in

Sale Pisang Kering Ala Kedunggading Kendal Dipasarkan Hingga Luar Negeri

Salah satu warga Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kendal saat menjemur pisang untuk dibuat olahan sale.

 

MUNGKIN bagi sebagian orang Indonesia sudah tak asing dengan makanan sale pisang. Kuliner hasil olahan dari buah pisang yang disisir tipis kemudian dijemur ini memang banyak digemari masyarakat karena rasanya yang manis.

Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang, sehingga pisang sale lebih tahan lama. Tak hanya dijemur, untuk mengurangi kadar air dalam buah pisang, pengeringan juga bisa dilakukan dengan proses pengasapan.

Dengan proses pengolahan yang unik ini, sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas. Pisang sale yang sudah jadi, bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu.

Di wilayah Kabupaten Kendal, ada satu daerah yang warganya banyak memproduksi sale pisang ini. Warga Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kendal, memanfaatkan hasil panenan buah pisang yang melimpah di wilayahnya, untuk dibuat sale.

Salah satunya adalah Nur Fatikin, yang juga memiliki tempat penjemuran sale pisang di kampungnya.

Ditemui halosemarang.id, Senin (23/8/2021), Nur Fatikin mengatakan sudah sejak beberapa tahun lalu dia memproduksi sale pisang. Sale pisang buatannya bahkan banyak penggemarnya, karena rasanya renyah dan empuk.

“Saya pertama kali memulai usaha membuat sale pisang pada tahun 2008 hingga sekarang masih laris-manis,” ungkapnya.

Menurut Fatukin, untuk penjualan tidak hanya dipasarkan di sekitar Kabupaten Kendal, namun banyak juga tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang sering memesan sale pisang kepadanya.

“Pemasarannya, selain Kabupaten Kendal, banyak juga yang pesan dari Hongkong, Singapura, Taiwan dan Korea, rata-rata sekali kirim dua sampai lima kilogram,” imbuh Fatukin.

Untuk bahan dasar pisang didapat dari petani sekitar. Namun tentunya ada standarisasi pisang yang digunakan. Selain jenis tertentu, bahan pisang yang digunakan juga dipilih dengan kematangan yang baik, agar rasa pisang menjadi manis.

Soal omzet pun, dirinya mengaku, meski masih di tengah masa pandemi, namun penghasilannya masih stabil. Dalam sebulan dia bisa memperoleh omzet minimal Rp 10 juta sampai Rp 30 juta.

“Permintaan masih lumayan banyak. Dulu kendalanya cuaca, karena kalau hujan tak bisa menjemur. Tapi kini kami sudah buat tempat penjemuran khusus, yang bebas dari hujan, lalat, maupun debu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Budiono menyarankan, agar kemasan produk sale pisang warganya ini dibuat yang lebih menarik.

Selain itu, produk sale pisang ini harus didaftarkan supaya memiliki IRT, sehingga bisa dipasarkan di toko-toko modern atau supermarket.

“Melihat potensi yang bisa dikembangkan lagi, kami sudah menyarankan supaya bisa memiliki IRT, sehingga bisa diterima di supermarket atau toko-toko modern,” tukas Kades.(HS)

Share This

Kebakaran di Toko Elektronik Mijen Semarang, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta

Unika Soegijapranata Bagikan PTMB Award dan UKM Award di Penutupan PTMB 2021