in

Sejarah Bisnis Togel Di Semarang, Dari Porkas, SDSB, Kuda Lari, Hingga HK dan SGP

Salah satu penjual judi togel di Semarang Barat yang kiosnya dibongkar Satpol PP Kota Semarang, pada Jumat (16/4/2021) malam lalu.

 

MASYARAKAT Kota Semarang dan sekitar tentu tak asing dengan istilah togel (toto gelap). Hampir di setiap sudut kota banyak sekali penjual kupon togel yang menjanjikan hadiah besar untuk angka tepat.

Tiap malam, sekitar pukul 20.00 hingga 23.00, kios-kios togel di Kota Semarang selalu dipenuhi para petaruh, baik muda, tua, lelaki, dan perempuan. Mereka asyik ngetoh (istilah meramal angka yang akan keluar) di bangku-bangku dengan dilengkapi rekapan keluaran hingga buku ramalan dan tafsir.

Pemandangan itu memang jamak terlihat di berbagai wilayah. Meski perjudian di Indonesia masih dianggap ilegal, tapi praktik judi togel di Kota Semarang terhitung aman dari jangkauan hukum.

Namun halosemarang.id tak berusaha untuk membahas masalah judi togel ini dari sudut pandang hukum. Kami berusaha menghadirkan cerita tentang sejarah dari waktu ke waktu, perjalanan bisnis judi togel di Kota Semarang dan sekitar. Mulai dari yang namanya masih Porkas, SDSB, Kuda Lari, hingga kini yang ngehits HK dan SGP.

Porkas (1980-an)

Porkas sendiri dianggap sebagai judi karena pada dasarnya adalah undian atau lotre berhadiah. Kendati begitu, pemerintahan Orde Baru kala itu, selalu menolaknya disebut sebagai judi. Porkas dipakai pemerintah untuk menggalang dana untuk membiayai penyelenggaraan olahraga terutama sepak bola.

Di tahun 1980-an, pemerintah mulai melegalkan penarikan dana dari masyarakat lewat kupon yang nantinya akan diundi pemenangnya untuk mendapatkan hadiah. Nama resmi undian dari pemerintah tersebut yakni Kupon Berhadiah Porkas Sepak Bola (KPBS).

Undian tersebut bahkan diperkenalkan langsung oleh Menteri Sosial saat itu, Nani Soedarsono. Porkas terbilang cukup sukses, dana besar yang terkumpul dari undian tersebut dipakai untuk membiayai kompetisi sepak bola Galatama yang dikelola PSSI. Skema undian Porkas yakni masyarakat membeli kupon berhadiah dan bertaruh pada 14 klub yang berkompetisi di Galatama.

Pembeli Porkas juga harus memilih tebakan hasil pertandingan yang terdiri dari menang-seri-kalah. Lalu pemerintah lewat PSSI dan KONI akan melakukan undian setiap seminggu sekali setelah 14 klub sudah seluruhnya bertanding. Kupon undian yang dipakai dalam Porkas disebut Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah atau KSOB.

Aturan pelegalan Porkas diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 1954 tentang Undian. Kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Sosial No BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985. Judi taruhan selama pertandingan sebenarnya sudah marak sejak lama dan termasuk kegiatan ilegal.

Pemerintah Orde Baru memanfaatkan undian Porkas untuk menggalang dana kompetisi dengan melegalkannya. Karena dianggap judi yang dilegalkan, undian Porkas juga menuai banyak kontroversi. Banyak masyarakat yang menentang undian ini. Namun pemerintah Orde Baru tak bergeming karena Porkas diklaim adalah undian, bukan dianggap sebagai judi.

Salah satu yang menentang undian yang juga dikenal dengan Sumbangan Olahraga Berhadiah (SOB) ini adalah MUI. MUI bahkan melayangkan surat resmi meminta Presiden Soeharto mengevaluasi kembali baik buruknya Porkas. Jangkauan bisnis ini pun sampai ke Semarang. Tak sedikit masyarakat di Semarang dan sekitar yang hobi untuk membeli kupon dengan harapan menang undian.

SDSB (1987-1990-an)

Setelah Porkas, era 1990an, muncul jenis judi baru yang juga dilegalkan pemerintah, namun masih dalam skema yang sama dengan Porkas. Hanya saja pemerintah mengganti nama Porkas menjadi TSSB (Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah), dan lalu berganti lagi menjadi SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).

Jenis togel ini dibentuk setelah Porkas dikecam pada pertengahan 1986 saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) menulis surat yang dilayangkan kepada pemerintah agar pelaksanaan porkas dievaluasi kembali. Porkas mempertaruhkan hasil menang-seri-kalah, sementara sumbangan olahraga berhadiah (SOB) ini mempertaruhkan skor pertandingan.

Sepanjang tahun 1987, undian KSOB telah meraup dana dari masyarakat sebanyak Rp 221 miliar. Alat yang dipakai dalam SOB disebut Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah atau KSOB.
SOB kemudian berganti nama menjadi TSSB (Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah), dan lalu SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).

Jenis undian ini juga sangat marak di Kota Semarang. Hampir di semua sudut gang ada penjual kupon, yang memang saat itu dianggap legal. Tiap malam tak sedikit warga yang menanti keluaran angka yang diumumkan melalui radio. Undian jenis ini kemudian lambat laun hilang di akhir periode kekuasaan Orde Baru.

Peredaran kupon baru benar-benar dapat dihentikan pada 24 November 1993. Para agen perjudian itu tidak lagi mengedarkan kupon SDSB maupun KSOB. Di hadapan anggota DPR, Meteri Sosial Endang Kusuma Inten Soewono mengumumkan penghapusan undian berhadiah. Pasca-reformasi, pemerintah tak lagi melanjutkan ide penggalangan dana dengan Porkas atau SDSB.

Kuda Lari (2000-an)

Akhir tahun 1990an hingga awal tahun 2000an, di Kota Semarang muncul togel lokal dengan nama Kuda Lari. Hampir mirip dengan SDSB, jenis toto gelap ini juga menjanjikan hadiah untuk angka tebakan yang tepat. Nomor Kuda Lari konon ditentukan melalui undian berupa empat angka, dan dibandari oleh pengusaha lokal Semarang bernama Aseng.

Di Kota Semarang, pengecer perjudian tersebut hampir sudah merata di seluruh kecamatan. Meski para pengecer dalam melaksanakan kegiatannya terkesan sembunyi-sembunyi, namun para pemasang sudah tahu keberadaannya. Mereka tidak hanya berada di tepi jalan, namun ada pula yang ada di perkampungan padat penduduk.

HK dan SGP (2020-an)

Praktik judi toto gelap (togel) saat ini sedang marak di beberapa wilayah di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. Tak lagi sembunyi-sembunyi, para pelaku bisnis ini kini mulai berani terang-terangan menjajakan kupon yang hadiahnya bisa mencapai ratusan kali lipat dari nominal pembelian.

Dari penelusuran, setidaknya ada beberapa bandar besar yang menguasai bisnis togel ini di Kota Semarang dan sekitar. Mereka yaitu Us atau Kus, Mmk, KH, dan beberapa lainnya dalam lingkup kecil.

“Bandar besar ini memiliki jaringan di tingkat pengecer sendiri-sendiri. Yang dijual togel HK (Hongkong) dan SGP (Singapura). Tapi paling ramai jenis HK,” kata Rem (bukan nama sebenarnya), mantan pengecer togel yang kini sudah beralih profesi sebagai ojek online, belum lama ini.

Dari beberapa bandar tersebut, kata Rem, Us atau Kus memiliki jaringan bisnis yang paling besar. Bahkan jaringannya mencapai beberapa wilayah di Jateng. Sedangkan KH juga menguasai beberapa wilayah di jalur Pantura bagian barat.

“Omzetnya dalam sehari bisa ratusan juta rupiah. Semarang merupakan salah satu daerah yang omzetnya besar, sehingga tiga bandar ini seakan berebut pasar di sini. Apalagi beberapa bandar memang berdomisili di Semarang. Apakah aparat tahu tentang bisnis ini, saya tidak berani komentar,” kata Rem.

“Akhir-akhir ini juga ada perang hadiah, yang membuat persaingan bisnis tak sehat. Jika biasanya hadiah untau tebakan dua angka sekitar 60 hingga 65 kali lipat, ada bandar yang sampai menawarkan lebih dari 100 kali lipat. Akhirnya bandar lain berupaya memainkan peran kekuasaan untuk menangkap penjual yang masuk jaringan bandar tertentu, yang menawarkan hadiah besar. Kayak perang bisnis lah,” papar BD, sumber lain yang juga mantan penjual kupon togel.

Dijelaskan, bandar besar ini biasanya memiliki pengecer di daerah, bahkan hingga tingkat RW atau kelurahan. Untuk togel jenis HK, katanya, penjualan dibuka pukul 18.00 dan ditutup pukul 22.30. Karena pukul 23.00 nomor undian telah diumumkan.

Pembeli yang nomornya masuk atau keluar, pukul 23.59 sudah bisa mengambil hadiahnya di pengecer. Nomor sendiri diumumkan di internet, dengan mengacu pada undian di Hongkong. Dalam membantu pengambilan setoran, para bandar ini mempekerjakan “peluncur”, yang bertugas mengambil setoran di pengecer.

Peluncur inilah yang bertugas mendistribusikan uang setoran serta hadiah.

“Bergerak di bisnis ini secara materi sangat menguntungkan. Perputaran uang dalam satu malam mencapai ratusan juta rupiah. Untuk pengecer biasanya memperoleh komisi 20-25 persen dari hasil penjualan,” katanya.

Sebenarnya antar bandar besar seperti ada kesepakatan untuk memberikan tawaran hadiah yang hampir sama bagi para pemenang yang angkanya keluar. Ada pilihan tebakan dengan istilah colok, dua angka, tiga angka, dan empat angka.

Hadiah yang diterima bagi pemasang empat angka bisa mencapai puluhan juta dengan pembelian Rp 10 ribu. Namun ada bandar-bandar kecil yang biasanya berusaha “merusak pasar” dengan memberikan hadiah lebih, misal 100 kali lipat untuk tebakan dua angka. Dan hingga kini bisnis togel ini masih eksis di Kota Semarang dan sekitar.(HS)

Share This

Jelang Evaluasi TPN, Kemenkumham Jateng Terima Penguatan WBK/WBBM Dari Tim Penilai Internal

Jateng Bebas Dari PPKM Level 4, Ganjar: Terima Kasih Masyarakat