Sapto Prabowo, Respon Satire Seniman Atas Revitalisasi Kota Lama Semarang

Vikkir Rohman, pemeran Sapto Prabowo, Scb, Mcb foto di saluran air Kawasan Kota Lama Semarang.

 

REVITALISASI Kota Lama Semarang telah menarik para pelancong domestik hingga mancanegara. Akan tetapi, upaya dari Pemerintah Kota Semarang ini menuai kritik, karena dianggap banyak mengabaikan prinsip-prinsip cagar budaya.

Kritik tersebut disampaikan banyak pihak, mulai dari akademisi, seniman, aktivis atau pemerhati cagar budaya, hingga pemilik gedung. Salah satunya, dilakukan kelompok seni pertunjukan alternatif dari Kota Semarang yaitu, Roda Gila dan Kelab Kelip Bersaudara (RGDKKB), berkolaborasi dengan Seraya Podcast.

Kelompok itu menggelar sebuah pertunjukan yang mengkritisi atas pembangunan revitalisasi Kota Lama Semarang.

Dengan ramah, tokoh Sapto Prabowo, Scb, Mcb hadir sebagai perwakilan dari Badan Penanggulangan Cagar Budaya Pemerintah Kota Semarang, yang tentu saja adalah sebuah lembaga fiktif untuk kepentingan karya pertunjukan.

Sapto Prabowo juga adalah nama tokoh fiktif yang diperankan Vikkir Rohman. Dia menelusuri Kota Lama Semarang, mencari tempat-tempat yang dianggapnya melencengkan bentuk cagar budaya.

Dengan poster x-banner berisi narasi penjelasan, Pak Sapto sapaan akrabnya berfoto di tempat-tempat yang disinggahinya.

Setiap tempat yang disinggahi Pak Sapto selalu terpampang x-banner yang berisi kisah tempat tersebut, namun berisi narasi satire.

Enam tempat yang disinyalir tidak sesuai sejarah tersebut ialah Charger Box atau kotak telepon berwarna merah, air mancur depan gedung Marba, penataan Jalan Jalak, perbaikan saluran air, Taman Garuda, dan Taman Srigunting.

Dengan narasi satire, mereka mengkritisi penataan di enam tempat tersebut. Pada sebelah Charger Box atau kotak telepon berwarna merah misalnya, para seniman memasang banner narasi dengan tulisan ”David Beckham dan PM Inggris, Johny English, saling menelpon lewat box telepon ini ketika telepon ini masih aktif”.

Di sekitar air mancur depan gedung Marba, juga dijelaskan dengan narasi satire pula dengan tulisan ”Air mancur ini merupakan replika dari inovasi teknologi Belanda untuk menyedot banjir”.

Sedangkan di Jalan Jalak tepat di tembok berakar, dengan pemasangan poster bertuliskan ”Jalan ini jadi saksi kisah cinta terlarang Oei Tiong Ham dan Rara Mendut”.

Dengan kemeja batik kebanggaannya, celana kain, bersepatu pantofel, dan berpeci hitam serta membawa stop map warna merah, penampilan Sapto Prabowo sesekali menarik perhatian para pengunjung.

Beberapa tulisan yang dipajang di enam tempat tersebut merupakan ungkapan penting Pak Sapto yang harus diketahui masyarakat.

Melalui gelar pertunjukkannya, Pak Sapto dan tim dalam hal ini RGDKKB dan Seraya Podcast mengingatkan kepada Pemerintah Kota Semarang ihwal seharusnya revitalisasi Kota Lama tidak hanya memandang sebagai tempat wisata yang lebih menarik secara visual berdasarkan konsep instagrammable.

“Mengkritisi beautifikasi yang terjadi di Kota Lama Semarang. Semacam penyuluhan atau kampanye tentang titik-titik yang ada di Kota Lama Semarang dari Box Telephone, Taman Srigunting, Gang Akar, Taman Garuda, dan lain sebagainya,” tutur Khotibul Umam selaku sutradara sebuah karya performance art dengan tajuk ”Believe It or Not: Roda Gila dan Hal-Hal yang Tidak Terjadi di Kota Lama”, Kamis (29/4/2021).

Pria yang akrab disapa Umam ini menambahkan, kelompoknya sengaja menyapa pengunjung Kota Lama Semarang, yang diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang situs tersebut.

“Kami berdialog dengan para wisatawan atau pengunjung, sebenarnya mereka sejauh mana mengetahui sejarah berbagai macam tempat atau situs yang ada di Kota Lama Semarang,” imbuhnya.

Selain itu, projek kolaborasi dengan Seraya Podcast ini adalah sebagai upaya merespon kegelisahan pihak-pihak yang tidak sepakat atas hasil revitalisasi Kota Lama maupun Kota Semarang.

“Bukan hal yang baru bagi kami, tetapi ini hal yang menarik bagi kami yang bassicnya adalah kesenian dan kebudayaan. Ini adalah salah satu media untuk menyampaikan kritik ketika hal-hal yang formal itu masuk di situ tidak direspon,” ucap Vikkir Rohman pemeran Sapto Prabowo, Scb, Mcb.

Karya tersebut telah dipresentasikan di forum internasional ”Doctoral Theatre Students Association Graduate Student Conference 2021”, yang digelar oleh City University of New York, Amerika Serikat.

Setelah ini, kelompok tersebut akan mengadakan sebuah pameran hasil pertunjukan yang telah dilakukan selama ini. Seperti foto, video, film pendek serta berbagai macam respon di sosial media.

Nilai Pendidikan

Vikkir Rohman, pemeran Sapto Prabowo, Scb, Mcb di Charge Box atau kotak telepon, Kawasan Kota Lama Semarang.

Sementara itu, Kurator dari Seraya Podcast, Anastasia Dwirahmi menuturkan, revitalisasi Kota Lama Semarang memang dianggap oleh sebagian masyarakat bisa dikatakan sukses.

“Revitalisasi Kota Lama dianggap sukses, berhasil mengundang wisatawan, bahkan banyak dari pemerintah daerah berkunjung ke sini belajar mengolah bangunan kota lama ini,” katanya.

Anastasia menegaskan, Kota Lama Semarang tidak sepenuhnya berhasil direvitalisasi. Karena lebih mengedepankan beautifikasi yang minim kajian dan tidak bermutu dari sisi pelestarian cagar budaya.

“Seharusnya benda cagar budaya untuk aset atau modal dalam bentuk pendidikan,” imbuhnya.

Dikatakan, bahwa seharusnya revitalisasi adalah bentuk dari pelestarian cagar budaya. Tidak dengan semena-mena mengatur tata artistik untuk memenuhi kebutuhan foto saat ini.

“Yang kita lihat di Kota Lama Semarang kan diutamakan lebih pada tujuan pariwisata,” tandasnya.

Dengan demikian, perlu diketahui, kepentingan untuk pendidikan harus diperhatikan dalam kegiatan pelestarian, pengamanan, dan pemanfaatan cagar budaya.

Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010. Dalam praktik pengelolaan cagar budaya, dikenal istilah interpretasi dan presentasi, yang kurang lebih adalah sebuah upaya penyampaian muatan sejarah atau nilai penting sebuah benda cagar budaya, baik berupa bangunan, struktur, situs maupun kawasan.

Lewat interpretasi dan presentasi, unsur pendidikan dalam pengelolaan kawasan cagar budaya dapat terpenuhi.

Selain itu, interpretasi akan melahirkan sebuah identitas tempat dan juga sense of place, yang tentu saja bisa berubah seiring dengan waktu dan dinamika interaksi kawasan dengan perkembangan sekitarnya.

Interpretasi adalah sebagian dari proses dan juga hasil dari pendokumentasian sejarah yang tentu saja relevan untuk kawasan Kota Lama yang katanya heritage ini.

Interpretasi dan presentasi bisa hadir dalam berbagai bentuk seperti panel keterangan yang memuat sejarah bangunan atau kawasan, tur atau paket wisata dengan muatan sejarah, hingga pameran dan museum.

Kebanyakan inisiatif semacam ini justru datang dari masyarakat yang dalam prosesnya kadang berbenturan dengan rencana pemerintah kota.

Ketidakhadiran sarana interpretasi dan presentasi, ditambah dengan munculnya ornamen penghias jalan yang tidak jelas fungsi dan keterkaitannya dengan sejarah kawasan, membuat Kota Lama kehilangan identitasnya.

Bukan identitas sebagai bekas Kota Belanda yang hilang, tapi identitas sebagai kawasan cagar budaya yang seharusnya kaya akan nilai-nilai pendidikan yang dapat menjadi sumber inspirasi, dialog, dan interaksi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.