in

Sempat Jadi Loper Koran, Kini Sukses Raih Gelar Doktor

Dosen STIE Semarang, Dr Rokhmad Budiyono S.Pd, MM.

 

AIR itu lembut, tapi akan terlihat keras ketika tetesannya membelah batu. Pepatah itulah kiranya menggambarkan prinsip perjuangan dari dosen STIE Semarang yang kini berhasil meraih gelar doktor di Program Studi Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula).

Untuk mencapai gelar S3 ini, tidak sedikit rintangan. Bahkan, harus dimulai dari bawah, yakni pernah menjalani professi sebagai loper koran. Meski dengan keterbatasan ini, tidak membuat dirinya patah arang.

Saat datang ke Semarang tahun 1988, dia mulai mencari orang tua asuh untuk makan dan menumpang tempat tinggal. Untuk biaya kuliah, dia bekerja sebagai loper koran.

“Awalnya saya jadi tukang loper koran. Sampai sekitar tahun 1990, saya mengantarkan koran untuk pelanggan setia. Salah satu area yang saya lewati waktu itu yakni Jalan Raden Patah, dan Jalan Kaligawe (Kampus Unissula) ini,” ucap pria kelahiran Suruh, Kabupaten Semarang, April 1969 itu saat memberikan sambutannya, dengan menitikkan air mata usai pengumuman kelulusan Doktornya di Unissula, baru-baru ini.

Dia juga bercerita pengalamannya, saat mengantarkan koran di Unissula, dirinya ditemui Kepala Humas saat itu, Djawahir Muhammad.

“Saat itu saya mengantarkan koran dengan naik sepeda sampai melewati rute di Jalan Kaligawe (Kampus Unissula ini). Tiap hari saya lakukan hal ini demi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya kuliah saya di Unnes,” kenang pria yang hobi jalan-jalan menikmati alam ini.

Sambil menjadi loper koran, saat itu dirinya menemui dosen pengampu pertama saat mulai masuk kuliah, dengan membantu pekerjaan rumah tangga dosen.

Proses ini dilalui, dengan tekad yang kuat itu, akhirnya pada tahun 1993, dirinya bisa menyelesaikan lulus S1-nya yakni dari Program Pendidikan Ekonomi Unnes.

“Ini jadi modal saya untuk jadi staf pemasaran Koran Sore Wawasan kala itu. Pada tahun 2005, saya pernah jadi Kepala Pemasaran Koran Sore Wawasan, sambil melanjutkan kuliah S2.

Memang ambil S2 karena terpaksa saat itu saya ingin jadi dosen, dan melamar ke beberapa perguruan tinggi, tapi ditolak sebab ijazah S1 saya tidak linier,” terang empat orang anak ini.

“Kemudian, tahun 2012 dirinya memutuskan resign dari Koran Sore Wawasan untuk menjadi pengawas pemilu.

“Saya jalani hingga tahun 2014. Kemudian tahun 2015 jadi dosen STIE Semarang. Sebelumnya, saya melamar jadi marketing STIE Semarang, Alhamdulillah namun dipercaya untuk mengajar sebagai dosen,” papar pria yang kini tinggal di daerah Tembalang tersebut.

Di STIE Semarang, tahun 2015 dirinya menjabat Sekretaris LPPM di kampusnya.

“Setahun kemudian, tepatnya tahun 2016 saya menjadi Ketua Prodi Managemen dan sekaligus Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sampai sekarang ini,” pungkas Alumnus SMA 1 Salatiga.(HS)

Share This

Kota Semarang Terima 400 Tabung Oksigen Gratis dari Kadin Indonesia

Piknik ke Jateng Tanpa Izin, Ganjar Tegur Rina Nose dan Fero Walandouw