Selamat Pulang Kampung Corina

Harimau betina Corina. (Tangkapan layar Youtube Yayasan ARSARI Djojohadikusumo)

 

HALO SEMARANG – Corina, seekor kucing besar yang masuk dalam spesies Panthera tigris sumatrae, kini menempati rumah barunya di hutan alam Semenanjung Kampar, Riau.

Harimau sumatera yang merupakan warga hutan hutan Pelalawan ini, 29 Maret 2020 ini dievakuasi oleh Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, dari kawasan hutan tanaman industri milik sebuah perusahaan di Kabupaten Pelalawan.

Saat diselamatkan, dia nyaris mati. Tubuhnya lemas. Salah satu kakinya luka parah akibat terjebak jerat baja. Nyaris tak dapat digerakkan. Dari hasil pemeriksaan, dia juga menderita anemia dan laserasi.

Beberapa hari dia berjuang sendiri melepaskan jerat itu, di tengah belantara kawasan hutan tanaman industri, di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Beruntung kemudian keberadaan harimau betina berusia tiga tahun ini, diketahui oleh serombongan orang yang menyelamatkannya. Oleh tim BBKSDA, dia kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasraya (PRHSD), Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatra Barat, melalui perjalanan darat selama 19 jam.

Saat itu, seluruh dunia baru mulai berperang melawan virus corona. Namun para petugas BKSDA tetap berupaya memberikan pertolongan terbaik untuk Corina. Upaya serupa juga dilakukan para petugas di PRHSD, di bawah Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (YAD).

Dalam tulisan yang dirilis oleh situs resmi Pemerintah Indonesia, Indonesia.go.id, Sabtu (2/1), dikisahkan pada bulan-bulan pertama di dalam PRHSD, Corina dirawat secara intensif dalam kandang karantina. Hal ini membantunya berjuang agar tetap bertahan hidup.

Selain pengobatan dari tim, Corina juga berusaha melakukan penyembuhan diri dengan cara menjilati lukanya. Luka jerat pada harimau, memang tak semuanya bisa disembuhkan.

Dalam berbagai kasus, tak jarang kaki mereka harus diamputasi. Namun Corina termasuk beruntung, karena tak perlu mengalami semua itu. Berangsur-angsung kakinya sembuh. Meski awalnya terpincang-pincang, karnivora ini akhirnya dapat berjalan seperti semula.

Selama delapan bulan masa pemulihan, Corina tinggal di PRHSD, sebuah pusat rehabilitasi.

Dia bahkan mendapat perlakukan istemewa. Kandangnya diberi lampu untuk penghangat, serta diberi penutup untuk mengusir hawa dingin di kawasan PRHSD.

Setiap hari kesehatannya juga dipantau oleh tim khusus, yang dipimpin Saruedi Simamora, dokter hewan dari PRHSD.

Ternyata, anggota keluarga sang raja hutan ini, mampu beradaptasi dengan baik. Corina senang berendam di bak air yang telah dipersiapkan di dalam kandang. Di alam bebas, keluarga raja hutan ini memang suka berada di dekat sumber air.

Ketika dipindahkan ke kandang enklosur untuk diobservasi perilaku dan kemampuannya dalam menangkap mangsa, Corina juga dapat cepat beradaptasi.

Proses pemulihan berjalan sesuai rencana. Badannya sehat dan bugar dan beratnya mencapai 89 kilogram. Insting berburu Corina pun perlahan pulih. Sifat liar Corina mulai muncul kembali.

Rumah Baru

Selagi Corina menjalani masa pemulihan, satu tim lainnya dipimpin Satyawan Pudyatmoko dari Universitas Gajah Mada, mulai memantau hutan bakal rumah baru bagi Corina.

Harimau merupakan satwa penjelajah di mana setiap satu individu memerlukan ruang jelajah seluas 10.000 hektare. Berdasarkan data Population Viability Analysis (PVA) disebutkan bahwa hingga 2018, populasi harimau sumatra di alam tidak lebih dari 600 ekor.

Bersama timnya, guru besar ilmu kehutanan Fakultas Kehutanan UGM ini melakukan observasi dan evaluasi terhadap wilayah hutan hujan di sebagian Sumatra yang cocok sebagai rumah baru Corina. Tak kurang dari 700 ribu hektare lahan hutan sudah mereka pantau kelayakannya sebelum dimasuki lagi oleh Corina.

Kajian habitat yang dilakukan tim Satyawan meliputi aspek ketersediaan satwa mangsa bagi Corina, dukungan ekologi, sumber air yang cukup serta aspek sosial masyarakat dan aspek hutan endemik bagi harimau sumatra.

Akhirnya, sebuah kawasan sejuk di hutan alam Semenanjung Kampar, Riau dipilih sebagai rumah baru baginya. Lokasi dinilai cocok, karena memiliki cukup sumber pakan dan tutupan vegetasi masih alami.

Hari yang dinanti itu pun tiba. Pada Minggu (20/12/2020) sebuah kandang baja telah dipersiapkan untuk membawanya menuju rumah baru.

Kali ini, dia juga tak perlu menempuh perjalanan darat yang lama dan melelahkan untuk pulang. Sebuah helikopter telah disiapkan untuk membawanya pulang.

Bukan cuma itu, perempuan ini juga mendapat sebuah kalung canggih, bernama GPS Collar. Alat berbasis satelit ini, membantu orang-orang yang telah menolongnya, untuk terus memantau pergerakannya di alam liar selama 24 jam.

Pemantauannya dilakukan melalui aplikasi Africa Wildlife Tracking (AWT), dengan umur baterai hingga dua tahun. Pada Oktober 2022, ketika baterai ini sudah habis masa pakainya, alat tersebut akan lepas secara otomatis.

Menurut Kepala BKSDA Riau, Suharyono, Corina adalah harimau sumatra keempat yang dilepasliarkan dari PRHSD. Pihaknya dulu membawa Corina ke PRHSD, karena lembaga itu memiliki prestasi yang baik dalam penyelamatan satwa liar.

Sebelum Coreina, PRHSD juga telah menyelamatkan dan melepas liarkan Bonita, Atan Bintang, dan Bujang Ribut.

Sementara itu menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup Wiratno, selain berharap bahwa Corina bisa berkembang dengan baik di habitat barunya, pelepasliaran ini merupakan upaya konservasi pemerintah untuk terus menjaga kelestarian satwa endemik Pulau Sumatra ini.

Selama kurun 2016-2020 pemerintah telah beberapa kali melakukan upaya penyelamatan harimau-harimau sumatra yang terjebak jerat baja. Pada 2020, selain Corina ada harimau bernama Enim yang terjerat di Muara Enim, Sumatra Selatan, pada 21 Januari 2020.

Ia saat ini menjalani rehabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), sebuah pusat konservasi alam seluas 45.000 ha di Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Tak hanya Enim yang berhasil diselamatkan pada awal 2020. Masih ada Dara, seekor harimau sumatra betina yang nyaris mati karena terjerat perangkap pemburu liar di kawasan hutan di Kota Subulussalam, Aceh, 6 Maret 2020.

Berikutnya ada Batua, harimau sumatra yang terjerat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung pada 2 Juli 2019. Ia masih menjalani perawatan di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung. Seekor harimau sumatra yang dinamai Sopi Rantang ikut diselamatkan di Kabupaten Agam, Sumbar pada 18 April 2018.

Beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada 28 Agustus 2018, lagi-lagi seekor harimau sumatra jantan, Bujang Ribut, ditemukan terjerat di Lubuk Kilangan, Padang, Sumbar.

Dalam kesempatan terpisah, seperti dirilis situs resmi yad.or,id, Ketua Yayasan ARSARI Djojohadikusumo (YAD) dan pendiri PRHSD, Hasyim Djojohadikusumo, menyampaikan keprihatinannya terhadap pemburu dan jerat yang mengancam kelangsungan hidup harimau sumatera. “Kami sangat sedih karena sebagian besar masyarakat masih belum menyadari pentingnya pelestarian satwa liar, terutama yang akan punah jika hal ini terus berlanjut,” tandasnya.

Ia pun mengapresiasi kerja petugas KSDA Riau yang terus berkarya meski di tengah pandemi virus corona. “Kami mengirimkan bantuan dalam bentuk vitamin untuk membantu peningkatan imunitas bagi 200 petugas KSDA Riau yang saat ini bekerja di pelosok daerah,” tutup Hasyim. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.