in

Sakit Parah Dan Tinggal Di Rumah Tak Layak Huni Sejak 2016, Supiyati Akhirnya Dipindah ke Panti

Jajaran Komisi D DPRD Kota Semarang saat menjemput Supiyati, janda yang tinggal di rumah tak layak huni di di Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur.

 

SEJAK 2016, Supiyati (53) bersama putranya Yanuar Iskandarsyah harus tinggal di rumah tak layak huni di sebuah lahan kosong di Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur.

Hal itu dilakukan karena keluarga ini tak mampu, dan Supiyati sebagai tulang punggung keluarga sakit-sakitan.

Namun setelah kabar ini sampai ke telinga para anggota DPRD Kota Semarang, keluarga kurang mampu tersebut akhirnya mendapati fasilitas untuk dipindah ke Panti Mardi Utomo, Kramas Banyumanik.

Menurut informasi yang dihimpun, sudah sekitar empat tahun Supiyati tinggal rumah bedeng yang tidak layak huni.
Terbuat dari bekas triplek, rumah ini menjadi tempat bernaung bagi Supiyati dan Yanuar.

Letak rumahnya pun bisa dibilang menegaskan, karena berada di tengah kebun kosong tak jauh dari Kampus Unisbank Kendeng, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang.

Untuk menuju ke sana perlu meniti jembatan kayu yang rapuh. Selain itu terletak di pinggir sungai kecil.

Ironisnya janda dua anak ini tidak bekerja karena sakit dan hanya bisa terbaring lemah. Sejak tahun 2016 lalu ia menderita sakit yang lumayan parah sehingga ia tidak bisa bekerja dan harus keluar dari rumah kontrakan yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal saat ini.

Supiyati dan Yanuar terdaftar sebagai warga Kelurahan Bendan Ngisor, RT 5 RW 3, Kecamatan Gajahmungkur.
Komisi D DPRD Kota Semarang, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Camat Gajahmungkur dan Lurah Bendan Ngisor, Rabu (20/1/2021) petang mendatangi kediaman Supiyati, untuk memberikan bantuan dan meminta keduanya mau direlokasi ke Panti Mardi Utomo.

“Memang kondisi Supiyati ini kurang sehat, kami tidak bisa bantu atau merekomendasikan bedah rumah karena lahan yang digunakan bukan milik beliau,” kata Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo.

Anang menjelaskan, kondisi warga Semarang seperti Supiyati ini memang mendesak diberikan bantuan agar mentas dari kemiskinan. Apalagi permasalahan utamanya adalah, Supiyati tidak bisa bekerja karena sakit, dan Yanuar putra keduanya pun baru lulus sekolah tahun lalu.

“Fokusnya adalah tertanggani dulu dari sisi kesehatan ataupun permukiman yang layak, kita ajak lintas dinas untuk memberikan pemecahan masalah biar bisa tertangani. Dikarenakan mereka belum bisa mandiri,” jelasnya.

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, fasilitasi yang pertama adalah bidang kesehatan, di mana dirinya mendorong Dinkes untuk mengakomodir perawatan Supiyati. Selain itu, memberikan kesempatan bekerja kepada Yanuar dan memindahkan keduanya ke tempat yang lebih baik.

“Nanti kalau Yanuar ini bekerja, dan sudah mandiri, bisa pindah dari Panti, misal mau ngontrak atau beli rumah. Disnaker¬†dan Camat siap memberikan fasilitas. Yang jelas permasalahan seperti ini harus tertangani,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Semarang, Tri Waluyo menjelaskan, jika penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Semarang sebenarnya tidak besar jumlahnya, kurang dari tiga persen dari jumlah penduduk.

“Kita lakukan assement, kebutuhan dan kesulitannya apa. Biasanya teridentifikasi kesehatan dan rumah, hal ini lalu kita komunikasikan ke DPRD dan lintas OPD,” tambahnya.

Dia menjelaskan, meskipun angkanya kecil. Dinsos fokus pada persoalan PMKS ini. Menurut Tri Waluyo, angka ini biasanya datang dari para pendatang yang kemudian tinggal dan menjadi warga Semarang.

“Banyak yang dari luar Semarang atau pendatang. Untuk kasus ini, sebelumnya Supiyati enggan ke panti. Namun akhirnya mau, ya harusnya mau dulu agar mendapatkan tempat yang layak,” tuturnya.

Di Panti sosial, lanjut dia, masyarakat yang masuk dalam PMKS ini bisa tinggal di rumah petak gratis. Di sana pun bisa dibekali dengan keterampilan kerja, misalnya bengkel, batik ciprat ataupun yang lainnya.

“Setelah mandiri, bisa keluar dan membuka lapangan kerja,” tambahnya.

Sementara itu, Yanuar mengaku berterima kasih mendapatkan bantuan dari Pemkot dan DPRD Kota Semarang.

Dia pun siap jika memang harus ditempatkan di panti untuk sementara waktu. “Ibu mau diperiksa dulu, setelahnya kami tinggal di panti,” tutur lulusan SMK N 4 Semarang ini.

Dirinya menjelaskan, jika ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayah Yanuar sudah berpisah atau cerai dengan Supiyati yang otomatis menjadi tulang punggung keluarga. Sementara kakak Yanuar, sudah berkeluarga dan tinggal di Blora.

“Sebelumnya saya ingin kerja waktu ibu tidak bisa kerja, tapi saya diminta tetap sekolah dan terpaksa pindah ke sini. Keluhan ibu perutnya ada benjolan, kakinya pegel,” jelasnya.

Selama beberapa tahun tinggal di dekat kandang ayam, Yanuar dan Supiyati hidup seadanya. Mereka hanya mengandalkan bantuan dari kelurahan, dan tetangga terdekat yang merasa iba melihat keduanya.(HS)

Share This

Sehari Mendapat SK, Febi langsung Sidak Ke Pasar Weleri

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya Kamis, (21/1/2021)