Sekolah di Jateng Siap Sambut Pembelajaran Tatap Muka

Gubernur Ganjar Pranowo meninjau praktik siswa dalam simulasi pembelajaran tatap muka di SMK 1 Salatiga, Rabu (17/3). (Foto : Humas Jateng)

 

HALO SALATIGA – Sekolah di Jawa Tengah, siap menyambut pembelajaran tatap muka. Seperti yang dilakukan di sejumlah sekolah dari berbagai tingkatan di Kota Salatiga, Rabu (17/3).

Di antara sekolah yang menyatakan kesiapannya menghadapi pembelajaran tatap muka, adalah SMA 2 Salatiga, SMK 1 Salatiga, SMP 6 Salatiga dan SDN Dukuh 01 Salatiga.

Kepala SMK 1 Salatiga, Sriyanto, mengatakan pihaknya telah melakukan persiapan menghadapi pembelajaran tatap muka. Seperti menyiapkan sarana dan prasarananya, hand sanitizer, pensterilan alat dan ruang praktik, hingga pengaturan jarak dan tempat duduk siswa.

“Kami juga menyiapkan Satgas Covid-19 tingkat sekolah. Jadi ada satgas yang memantau bagaimana anak, bagaimana guru, kepatuhannya terhadap protokol kesehatannya,” kata Sriyanto, ditemui di SMK 1 Salatiga, Jalan Nakula Sadewa Salatiga.

Gubernur Ganjar Pranowo memberikan keterangan kepada awak media, saat berkunjung ke SDN Dukuh 1 Kota Salatiga, untuk meninjau simulasi pembelajaran tatap muka di sekolah itu. Rabu (17/3). (Foto : Humas Jateng)

 

Dia menambahkan, pihak sekolah juga memastikan kesiapan orang tua siswa berikut siswanya. Sehingga siswa tidak sembarangan mampir, serta tidak menggunakan alat transportasi umum saat berangkat atau pulang sekolah. Termasuk juga agar siswa bisa diantar orang tua ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi.

Kaitannya dengan transportasi siswa, pihaknya juga tidak menutup kemungkinan, bekerja sama dengan dinas perhubungan setempat untuk menyiapkan kendaraan ke sekolah. “Yang perlu dijaga tidak boleh mampir, bergerombol, terutama sesudah pulang sekolah,” tegasnya.

Pihaknya juga menyiapkan kurikulum terpadu yakni ada pembelajaran yang tatap muka, atau juga belajar melalui daring. Pembelajaran daring tetap dilakukan sehingga tidak melulu tatap muka.

Menurut dia, pembelajaran tatap muka akan dilakukan seefektif mungkin. Misalnya, sekolah tatap muka tidak perlu dilakukan seharian penuh dari pukul 07.00-15.00 WIB. “Bisa mengurangi kerumunan dalam waktu relatif panjang,” ungkapnya.

Sriyanto juga meminta kerja sama semua pihak, termasuk orang tua dan masyarakat agar mendukung praktik pembelajaran tatap muka siswa. “Agar tujuan supaya tidak tertular Covid bisa tercapai,” imbuh dia.

Gubernur Ganjar Pranowo berdialog dengan siswa, saat meninjau simulasi pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah di Kota Salatiga. Rabu (17/3). (Foto : Humas Jateng)

Adapun kaitannya pembatasan siswa selama belajar tatap muka berlangsung, sekolah masih menunggu regulasi. Namun dia berharap, jumlah siswa hendaknya hanya 50 persen dari kapasitas kelas secara bergantian. Dengan total siswa saat ini 1.391 dengan 41 rombel.

SMK 1 Salatiga juga berupaya keras mempertahankan diri sebagai sekolah dengan zona hijau. Setelah arahan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk meningkatkan kedisiplinan para guru terhadap protokol kesehatan.

“Sehingga yang sudah dicapai ini malah meninggalkan disiplin, aehingga akhirnya malah berbalik SMK 1 menjadi bagian area yang terpapar Covid,” kata dia.

Gubernur Ganjar Pranowo berdialog dengan siswa, saat meninjau simulasi pembelajaran tatap muka di sejumlah sekolah di Kota Salatiga. Rabu (17/3). (Foto : Humas Jateng)

 

 

Seorang siswa SMKN 1 Salatiga, Bunga Nuraziza menyambut baik rencana pembelajaran tatap muka. Mengingat jurusan sekolahnya yaitu Kecantikan, membutuhkan praktik langsung.

“Bidang kita itu lebih ke ketrampilannya. Kita butuh praktik untuk menguasai materi,” kata Bunga ditemui tengah praktik di Laboratorium Kecantikan.

Kepala SMA 2 Salatiga Muhammad Sahli mengatakan menghadapi sekolah tatap muka pihaknya menyiapkan Satgas Covid-19 dan protokol kesehatan. Termasuk juga, pihaknya menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk penanganan antisipasi Covid-19.

“Prosedur, petugas, juga kita siapkan dengan sangat ketat agar nanti pelaksanaan tatap muka berjalan sebagaimana yang direncanakan,” kata Sahli di sekolahnya.

Menurutnya, sekolah akan berupaya keras menghindari penyebaran Covid-19. Kaitannya dengan jumlah siswa per kelas, Sahli telah merencanakan pembatasan jumlah siswa di setiap kelas dengan model sif. Yang mana jumlah siswa 1.066 orang akan diambil kelas X  di 11 kelas. Dari 11 kelas diambil 50 persennya untuk dimasukkan di 11 kelas.

“Dengan 50 persen kapasitas kelas. Begitu kita akan sif setiap hari, dengan dua kali sif,” ujarnya. Adapun pembagian sifnya per jamnya 3-4 jam per hari. Sehingga diperkirakan sif pertama pukul 07.00-11.00 WIB, dan sif 2 mulai pukul 12.00-15.00 WIB,” imbuhnya.

Sekolah juga memaksimalkan 58 tenaga pendidik yang bertugas di 11 rombel tadi. Seluruh guru dan karyawan sekolah sebanyak 73 orang telah menjalani tes Covid-19. “Semuanya dinyatakan negatif pada bulan Desember kemarin,” bebernya.

Sahli melanjutkan, rencana sekolah tatap muka juga telah mendapat persetujuan orang tua siswa sekitar 76 persen. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan polling lagi ke orang tua siswa untuk mengetahui data terbaru jumlah mereka yang setuju.

Sementara teknis protokol kesehatan, terangnya, sekolah telah menyiapkan disenfektan di pintu masuk. Kemudian, sarana cuci tangan sekitar 30 tempat, alat pengukur suhu badan 10 unit yang akan dipakai setiap kali ada guru atau siswa masuk ke sekolah. Mereka juga akan diingatkan terus agar tidak berkerumun antarsiswa.

“Kita kawal mulai dari pintu gerbang ke kelas masing-masing dan kita awasi sampai dengan pulang,” terang dia.

Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah V meliputi Kota Salatiga, Boyolali dan Klaten, Nasikin mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai sekolah menghadapi pembelajaran tatap muka. “Kalau di Cabdin ada 61 sekolah negeri dari SMA, SMK maupun SLB,” kata Nasikin di SMK N 1 Salatiga.

Adapun di tiap kabupaten yang menjadi wilayahnya, pihaknya menyiapkan enam sekolah di masing-masing daerah lebih dulu. Sedangkan teknis pembelajaran tatap mukanya akan seperti apa, pihaknya menunggu arahan dari pusat.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mengecek sejumlah sekolah di Kota Salatiga tampak mengecek kesiapan sekolah dalam menggelar pembelajaran tatap muka. “Kita mesti disiplin,” kata Ganjar saat pemantauan.

Hanya dari catatan tim asesor, penilaian sekolah yang melakukan uji coba belajar tatap muka harus 100 atau angka sempurna. “99,9 tidak boleh. Fasilitasnya, prosedurnya,” tegasnya.

Ganjar menegaskan agar guru harus disiplin protokol kesehatan. Sebab bila tak disiplin maka dinas pendidikan akan mengontrol langsung. Termasuk gubernur, hingga wali kotanya.

“Harapannya semua bisa pegang SOP nya, protokolnya,” harap Ganjar. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.