in

Santri-Preneurship II Bangkitkan Semangat Santri Berbisnis

Ketua Panitia Acara Agus Nur Sodik saat memaparkan produk suvenir kupu-kupu berbahan dasar daun sutra soka dalam Santri-Preneurship di Pesantren dan Rumah Kebudayaan Surau Kami, Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Selasa (29/06/2021) malam.

 

HALO SEMARANG – Santri-Preneurship kedua dengan tema Era Bangkit Santri Mandiri digelar Pesantren dan Rumah Kebudayaan Surau Kami, di Kelurahan Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Selasa (29/06/2021) malam. Acara tersebut bertujuan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan para santri.

Ketua Panitia Acara Agus Nur Sodik mengatakan, acara Santri-Preneurship merupakan bentuk upaya menumbuhkan kemandirian ekonomi santri. Baik santri yang masih di pesantren maupun ketika berada di masyarakat.

“Saat di pesantren selain mengaji, mereka juga sudah dibekali ilmu kewirausahaan seperti ini. Maka setelah dari pesantren, para santri supaya tidak bingung saat terjun di masyarakat ingin kerja apa,” kata Agus kepada wartawan, Selasa (29/6/2021) malam.

Agus menambahkan, di Pesantren Rumah Kebudayaan Surau Kami, terdapat sejumlah jenis kegiatan santri berwirausaha. Di antaranya, pembuatan suvenir kupu-kupu berbahan dasar daun sutra soka, pembuatan sabun, mebel, jasa bengkel las, serta bengkel motor balap.
Kendati demikian, Agus menyebut santri banyak menemui momok dalam berbisnis, salah satunya pada proses pemasaran.

“Salah satu yang menjadi kesulitan kami saat ini yaitu perihal pemasarannya. Seperti suvenir kupu-kupu dari daun kita pasarkan secara manual dari sekolah ke sekolah. Sedangkan jasa bengkel las, hanya menunggu customer datang dan rekomendasi kepuasan dari customer satu ke customer lainnya. Untuk pemasaran melalui online belum,” terangnya.

Dijelaskan Agus, salah satu tujuan acara Santri-Preneurship digelar ialah untuk membangun jejaring, dengan pemateri yang didatangkan. Acara Santri-Preneurship diselenggarakan bekerja sama dengan produk fesyen Nibras House Banyumanik dan salah seorang tokoh enterpreneur di Kota Semarang, Zhakiah Joban sebagai nara sumber.

“Karena ada suatu hal, nara sumber tidak dapat hadir mengisi acara Santri-Preneurship ini. Namun acara tetap kami jalankan dengan presentasi produk yang dihasilkan oleh para santri tadi,” papar pria asal Kendal tersebut.

Ke depannya Agus mengatakan, akan kembali mengadakan acara serupa untuk mendukung proses santri berwirausaha. Tetapi dengan tema yang berbeda, dengan menyesuaikan kebutuhan dan melihat minat para santri.

“Kita tidak memaksakan para santri harus jadi pengusaha, kita kembalikan pada santri masing-masing. Semisal ada yang minat di pertanian dan peternakan atau lainnya, kita nanti arahkan dan dorong ke sana. Dan setiap selesai acara kami berencana ada follow-upnya, dan pendampingan,” tutur Agus.

Meskipun narasumber berhalangan hadir, diungkapkan Nur Santiyasih, salah satu peserta asal Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, dia mengaku senang bisa turut hadir di acara Santri-Preneurship dua.

Ia menyebut, melalui semangat santri menghasilkan produk saat presentasi, ke depannya ada kesempatan bagi santri dalam menjadi pengusaha.

“Saya tidak menyangka dengan produk yang dihasilkan itu, sangat kreatif. Perlu adanya pengembangan lanjut dalam memasarkan produknya. Semua orang dapat menjadi pengusaha, termasuk santri di sini,” papar perempuan yang akrab disapa Tyas ini.(HS)

Share This

80 Persen Karyawan Hotel Horison Nindya Telah Divaksin

Pemberlakukan PPKM, MAJT Tetap Gelar Salat Jumat Berjamaah Diikuti 400-500 Jamaah