in

Sampaikan Pidato di Sidang MPR, Presiden Jokowi : Pandemi Memacu Indonesia untuk Berubah

Presiden Joko Widodo ketika menyampaikan pidato, pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Senin (16/08), di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPR RI, Senayan, Jakarta. (Gambar : Tangkapan Layar Youtube Presiden RI)

 

HALO SEMARANG – Presiden RI Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah memacu bangsa Indonesia untuk berubah. Bangsa ini telah mengembangkan cara-cara baru, meninggalkan kebiasaan lama yang tidak relevan, dan menerobos ketidakmungkinan.

Dalam masa pandemi, masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk membangun normalitas baru dan melakukan hal-hal yang selama ini dianggap tabu.

Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo, dalam pidatonya, pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Senin (16/08), di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPR RI, Senayan, Jakarta.

“Memakai masker, menjaga jarak, tidak bersalaman, dan tidak membuat keramaian adalah kebiasaan baru yang dulu dianggap tabu. Bekerja dari rumah, belanja daring, pendidikan jarak jauh, serta rapat dan sidang secara daring, telah menjadi kebiasaan baru yang dulu kita lakukan dengan ragu-ragu,” kata Presiden.

Di tengah dunia yang penuh disrupsi, lanjut Presiden, karakter berani untuk berubah, mengubah, serta mengkreasikan hal-hal baru, merupakan fondasi untuk membangun Indonesia Maju. Adanya pandemi Covid-19, juga mengakibatkan akselerasi inovasi dalam kehidupan.

“Kita telah berusaha bermigrasi ke cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0 ini, agar bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif. Adanya pandemi Covid-19 sekarang ini, akselerasi inovasi semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita,” ujar Presiden.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi juga memberikan suntikan semangat serta motivasi untuk menghadapi pandemi ini. Dia mengibaratkan krisis, resesi, dan pandemi, seperti api yang membuat bangsa Indonesia belajar.

“Api memang membakar, tetapi juga sekaligus menerangi. Kalau terkendali, dia menginspirasi dan memotivasi. Dia menyakitkan, tetapi sekaligus juga bisa menguatkan. Kita ingin pandemi ini menerangi kita untuk mawas diri, memperbaiki diri, dan menguatkan diri kita dalam menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya.

Presiden juga mengatakan, pandemi juga seperti kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan, dan sekaligus mengasah. Pandemi memberikan beban yang berat dan penuh risiko yang harus dihadapi dan dikelola.

“Semua pilar kehidupan kita diuji, semua pilar kekuatan kita diasah. Ketabahan, kesabaran, ketahanan, kebersamaan, kepandaian, dan kecepatan kita, semuanya diuji dan sekaligus diasah,” imbuhnya.

Ujian dan asahan tersebut, kata Presiden, menjadi dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Bukan hanya beban yang diberikan, tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri juga diajarkan.

“Tatkala ujian itu terasa semakin berat, asahannya juga semakin meningkat. Itulah proses menjadi bangsa yang tahan banting, yang kokoh, dan yang mampu memenangkan gelanggang pertandingan,” kata dia.

Baju Adat

Sementara itu dalam menyampaikan pidato pada Sidang Tahunan MPR RI tersebut, presiden kembali mengenakan baju adat. Kali ini yang dipilih adalah baju adat Suku Baduy yang berasal dari Banten.

“Busana yang saya pakai ini, adalah pakaian adat Suku Baduy. Saya suka karena desainnya yang sederhana, simpel, dan nyaman dipakai,” kata Presiden, mengenai pakaian yang dikenakannya.

Ditambahkan Presiden, pakaian adat tersebut disiapkan oleh Ketua Adat Masyarakat Baduy, Jaro Saija. “Saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada Pak Jaro Saija, Ketua Adat Masyarakat Baduy, yang telah menyiapkan baju adat ini,” ujarnya.

Untuk diketahui, ini bukan kali pertama Presiden mengenakan pakaian adat dari berbagai suku di Tanah Air dalam acara kenegaraan. Dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 2017, Presiden mengenakan pakaian adat Bugis, berupa songkok Bugis berwarna emas dan sarung songket bernuansa oranye dan merah marun.

Kemudian, dalam upacara Kemerdekaan RI ke-73 di Istana Negara tahun 2018, Kepala Negara mengenakan pakaian adat Aceh.

Pakaian adat berikutnya yang digunakan ialah adat Sasak, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang digunakan saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Bersama DPR-DPD pada Agustus 2019.

Presiden mengenakan pakaian adat Sasak berwarna cokelat dengan bawahan kombinasi hitam, emas, dan oranye, dilengkapi keris yang tampak terpasang di bagian depan pakaian.

Terakhir, pada tahun 2020 Kepala Negara tampak mengenakan pakaian adat Suku Sabu, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat menghadiri Sidang Tahunan MPR RI. (HS-08)

Share This

Gedung Wanita Karanganyar Jadi Tempat Isolasi Terpusat

Dukung Pasokan Oksigen di Jateng saat Pandemi, Bea Cukai Tanjung Emas Fasilitasi Importasi Isotank