in

Rumdin Lurah di Semarang Banyak yang Kosong

Salah satu rumah dinas (Rumdin) lurah yang kosong jadi tak terawat.

 

HALO SEMARANG – Kondisi rumah dinas (Rumdin) yang diperuntukkan untuk Lurah di Kota Semarang, ternyata banyak yang kosong. Karena dibiarkan kosong, ada rumah yang akhirnya dimanfaatkan untuk kantor lembaga kelurahan seperti Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), LPMK, PKK, ataupun lainnya.

Rumdin bagi lurah atau camat sendiri, biasanya dibuat tak jauh dari lingkungan kelurahan atau masih berada dalam satu kompleks kantor kelurahan di lahan milik Pemkot Semarang. Tujuannya untuk mendekatkan para lurah dan camat dengan kantornya, sehingga jika keadaan mendadak bisa cepat merespon.

Namun majunya teknologi dan alasan domisili yang masih terjangkau dengan kantor kelurahan atau kecamatan, membuat rumdin digunakan untuk keperluan lainnya, seperti digunakan menginap mahasiswa KKN ataupun dibiarkan kosong.

Pantauan di lapangan, ada beberapa rumdin lurah yang tidak digunakan, seperti di Mangkang Wetan, rumput liar nampak tumbuh tinggi di depan dan samping rumah berwarna merah ini. Konon rumdin ini tidak ditempati dan hanya digunakan ketika ada kegiatan tertentu.

Bangunan pun masih terlihat kokoh dan terawat dengan baik. Hal yang sama juga terlihat di Kelurahan Tambak Aji yang dibiarkan kosong. Sementara di Kelurahan Purwoyoso rumdin milik lurah digunakan untuk kantor BKM. Kondisinya pun ada yang ditumbuhi ilalang cukup tinggi hingga terkesan angker.

“Setahu saya memang tidak ditempati, sengaja dikosongkan alasannya tidak tahu kenapa? Konon sih memang di situ tempat yang wingit,” kata Khuseni, warga yang tinggal di sekitar rumdin lurah Mangkang Wetan, baru-baru ini.

Konon kata warga, daerah Kalisasak Mangkang Wetan tempat berdirinya rumdin milik lurah ini terkenal wingit atau angker. Letaknya pun terpencil, dekat dengan persawahan, dan kebun. Meski dibiarkan kosong, kadang-kadang rumdin tersebut digunakan untuk kegiatan lainnya.

“Yang penting lurahnya selalu ada, kebetulan kan domisilinya dekat. Jadi beliau memilih tinggal di rumah pribadi,” ujarnya.

Lurah Purwoyoso, Patrick Bagus Yudhistira yang merelakan rumdin yang menjadi haknya dijadikan kantor BKM mengatakan, tujuannya tak lain agar kegiatan kemasyarakatan bisa terpusat di kantor kelurahan.

“Ya daripada sewa kan malah membebani masyarakat, rumah saya juga dekat jadi saya iklhas untuk dipakai masyarakat,” ujar Patrick.

Meski tidak ditinggali, kata dia, anggaran perawatan dan perbaikan tetap ada di tingkat kelurahan ataupun kecamatan. Sehingga fisik rumdin bisa tetap terjaga jika sewaktu-waktu digunakan atau digunakan keperluan mendadak.

“Kalau anggaran perbaikan ada, karena digunakan kantor BKM jadi malah ada yang ngerawat,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi A DPRD Kota Semarang, Budiharto mengatakan, rumdin milik lurah dan camat ini adalah aset Pemkot Semarang. Dulu tujuannya dibangun adalah para lurah dan camat ini bisa dekat dengan kantor tempatnya bekerja.

“Ini memang masuknya aset, kalau memang ada yang tidak digunakan tentu akan kami pantau dan kami sosialisasikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Pemkot Semarang, Kartika Hedi Aji menjelaskan, jika rumdin yang tidak ditempati oleh lurah ataupun camat ini, biasanya digunakan untuk fungsi pelayanan masyarakat seperti LPMK ataupun yang lainnya.

“Memang rumdin ini ada juga yang ditinggali, ada juga yang hanya moment tertentu di mana dalam kondisi mendesak. Namun kalau tidak ditempati biasanya digunakan kegiatan kemasyarakatan,” katanya.(HS)

Share This

BNNP Jateng Musnahkan Barang Bukti Pengungkapan Narkotika Di Wilayah Jateng

Melalui Medsos, Pemkab Kendal Respon Cepat Aduan Warga Juwiring