in

Sadar Akan Keunikan Jembatan Kalikuto, Warga Memanfaatkan Sebagai Objek Wisata

Jembatan Kalikuto, yang terletak di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang.

 

HALO KENDAL – Jembatan Kalikuto, yang terletak di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Batang, konon adalah jembatan pertama di Indonesia yang strukturnya dirakit di lokasi pemasangan.

Jembatan Kalikuto dirancang sepanjang 164 meter, dengan bentang utama 100 meter, dan jalan pendekat di sebelah barat dan timur masing-masing 32 meter.

Panjang bagian utama Jembatan Kalikuto yaitu 100 meter. Sedangkan dua jembatan di sampingnya masing-masing 30 meter. Jadi totalnya 160 meter.

Jembatan dengan material baja berbobot 2.400 ton ini, sebagian materialnya dibuat di Perancis, tetapi perakitnya dilakukan orang Indonesia dan dirakitnya pun di tiga tempat berbeda yakni di Serang, Tangerang, dan Pasuruan.

Sadar akan potensi yang bisa dikembangkan dari jembatan ini, warga Desa Sambongsari, Kecamatan Weleri, menyulap lahan kosong di pinggir Jembatan Merah Kalikuto menjadi lokasi wisata kekinian.

Mereka pun membangun kedai atau warung sederhana atau biasa disebut angkringan di pinggir sungai Kalikuto tersebut.

Bahkan, mereka memanfaatkan bukit untuk arena spot. Sehingga dua spot yang berdekatan di lokasi yang berbeda itu pun menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Dari ketinggian bukit, pengunjung bisa melihat lengkung Jembatan Kalikuto yang mencolok di tengah asrinya alam sekitar yang hijau.

Pengunjung pun bisa, bersantai menikmati pemandangan, sekaligus berswafoto bersama teman maupun keluarga sambil menikmati hidangan kopi yang dijajakan para pedagang.

Menurut salah seorang pengunjung yang ditemui halosemarang.id, Risna Oktaverdian, jika datang alangkah baiknya pada malam hari.

Kerena menurutnya, di sini jika malam pemandangannya bagus dan banyak sekali angkringan, yang menjajakan aneka makanan dan minuman.

“Saya biasa datang ke sini bersama keluarga, sambil menikmati spot sungai dan nuansa jembatan Merah Kali Kuto,” ujarnya, Sabtu (5/6/2021).

Layaknya kebanyakan angkringan, pengunjung bisa menikmati berbagai penganan murah sembari menikmati suasana perdesaan di tempat tersebut.

“Tidaklah sulit menemukan kedua tempat ini. Penandanya, jika kita melihat jembatan melengkung berwarna merah di Weleri, di situlah tempatnya,” imbuh Dian.

Menurut penuturan salah seorang pedagang, Siti Fadiah, pedagang yang berjualan di lokasi tersebut adalah warga asli Sambongsari.

“Ya semua yang jualan di sini asli warga Desa Sambongsari. Warga dari luar desa tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Ia pun mengungkapkan, selama ini tidak sedikit pengunjung atau pengendara yang menyempatkan diri sejenak berhenti di sekitar jembatan ini.

“Ya banyak yang datang ke sini, entah untuk sekadar duduk-duduk santai atau selfie, istirahat sejenak atau mengisi perut di warung,” terangnya.

Namun diakuinya, semenjak pandemi, pengunjung di sini pun menurun dan mereka pun menutup lapak dagangannya lebih awal dari biasanya.

“Senjak ada pandemi dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kami lebih gasik tutup. Sesuai dengan anjuran dari pemerintah,” ujar Siti.

Sementara itu, Kepala Desa Sambongsari, Kecamatan Weleri, Bani Ardi mengaku selama ini aktivitas wisata masih belum jalan lagi seperti biasa.

“Sementara ini, kita masih lakukan pembenahan. Apalagi masih masa pandemi jadi belum jalan lagi seperti biasanya,” tukas Kades Sambongsari.(HS)

Share This

Menparekraf Sandiaga Uno: Desa Wisata Simbol Kebangkitan Ekonomi Nasional

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sampah Plastik Masih Menjadi Fokus Utama