Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Sampah Plastik dan Penangkapan Ikan Tak Ramah Lingkungan Membuat Laut Jawa Over Fishing

Harjanto Halim saat jadi pembicara dalam seminar “Keterlibatan Sinergis Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat” di kampus Unika Soegijapranata, Rabu (18/9/2019).

 

HALO SEMARANG – Laut Jawa saat ini mengalami kelebihan penangkapan ikan dan berada di bawah setandar untuk penangkapan ikan. Banyak jenis-jenis ikan yang kini mulai susah ditemukan di Laut Jawa, di antaranya ikan tongkol, selar, dan ikan-ikan pindang atau jenis ikan kecil lain. Kebanyakan ikan-ikan itu diperoleh dari perairan di luar Laut Jawa.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pendidikan Badan Riset SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr Bambang Suprakto, saat jadi pembicara dalam seminar “Keterlibatan Sinergis Perguruan Tinggi Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat” di kampus Unika Soegijapranata, Rabu (18/9/2019).

Laut, menurutnya butuh proses pengelolaan. Ketika banyak penangkapan ikan dan penangkapannya tidak ramah lingkungan dan dilakukan terus menerus, akhirnya tak seimbang dengan ketersediaan ikan di laut.
“Padatnya penduduk di pesisir Laut Jawa juga mempengaruhi lingkungan laut. Jumlah penduduk yang banyak menghasilkan limbah yang banyak pula.

Termasuk limbah industi yang mempengaruhi ekosestem laut. Akibatnya ada kerusakan ekosistem laut yang berpengaruh pada lambannya pertumbuhan kehidupan ikan di sana,” katanya dalam seminar tersebut.

Solusi untuk mengatasi over fishing, atau kelebihan penangkapan ikan tersebut, yaitu dengan membatasi jumlah penangkap ikan di Laut Jawa yang menggunakan alat tak ramah lingkungan.

“Selain itu pengawasan Lingkungan Hidup terhadap buangan limbah juga harus benar-benar ketat. Termasuk sampah plastik dari industri yang memiliki andil besar dalam kerusakan ekosistem laut,” katanya.

Pihaknya mewanti-wanti agar pemanfaatan budi daya kelautan di Indonesia tidak mengakibatkan kerusakan laut. Misal, penggunaan plastik yang berlebihan. Karena kandungan bioplastik dapat merusak biota laut. Bahkan menurutnya saat ini 60 persen plastik yang digunakan di dunia masuk ke laut.

“Penguraian plastik itu sangat lama. Plastik juga berpotensi menempel pada plankton, juga dimakan ikan baik kecil maupun besar,” terangnya.

Selain itu, pemanfaatan budi daya kelautan di Indonesia disebut masih belum digarap secara maksimal.
Hingga saat ini pemanfaatan budi daya kelautan di Indonesia baru mencapai 6,7 persen. Padahal potensi di sektor tersebut besar.

“Masih lebih dari 90 persen belum digarap,” paparnya.

Dia pun mengapresiasi pihak-pihak yang sudah mulai memanfaatkan budi daya perikanan dan kelautan di Indonesia.

Di Semarang, dia memberi contoh yaitu sudah ada balai budi daya ikan air payau dan laut di Karanganyar, Tugu, Kota Semarang.

“Artinya di laut maupun di perairan tawar ada potensi yang dapat dikembangkan secara maksimal,” imbuh Dr Bambang.

Pembicara lain, Direktur Marimas Harjanto Halim mengaku prihatin dengan banyaknya sampah plastik yang terbuang ke laut dan akhirnya merusak ekosistem laut.

Sebagai seorang pelaku usaha di bidang industri pangan, pihaknya mengakui kesulitan menggantikan plastik dengan kemasan ramah lingkungan. Menurutnya, sejauh ini belum ada produk substitusi plastik yang mampu melindungi produk dengan aman sampai ke tangan konsumen selain plastik.

Meski demikian, bukan berarti Harjanto tak berbuat apa pun. Sebaliknya, melalui program Marimas Ecobricks, Harjanto menggaungkan gerakan pembuatan ecobricks di berbagai lapisan masyarakat dengan memanfaatkan plastik bekas. Karena menurutnya, mengelola sampah plastik lebih baik dari pada proses daur ulang atau membiarkan plastik terbuang ke laut.

Ecobricks, yang dicetuskan oleh pria asal Kanada, Russell Maier, merupakan upaya mengelola sampah plastik dengan cara “memenjarakan” material yang sulit terurai, seperti plastik, styrofoam, dan puntung rokok di dalam bekas botol air minuman sekali pakai.

Sementara Prof Budi Widianarko, guru besar Fakultas Teknologi Pangan Unika menambahkan, perguruan tinggi perlu mulai terbuka pada pengetahuan lokal masyarakat, termasuk petani dan nelayan. Misalnya ikut membantu nelayan lokal memanfaatkan budi daya kelautan di Indonesia.

“Kendalanya saat ini minat petani dan nelayan belum tentu hisa dibangkitkan,” ujarnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang