in

Saham Bank Mandiri Makin Prospektif

Foto ilustrasi.

HALO SEMARANG – Saham bank beraset kecil yang bertransformasi menjadi bank digital ramai diperdagangkan di bursa saham Tanah Air.

Beberapa emiten bahkan harga sahamnya sudah ’terbang’ dengan PBV dan PER yang sangat mahal. Padahal, kinerja sejumlah bank mini tersebut masih rugi pada semester I-2021, bahkan ada yang belum beroperasi secara digital. Sementara itu, harga saham sejumlah bank beraset besar yang mencatatkan kinerja positif, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), justru dalam kondisi terlalu murah.

Menurut analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Ardiastama, saham Bank Mandiri diyakini masih akan bertengger di 10 besar market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham bank ini dinilai masih sangat prospektif untuk memberikan return yang optimal bagi investor saham. Sebab, Bank Mandiri terbukti cepat pulih dari dampak pandemi Covid-19. Terbukti, dari kemampuan perseroan dalam meraih performa positif pada paruh pertama tahun ini.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan transaksi digital Bank Mandiri yang turut menopang kenaikan perolehan margin bisnis ke depan.

Berdasarkan data kinerja semester I-2021, penggunaan aplikasi Livin’ by mandiri meningkat pesat mencapai 7,8 juta nasabah dengan nilai transaksi finansial sebesar Rp 728,9 triliun, tumbuh 59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, perseroan akan fokus memacu inovasi digital untuk meningkatkan akses nasabah kepada layanan dan produk perbankan.

Dalam waktu dekat, Livin’ by mandiri akan ditingkatkan lagi fiturnya untuk menjadi super app, yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan transaksi finansial nasabah ritel terutama dari Mandiri Group.

“Untuk nasabah wholesale, kami tengah mengembangkan platform digital, sehingga seluruh transaksi nasabah wholesale akan terintegrasi ke dalam satu platform yang rencananya akan diluncurkan pada kuartal IV tahun ini. Semua itu menjadikan mandiri sebagai bank beyond digital banking,” kata Darmawan dalam paparan publik, belum lama ini.

Sementara itu, Okie Ardiastama memproyeksikan net interest margin (NIM) Bank Mandiri tahun ini sebesar 4,73%. Rendahnya cost of fund juga menjadi penopang kenaikan margin tersebut.

Adapun kualitas aset Bank Mandiri diproyeksikan makin membaik dengan NPL diprediksi turun dari 3,09% pada 2020 menjadi 3,01% pada akhir 2021. Pertumbuhan kredit diproyeksikan tumbuh 2,89% (yoy), yang akan didorong oleh distribusi KUR yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Okie merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga Rp 7.500 untuk 12 bulan ke depan.

“Investor dapat mempertimbangkan BMRI dan tentunya juga perlu dikombinasikan dengan strategi masing-masing, baik dalam money management maupun profil risiko,” ujar dia.

Di lain pihak, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, secara teknikal, pergerakan saham BMRI cukup baik. BMRI masih berpeluang melanjutkan penguatan.

“Kami mencermati BMRI dapat dijadikan salah satu saham pilihan untuk jangka menengah terlebih dahulu. Adapun untuk strategi investasi bisa melakukan buy on weakness,” jelasnya.

Sebelumnya, analis BRI Danareksa Sekuritas Eka Savitri dalam risetnya memberikan pandangan positif terhadap rencana Bank Mandiri meluncurkan super app. Kehadiran aplikasi super itu berpotensi mendukung pertumbuhan CASA ritel dan pendapatan di luar bunga.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 8.000. Target harga tersebut juga mengimplikasikan perkiraan PBV tahun ini sekitar 1,9 kali.(HS)

Share This

Langgar Jam Operasional, Dua Cafe Di Semarang Disegel Satpol PP

Puluhan Pramuka dan Masyarakat di Banyumas Ikuti Donor Darah Hari Pramuka