in

Sarimo, Penjual Mainan Tradisional Masih Terus Berjuang Di Tengah Era Digital

Sarimo (56) penjual mainan tradisional berjuang di tengah era digital.

 

ZAMAN modern seperti saat ini, perkembangan teknologi sangatlah cepat. Bahkan, rata-rata setiap orang pasti memegang gadget sebagai alat komunikasi maupun sebagai sarana hiburan dengan segala permainannya.

Namun, Sarimo (56) masih berusaha bertahan berjualan mainan tradisional demi menghidupi keluarganya. Kemajuan teknologi tak menjadi alasan baginya untuk menyerah, demi mencari pundi-pundi rupiah dengan menjual mainan yang terbuat dari kayu, akar, maupun rotan tersebut.

Dia terus berjuang menjajakan berbagai mainan seperti kluntung, suling, gangsingan, boneka hewan dari akar wangi dan lainnya.

Prinsip pria yang indekos di Semarang Tengah itu adalah rezeki sudah diatur Tuhan, sehingga tak takut jika barang tak laku lantaran anak sekarang lebih suka main handphone daripada mainan tradisional seperti barang dagangannya.

“Ya rezeki pasti ada kalau dicari. Ora obah ora mamah. Saya bisanya jualan seperti ini jadi tetap saya jalani sampai sekuatnya,” kata dia saat ditemui di wilayah Semarang Tengah, Selasa (13/7/2021).

Puluhan tahun ia sudah mengais rejeki dengan pekerjaan tersebut. Bahkan, Sarimo sudah menjelajahi seluruh kecamatan di Kota Semarang untuk menjual daganganya.

Namun, karena sudah berumur, dia kini hanya bekeliling di pusat Kota Semarang seperti di area Johar, Pasar Burung Kartini, Kota Lama, Simpanglima, dan seputaran Tugu Muda.

Dia mengaku di masa pandemi ini sangat mempengaruhi hasil penjualanya. Pasalnya semua event-event atau kegiatan besar yang selama ini menjadi tumpuan penghasilan terbesarnya dilarang pemerintah digelar.

Dia menyebut, paling tidak setiap event acara, semisal di Kota Lama, dia mampu mendapatkan penghasilan kotor Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu/hari.

“Biasanya tiap Minggu pasti ada acara besar, saya datangi karena di tempat seperti itu barang jualan cepat laku dan tidak perlu genjot sepeda jauh-jauh,” terangnya.

Kena Razia

Dia mengatakan, selama pandemi harus bekerja lebih keras dengan berkeliling di perkampungan atau perumahan di Kota Semarang.

Meski banyak perumahan diportal dampak dari kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dia tak ambil pusing karena hanya memasuki perumahan yang bisa dilalui saja. Selama pandemi, pendapatan kotornya perhari paling besar Rp 100 ribu.

“Paling kecil dapat Rp 50 ribu laku 5 biji. Itu pendapatan kotor. Bersihnya uang segitu ya dicukupkan untuk makan saja,” terangnya.

Sarimo menceritakan pengalaman pahit yang pernah ia alami. Saat itu, di tengah berjualan ia pernah mendapatkan perlakuan tak mengenakan, terutama saat mangkal di pinggir jalan dekat lokasi tempat wisata.

Dia harus kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP saat menjual daganganya, karena tak memiliki izin berjualan di sana. Hal itu membuat ia trauma dan merasa was-was, mengingat di tempat wisata seperti Lawang Sewu menjadi tempat jualan potensial yang membuat jualannya lekas laris.

Paling tidak, tiap kena razia ia merugi berkisar Rp 1 juta atau setara modal barang dagangannya. Saat kena razia dan barang dagangannya disita, dia bingung harus mengambil barang sitaan itu lantaran harus lengkapi berbagai berkas perizinan berjualan yang dia sendiri tak tahu.

“Saya pernah kena operasi Satpol PP tiga kali. Barang dagangan diangkut semua. Sepeda saya pegangin kenceng biar tidak dibawa. Kalo dagangan ya harus diikhlasin, tapi jujur razia itu bikin trauma dan takut,” imbuhnya.(HS)

Share This

Ditengok Ganjar, Pelajar Papua Curhat Kesulitan Belajar Bahasa Jawa

Setelah Dinyatakan Negatif, Bupati Kendal Pantau Langsung Serbuan Vaksinasi