in

Selama Pandemi, Permintaan Jahe Merah Meningkat

Petani jahe merah, Sigit Purnama menunjukkan hasil panennya di kebunnya.

 

HALO SEMARANG – Meningkatnya konsumsi masyarakat terutama terhadap minuman herbal yang dianggap mampu meningkatkan imunitas tubuh, sekaligus penangkal virus corona di tengah pandemi covid-19 ternyata membuat permintaan komoditas jahe merah kembali tinggi.

Salah-satu petani jahe merah, Sigit Purnama mengakui jika sekarang ini, ada peningkatan permintaan jahe merah dari pedagang maupun masyarakat umum. Sudah mulai tinggi, hingga dua kali lipatnya, dibanding sebulan sebelumnya. “Dalam dua minggu terakhir ini, saya sudah menjual sekitar dua kuintal jahe merah,” katanya, Minggu (25/7/2021).

Dikatakan, peningkatan permintaan jahe merah tersebut turut berimbas pada harga jual, yang saat ini di kisaran Rp 25 ribu per kilogram.

“Saya jual ke konsumen atau pedagang Rp 25 ribu per kilogram, nanti mereka biasanya menjual lagi ke pasaran Rp 35 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Sigit menjelaskan, harga tersebut relatif rendah, dibandingkan saat awal pandemi Covid-19 melanda. Kala itu, harga jahe merah tembus Rp 60 ribu per kilogram di tingkat petani. Sementara di pasaran, bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram.

“Sekarang stok banyak, jadi harga relatif stabil. Soalnya dulu sewaktu harga naik, banyak yang kemudian menanam jahe merah. Akibatnya panen melimpah, harga jual malah anjlok. Jadi sekitar Rp 7 ribu per kilogram. Itu sekitar 3-4 bulan lalu,” imbuhnya.

Dijelaskan, permintaan jahe merah sekarang tidak hanya datang dari wilayah Kota Semarang, namun juga daerah sekitarnya seperti Jepara, Pati, Kudus, yang juga menjadi zona merah Covid-19.

“Permintaan dari luar kota banyak. Untuk mencukupinya, kalau misal kekurangan ya saya ambil dari petani lainnya. Jadi bisa saling mendukung karena stok masih melimpah,” tandasnya.

Di satu sisi, tingginya permintaan jahe merah, turut berimbas pada produktivitas jenis jahe lainnya, seperti jahe emprit dan gajah.

“Ya karena permintaan yang tinggi jenis jahe merah, banyak petani yang beralih menanam jenis jahe tersebut. Akibatnya stok jahe emprit, yang selama ini digunakan untuk minuman jahe di angkringan, atau jahe gajah yang untuk bumbu dapur jadi berkurang,” ungkapnya.

Jika hal ini tidak diatasi, bisa jadi harga kedua jenis jahe tersebut, bisa naik karena stok berkurang namun produksi tidak bertambah.

Sementara, salah seorang konsumen jahe merah, Hani mengatakan lebih suka minuman herbal menggunakan jahe merah karena lebih berkhasiat dan juga lebih terasa hangat saat meminumnya. Meski harganya memang lebih mahal, jahe merah tetap diburu pecinta wedang rempah.

“Biasanya minuman herbal ya seminggu 2-3 kali, saat merasakan tubuh mulai drop atau agak capek. Kadang dicampur serai dan madu,” terangnya.

Apalagi kondisi pandemi sekarang ini semakin ganas, dengan adanya varian delta dan lainnya. “Satu-satunya cara untuk membentengi diri, ya dengan penerapan prokes, imunisasi dan memperkuat imun tubuh. Salah satunya dengan rutin mengkonsumsi minuman jahe merah ini,” imbuhnya.

Saat wedangan, waktunya kadang sore atau malam hari, sambil istirahat.

“Jadi biar badan rileks, imun tubuh semakin bertambah,” pungkasnya.(HS)

Share This

Semua Pintu Exit Tol Jateng Dibuka Kembali

Jokowi Umumkan PPKM Level 4 Diperpanjang Hingga 2 Agustus