in

Salat Idul Adha di Masjid dan Lapangan Terbuka di Zona Merah Ditiadakan

Menag Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Setkab.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Agama mengizinkan umat muslim untuk menggelar Salat Idul Adha di masjid, musala, dan lapangan terbuka, di luar zona merah dan oranye. Adapun penentuan zona tersebut, dilakukan oleh pemerintah daerah masing-masing.

Ketentuan mengenai Salat Idul Adha tersebut masuk dalam Surat Edaran (SE) Nomor 15 Tahun 2021 tentang penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Salat Idul Adha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan kurban di masa pandemi Covid-19, yang ditandatangani oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, beberapa waktu lalu.

Pengaturan tersebut, menurut Gus Yaqut, adalah untuk melindungi dan memberikan rasa aman kepada umat Islam, di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

“Untuk memberikan rasa aman kepada umat Islam di tengah pandemi Covid-19 yang belum terkendali dan munculnya varian baru, perlu dilakukan penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam penyelenggaraan Salat Idul Adha dan pelaksanaan kurban 1442 H,” kata dia, seperti dirilis Setkab.go.id.

Menurut Menag, edaran ini merupakan panduan dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pada semua zona risiko penyebaran. “Ini diterapkan dalam rangka melindungi masyarakat,” imbuhnya.

Edaran ini ditujukan kepada jajaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, pimpinan Ormas Islam, pengurus masjid dan musala, panitia peringatan hari besar Islam, serta masyarakat muslim di seluruh Indonesia.

“Pejabat Kementerian Agama di tingkat pusat, melakukan pemantauan pelaksanaan Surat Edaran ini, secara hierarkis melalui instansi vertikal di bawahnya,” kata Menag.

Adapun dalam SE tersebut, diatur bahwa malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha, pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid atau musala. Namun demikian pelaksanaannya harus dilakukan secara terbatas, paling banyak 10 persen dari kapasitas masjid atau musala tersebut.

Selain itu juga harus memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Menteri Agama juga melarang kegiatan takbir keliling, untuk mengantisipasi keramaian atau kerumunan.

Kegiatan takbiran juga dapat disiarkan secara virtual dari masjid atau musala, sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di tempat itu.

Untuk Salat Idul Adha 10 Zulhijjah 1442 H/2021 M, di lapangan terbuka, masjid, atau musala di zona merah dan oranye juga ditiadakan. Namun demikian untuk wilayah dengan zona selain merah dan oranya, Salat Id masih bisa diselenggarakan.

Adapun ketentuan untuk Salat Idul Adha di lapangan terbuka atau masjid di luar zona merah, penyelenggara dan jamaah tetap wajib melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

Salat Id dilaksanakan sesuai rukun salat dan penyampaian khotbah Idul Adha, paling lama 15 menit.

Jamaah yang hadir pun, dibatasi maksimal 50 persen dari kapasitas tempat, agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah.

Panitia Salat Hari Raya Idul Adha, wajib menggunakan alat pengecek suhu tubuh, untuk memastikan jemaah yang hadir, semuanya dalam kondisi tidak demam.

Bagi warga lanjut usia atau orang yang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, dilarang mengikuti Salat Idul Adha di lapangan terbuka, masjid atau musala.

Seluruh jemaah agar tetap memakai masker, dan menjaga jarak selama pelaksanaan Salat Hari Raya IduI Adha sampai selesai.

Setiap jamaah juga wajib membawa perlengkapan salat masing-masing, seperti sajadah, mukena, dan lain-lain.

Khatib diharuskan menggunakan masker dan face shield, pada saat menyampaikan Khotbah Salat Hari Raya Idul Adha.

Seusai pelaksanaan Salat Hari Raya Idul Adha, jemaah kembali ke rumah masing-masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

Sementara itu untuk penyembelihan hewan kurban, dilaksanakan dalam waktu tiga hari, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Hal itu untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan kurban.

Pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminansia (RPH-R). Tetapi jika jumlah dan kapasitas RPH-R tak mencukupi, dapat dilakukan di luar RPH-R dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging kurban kepada warga yang berhak menerima, wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.

Kegiatan pemotongan hewan kurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan kurban, dan disaksikan oleh orang yang berkurban.

Pendistribusian daging kurban, dilakukan langsung oleh panitia, kepada warga di tempat tinggal masing-masing, dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain.

Panitia Hari Besar Islam atau Panitia Salat Hari Raya Idul Adha, sebelum menggelar Salat Hari Raya Idul Adha di lapangan terbuka, masjid, atau musala, wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan unsur keamanan setempat, untuk mengetahui informasi status zonasi.

Selain itu untuk menyiapkan tenaga pengawas, agar standar protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali.

Dalam hal terjadi perkembangan ekstrem Covid-19, seperti terdapat peningkatan yang signifikan angka positif, adanya mutasi varian baru di suatu daerah, pelaksanaan SE ini disesuaikan dengan kondisi setempat. (HS-08)

Share This

Dies Natalis UPGRIS ke-40, PBI Gelar Pelatihan Seni Berbicara Di Depan Publik

Presiden Jokowi Tegaskan PPKM Mikro Kebijakan Paling Tepat Saat Ini