Sasana Wushu Teratai Sakti, Meski Latihan di Tempat Sederhana tapi Mampu Cetak Banyak Atlet Potensial Kota Semarang

Para atlet berlatih di Sasana Teratai Sakti, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Minggu (6/9/2020).

 

MESKI hanya berlatih di tempat sederhana, tepatnya di lapangan umum Jalan Bukit Teratai IV No 231, Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, namun banyak atlet wushu sanda potensial Kota Semarang yang lahir dari Sasana Teratai Sakti ini.

Hanya berbekal matras, samsak, dan peralatan sederhana lainnya, belasan anggota Sasana Teratai Sakti berlatih rutin seminggu tiga kali di tempat sederhana tersebut. Tempat latihannya pun tak luas, hanya di tepi lapangan sekitar 10 x 6 meter persegi.

Di kancah wushu sanda Kota Semarang, nama Sasana Teratai Sakti memang sudah banyak dikenal masyarakat olahraga wushu dalam mencetak atlet nomor sanda.

Sebut saja Sinung Luhur, Gilang Suryo Prasojo, M Fadli Ulumudin, Nindi Nurulisa, Cindy Calista dan beberapa nama lain yang kerap mewarnai kejuaraan daerah tingkat Kota semarang dan provinsi.

Sasana yang berdiri sejak tahun 2007 ini memang memiliki segudang pengalaman mencetak atlet fighter di cabang olahraga wushu.

Ketua Sasana Teratai Sakti, Eko Budi Hartanto mengatakan, setiap ada kejuaraan baik tingkat daerah maupun nasional, sasana yang dia kelola selalu mengirimkan atletnya untuk bertanding.

Tak hanya atlet dewasa, beberapa atlet yunior juga disiapkan untuk mengikuti kejuaraan daerah. Kebetulan di sasana ini ada banyak siswa dari berbagai kelompok umur, dari usia 5 tahun hingga 17 tahun.

“Mengikuti kejuaraan, tujuannya memang untuk melatih mental bertanding siswa yang belajar di sini. Baik untuk siswa senior maupun yunior,” katanya, Minggu (6/9/2020).

Sasana Tertai Sakti memang dikelola dengan penuh kesederhanaan, meski tak meninggalkan profesionalitas dan kedisiplinan dalam sistem latihan.

Tempat latihannya pun sederhana, hanya di lapangan perumahan dengan peralatan seadanya, dengan standar dasar latihan.

Siswa yang berlatih di tempat itu juga tak dikenakan biaya bulanan, namun hanya mengisi uang kas (nominal seiklasnya) untuk setiap latihan.

Ada empat sampai lima pelatih yang tiap Kamis, Sabtu, dan Minggu mendidik para siswa yang datang dari berbagai daerah di Kota Semarang, seperti Ngaliyan, Pedurungan, Banyumanik, dan Tembalang.

“Kami memang tak menarik biaya latihan. Namun para siswa yang berlatih di sini kami tekankan lebih ke hubungan kekeluargaan. Jadi sambil anak-anak latihan, orang tua yang mendampingi biasanya datang membawa makanan, minuman, dan buah-buahan untuk dimakan bersama-sama. Untuk pembiayaan pelatih pun kami sediakan kotak untuk diisi seiklasnya,” kata Eko Budi Hartanto.

Di masa pandemi ini, juga tak menyurutkan niat para siswa untuk tetap berlatih rutin. Dengan menerapkan protokol kesehatan, para siswa diwajibkan datang memakai masker serta cuci tangan sebelum latihan. Meski saat latihan, mereka tak diwajibkan mengenakan masker.

“Karena ini olahraga yang membutuhkan latihan fisik, maka saat latihan masker tak dikenakan. Namun di luar latihan kami tetap mengimbau atlet untuk tetap mematuhi protokol kesehatan,” katanya.

Antok, salah satu orang tua yang mendampingi anaknya berlatih, mengaku sengaja mengikutkan anaknya yang baru berusia 7 tahun untuk latihan di Sasana Teratai Sakti. Selain untuk memberikan bekal bela diri pada sang anak, kegiatan olahraga juga dinilainya memberikan pengaruh positif saat pandemi corona ini.

“Anak baru berlatih beberapa kali di sini. Biasanya kalau tidak latihan anak saya tak bisa lepas dari ponsel setelah mengikuti proses pembelajaran daring. Dengan ikut kegiatan ini, sedikit meminimalisir interaksi dengan ponsel. Anak juga senang bisa bertemu dengan rekan lainnya yang juga ikut berlatih wushu ini,” tandasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.