Sapardi Djoko Damono Tutup Usia, Selamat Jalan Sang Pujangga!

Sapardi Djoko Damono.

 

HALO SEMARANG – Kabar duka datang dari dunia sastra Indonesia. Sastrawan Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair, dosen, pengamat sastra, kritikus sastra dan pakar sastra. Ia lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940, putra pertama pasangan Sadyoko dan Saparian.

Di ranah sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono mempunyai peran penting. Dalam Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an.

Dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar tahun 1960.

Terlihat perkembangan jelas dalam puisi Sapardi terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Dia dianggap sebagai penyair yang orisinil dan kreatif.

Puisi Sapardi Djoko Damono banyak dikagumi karena banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan barat, yang disebut simbolisme sejak akhir abad ke-19.

Salah satu karya yang sangat populer adalah puisi “Aku Ingin”, yang ditulisnya pada tahun 1989 dan masuk dalam buku kumpulan puisi berjudul “Hujan di Bulan Juni”.

Pujangga yang kemudian biasa dipanggil SDD ini memang tidak lagi diragukan kemahirannya dalam meracik kata.
Di buku itu ada lebih dari 100 judul puisi karyanya yang dia kumpulkan dalam rentang waktu sekian puluh tahun.

Pilihan kata yang sederhana, di tangannya bisa memunculkan imajinasi yang luar biasa, dalam, luas, dan tak lekang oleh waktu.

Atas karya pikirnya di bidang sastra, sang maestro juga telah menerima sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Salah satunya “Penghargaan Akademi Jakarta” tahun 2012.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) ini pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia ( UI) pada era 1999-2004.

Selama hidupnya, Sapardi telah menuliskan puluhan buku yang banyak di antaranya laris manis di pasaran.

Sebut saja “Yang Fana adalah Waktu”, “Ayat-Ayat Api”, “Hujan di Bulan Juni”, “Melipat Jarak”, “Pada Suatu Hari Nanti”, dan lainnya.

Ia pun sempat menuliskan sebuah karya tentang kematian, tentang apa yang akan abadi darinya jika nyawa sudah tak lagi di dalam badan.

Sebagai seorang sastrawan, ia betul meyakini, tulisan dan karya-karyanya lah yang akan terus ada dan abadi, meski hadirnya tak lagi ada di Bumi.

Kini sastrawan besar itu telah tiada, Selamat Jalan Sang Pujangga!(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.