in

Sambut Revolusi Industri 5.0, USM Gelar Seminar dengan Narasumber dari Malaysia

Profesor Revany Bustami Ph D berbicara dalam Seminar Nasional yang bertajuk “Peran Sumber Daya Manusia Berkualitas dalam Menyongsong Revolusi Industri 5.0” di Auditorium Ir Widjatmoko, Universitas Semarang (4/11/2019).

 

HALO SEMARANG – Dalam menghadapi era modern ini, salah satu hal yang sangat penting saat ini adalah teknologi. Perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri semakin maju dan tentunya Indonesia harus mengikuti kemajuan tersebut. Sebagai upaya memepersiapkan Revolusi Industri 5.0, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang (USM) menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Peran Sumber Daya Manusia Berkualitas dalam Menyongsong Revolusi Industri 5.0” di Auditorium Ir Widjatmoko (4/11/2019).

Kegiatan ini diikuti 500 lebih peserta dan menghadirkan narasumber dari University Sains Malaysia (USM) Associate Profesor Revany Bustami Ph D, Operasional Senior Managemen Enterprise Government and Bussines Service Telkom Indonesia, Leonardo Budhi, dan Dr Titin Winarti (Dosen FTIK USM).

Dalam materinya, Revany Bustami menyampaikan, pada era revolusi industri 5.0 agama akan kembali memimpin ilmu pengetahuan. Menurutnya akan terjadi re-spiritualisasi masyarakat, materialisme dan saintisme akan terus menurun serta lembaga akan bergerak ke arah responsif nyata dari penatalayanan global.

“Pada revolusi industri 5.0 para cendekiawan dan lembaga pendidikan harus mengungkap mendapatkan kembali kekuatan revolusi industri 5.0, para cendekiawan dan lembaga pendidikan harus menjadi kompas,” tegasnya.

Sementara Leonardo Budhi memberi perspektif bahwa masyarakat 5.0 merupakan masyarakat berbasis teknologi.

“Teknologi kunci untuk mewujudkan masyarakat ini adalah big data, artifical intelligence, dan IoT (Iinternet of thing), sehingga perlu menciptakan kemampuan baru,” ujarnya.

Sementara Dr Titin Winarti menyampaikan, dalam menghadapi tantangan perguruan tinggi dalam menghasilkan SDM untuk menghadapi revolusi industri 5.0, ada empat versi gambaran Revolusi Industri 5.0. Satu di antaranya cognitive system. Jika di era Revolusi Industri 4.0 manusia masih dibutuhkan untuk memperbaiki perangkat (hardware) yang rusak, maka di Revolusi Industri 5.0 perangkat sudah otomatis mampu memperbaiki dirinya sendiri. Human intelligence + cognitive computing para ahli memperkirakan pada era 5.0, manusia dan mesin akan bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah.

“Selain itu juga remote production di era Revolusi Industri 5.0, manusia akan terbiasa membuat kreasi lewat printer tiga dimensi dan tidak hanya benda sehari-hari, namun juga makanan. Ada juga take over of artificial intelligence dan versi keempat mungkin terdengar agak horor, di mana robot bisa menjadi ancaman bagi manusia. Pada era 5.0, manusia akan membuat robot yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dengan tujuan membantu manusia,” tambahnya.

Dalam menyikapi perkembangan tersebut, Retor USM, Andy Kridasusila mengatakan, bahwa USM mensupport dalam melakukan persiapan menghadapi 5.0. “Saat ini Telkom mensupport USM menggunakan perangkat Cisco ASR 100X 20 GB, dalam tingkatan perguruan tinggi swasta baru USM yang menggunakan pernagkat ini artinya kita mencoba menyiapkan infrastruktur yang handal,” tandasnya.(HS)

Nathania Bangga, Film Ave Maryam Disaksikan Puluhan Biarawati di Semarang

Perjalanan Dua Hari Dua Malam, Patrick Mota Dijadwalkan Datang Rabu 17 April