Gerakan ‘Di Rumah Saja’, Ketua APPSI Jateng: Ada Cara Lain Yang Lebih Humanis

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jawa Tengah, Suwanto/dok.

 

HALO SEMARANG – Pemprov Jateng mengeluarkan gerakan ‘Di Rumah Saja’ yang direncanakan pada tanggal 6 dan 7 Februari, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Dalam surat edaran Gubernur Jawa Tengah nomor 443.5/0001993 menerangkan, bahwa gerakan ini dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat di Jawa Tengah. Salah satu kebijakannya termasuk penutupan pasar tradional.

Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jawa Tengah merespon gerakan ‘Di Rumah Saja’ yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jawa Tengah, Suwanto ada cara lain yang tidak mengorbankan segi perekonomian sebagai upaya menahan laju penularan Covid-19.

“Bukannya tidak setuju, tetapi masih ada cara lain yang tidak mengorbankan ekonomi, misalnya penegakkan atau disiplin yang lebih ketat, khususnya protokol kesehatan kepada pedagang-pedagang pasar tradisional,” kata Suwanto yang dihubungi halosemarang.id melalui pesan WhatsApp, Rabu (3/2/2021).

Suwanto membeberkan jumlah pedagang Pasar Tradisional di Jawa Tengah kurang lebih ada 350.000 pedagang.

“Untuk pedagang pasar tradisional di Kota Semarang ada 17.500 pedagang. Kalau seluruh Jawa Tengah kurang lebih ada 350.000 pedagang,” ungkapnya.

Selain itu Suwanto menegaskan, untuk menjaga kesetabilan kegiatan perekonomian semestinya bisa dilaksanakan dengan cara mengoptimalkan protokol kesehatan. Sehingga perekonomian akan mengikuti tumbuh kembali.

“Dari pada aktivitas masyarakat dihentikan total termasuk kegiatan berdagang di Pasar Tradisional, lebih baik dilakukan dengan cara yang lebih harmonis. Ini juga penting untuk menjaga kegiatan ekonomi yang sudah begini,” tutup Susanto.

Melansir kembali surat edaran dari Gubernur Jawa Tengah terkait gerakan ‘Di Rumah Saja’ dalam pelaksanaan operasi penegakan disiplin protokol kesehatan, akan dilaksanakan secara massif. Operasi ini melibatkan Satpol PP, Polri/TNI dan instansi terkait di wilayah masing-masing.

Selain itu juga mendorong secara aktif camat, lurah/ kepala desa dalam operasionalisasi Jogo Tonggo yang mendukung fungsi puskesmas dalam pelaksanaan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment).(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.