu, Iman Suparto bahkan memanfaatkan air sendang untuk memenuhi kebutuhan air Pekan Raya dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah tahun 1981. Sebentuk bangunan pompa air yang masih berdiri hingga sekarang memiliki artefak yang menerangkan sendang berdebit 4 liter perdetik itu.

Sementara, Widyo Babahe, seniman yang aktif di TBRS mengatakan, untuk melestarikan tradisi di sekitar Sendang Mintoloyo ini, pihaknya akan menggelar acara rutin setiap tanggal 1 Syuro, dengan rangkaian kegiatan performance dari para seniman dan pegiat seni. Dirinya juga mempersilahkan jika ada warga yang ingin mandi tengah malam atau tradisi padhusan, biasanya pukul 12 tengah malam.

“Air di sendang ini dipercayai orang membawa berkah sehingga banyak orang dari luar daerah yang datang hanya ingin mencari dan membawa pulang air dari sini. Tahun ini kali yang keempat acara digelar di sendang, nanti akan ada acara bancakan, tumpengan. Tujuannya tidak lain untuk melestarikan tradisi dan sekaligus menjaga lingkungan agar tidak rusak,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang