in

Satpol PP Semarang Segel Kos Anugerah Yang Diduga Digunakan Sebagai Tempat Mesum

Petugas Satpol PP Semarang menyegel Kos Anugerah di Jalan Menjagan 2 no 45, kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan lantaran diduga digunakan sebagai tempat mesum dan menuai protes dari warga sekitar.

 

HALO SEMARANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang akhirnya menyegel Kos Anugerah di Jalan Menjagan 2 no 45, kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan, pada Jumat (20/8/2021).

Penindakan ini dilakukan lantaran pihak pengelola diduga menyalahgunakan kos tersebut sebagai tempat penyewaan untuk berbuat mesum seperti prostitusi.
Petugas Satpol PP Semarang memasang garis police line sebagai pertanda bahwa tempat tersebut telah disegel.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, penyegelan dilakukan karena menindaklanjuti aspirasi warga yang disampaikan melalui Lurah Palebon, Kecamatan Pedurungan, di Balai Kelurahan Palebon pada Rabu (18/8/2021).

“Warga menghendaki dan meminta agar tempat tersebut disegel,” kata Fajar.

Adapun penindakan itu juga dilakukan mengacu pada Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Ketertiban Umum. Ia menyatakan pihak pengelola menyalahkangunakan indekos sebagai tempat yang disewakan perjam, dan diduga sebagai tempat mesum.

“Setelah penyegelan, akan kita rapatkan dengan Dinas Penataan Ruang Kota Semarang apakah tempat tersebut melengkapi perizinan atau tidak. Kalau belum ada izin, akan kami tindaklanjuti lagi,” jelasnya.

Fajar menegaskan, jika memang tidak ditemukan perizinan yang lengkap atas resminya bangunan tersebut, maka pihaknya dengan tegas bakal merobohkan Kos Anugerah itu.

Sebagai informasi, aktivitas para penghuni kos yang berada di Jalan Menjangan 2 No 45 B, RT 5 RW 4, Kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang dinilai sangat meresahkan warga setempat. Mulai dari suara keras dari musik hingga diduga disalah gunakan oleh pengelola sebagai tempat untuk berbuat mesum atau prostitusi singkat.

Maka untuk itu, warga pun melakukan aksi protes ke kelurahan dengan menuntut pertanggung jawaban pemilik kos. Diketahui ketiga pengelola tersebut M, A, dan Y yang bekerja menjaga tempat yang baru dibuka empat bulan itu. Noviar ketua RT setempat menjelaskan, awal mula ia tidak percaya bahwa kos-kosan itu dijadikan sebagai tempat untuk berbuat maksiat oleh para penyewa kamar maupun pengelola kos-kosan tersebut.

Namun, setelah ditelusuri, dugaan warga setempat terbukti, dengan ditemukannya pasangan pria dan wanita tanpa ikatan pernikahan, diduga melakukan aksi mesum dan berhasil digrebeg oleh warga pada Senin (9/8/2021) lalu.

“Dan terbukti saat penggerebekan ditemukan pasangan yang ngakunya sudah tunangan, tapi yang satu KTP sudah nikah, dan satunya belum. Itu tidak masuk akal,” lanjutnya.

Akhirnya, kata dia, penyewa kos itu mengakui telah menyewa tempat itu dari pengelola kos dengan harga Rp 100 ribu dengan durasi 2 jam.

“Temuan ini membuat warga semakin percaya bahwa kos-kosan tersebut memang dijadikan tempat untuk semacam itu (mesum),” ujarnya.

Apalagi, lanjut Noviar, menurut informasi dari warga, dalam beberapa bulan ini, banyak sekali pengunjung asing yang datang ke kos-kosan tersebut.

“Awalnya gak ada masalah. Dari bulan puasa kemarin infonya disewakan dalam jangka waktu bulanan. Kalau ditanya ngakunya kos bulanan, tapi semakin ke sini semakin banyak pengaduan. Dan ternyata pengelola buka sewa perjam juga,” tuturnya.(HS)

Share This

Wujudkan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Unwahas Gandeng Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah

Bupati Sragen Bagikan 2.710 Paket Sembako Bagi Warga Terdampak Covid-19