in

Rumah Artefak Blora Kembali Dibuka, Pengunjung Berfoto Bersama Patung Homo Erectus

Pengunjung berfoto bersama patung rekonstruksi homo erectus progresif, di rumah artefak Blora. Patung itu bantuan dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Sejumlah siswa SMKN 1 Blora Jurusan Multi Media, yang melaksanakan praktik kerja industri (prakerin), nampak asik membuat dokumentasi (foto dan video) di Rumah Artefak, di bagian timur kompleks GOR Mustika Blora.

Sesekali mereka bertanya kepada petugas, tentang berbagai benda koleksi rumah artefak itu.

“Senang bisa belajar sejarah purbakala, langsung dari petugas yang berkompeten. Kemudian membuat video, foto untuk konten media sosial,” kata Elsa Kurniawati, salah satu siswa SMKN 1 Blora Jurusan Multi Media.

Ungkapan senada disampaikan siswa lainnya, Aida Isma Febrianti. Dia mengaku sempat heran dengan patung rekonstruksi homo erectus progresif, yang dipasang di tempat itu.

“Tetapi setelah dijelaskan oleh petugas, akhirnya bisa mengerti. Saya buat video, foto dan swafoto dengan teman-teman. Rumah Artefak Blora sangat menarik, ada fosil paus purba dan benda pusaka. Saya baru pertama kali mengunjungi Rumah Artefak, asik pokoknya,” kata dia, seperti dirilis Blorakab.go.id.

Untuk diketahui, di Rumah Artefak tersimpan sekitar 200 buah benda cagar budaya dari empat peradaban, mulai masa prasejarah, masa klasik Hindu Budha, masa masuknya Islam, hingga masa kolonial. Setiap hari tempat itu dijaga dan dirawat oleh petugas dari Dinporabudpar Blora.

Selain sebagai tempat penyimpanan, Rumah Artefak juga menjadi tempat perawatan dan konservasi benda cagar budaya. Perawatan dilakukan oleh para staf seksi sejarah kepurbakalaan Dinporabudpar Blora, yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) di Sangiran, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah dan lain-lain.

Ratusan benda cagar budaya di rumah artefak ini, sebagian besar berasal dari hibah oleh masyarakat, yang tergabung dalam komunitas Forum Peduli Sejarah Budaya Blora (FPSBB), dari hasil riset oleh BPSMP Sangiran di Blora.

Serta beberapa koleksi pemkab yang berasal dari temuan masyarakat yang diapresiasi dalam bentuk ganti untung.

Koleksi rumah artefak berupa fosil-fosil dari kepala banteng, kepala kerbau, gading gajah purba, peralatan manusia purba, perhiasan bekal kubur Kalang, arca dari masa klasik, peralatan dan berbagai senjata dari masa Islam serta kolonial.

Koleksi itu terus bertambah karena makin kuatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian cagar budaya untuk anak cucu ke depan. Kegiatan konservasi serta perawatan di rumah artefak berjalan terbuka dan masyarakat yang tertarik bisa belajar bersama, bagaimana menangani benda cagar budaya sesuai standart perawatan yang benar.

Selain koleksi benda-benda prasejarah dan sejarah, di tempat itu juga dipajang patung rekonstruksi homo erectus progresif. Patung bantuan dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran ini, rupanya bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.

Rumah Artefak Blora mulai dibuka kembali setelah Blora masuk PPKM Level 2 dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

“Untuk Rumah Artefak Blora kembali dibuka setelah Blora masuk PPKM Level 2. Itu pun bagi pengunjung harus menerapkan protokol kesehatan, termasuk kapasitasnya juga dibatasi,” kata Kepala Seksi Sejarah Purbakala Dinporabudpar Kabupaten Blora Eka Wahyu Hidayat, di Blora, Kamis (23/9).

Pihaknya mempersilahkan warga untuk datang dan mengunjungi serta meminta penjelasan dari petugas berkaitan dengan aneka benda yang menjadi koleksi di Rumah Artefak Blora.

Menurutnya, Rumah Artefak Blora dipercantik untuk memikat pengunjung oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. BPSMP Sangiran dengan memberikan bantuan teknis berupa penataan display koleksi benda cagar budaya milik Pemkab Blora yang disimpan dan dirawat di Rumah Artefak.

Hal itu dilakukan sebagai amanah Undang-undang No 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, yang menyatakan setiap orang berhak memperoleh dukungan teknis atau kepakaran dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah, atas upaya Pelestarian Cagar Budaya yang dimiliki atau yang dikuasai.

Dengan adanya bantuan teknis tersebut nantinya pengunjung atau publik bisa mendapatkan informasi, melalui interpretasi terhadap koleksi secara baik, benar, dan menarik. Dengan demikian diharapkan Rumah Artefak mampu berperan optimal memberikan edukasi, informasi, dan hiburan kepada publik.

Ditambahkan, melalui penataan koleksi pada display secara menarik, baik dan benar, dilengkapi dengan label atau poster informasi yang mudah dipahami, tata cahaya yang mendukung untuk melihat secara nyaman, alat peraga dan patung rekonstruksi homo erectus progresif, diharapkan memberikan nuansa kesenangan dan pengetahuan secara sinergis.

“Memang patung rekonstruksi homo erectus progresif yang dipajang di Rumah Artefak menjadi salah satu ikon yang menari pengunjung. Silahkan kalau akan swafoto, tetapi hati-hati jangan sampai merusak patung,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, ke depan Rumah Artefak menjadi salah satu tujuan kunjungan publik, yang ingin mendapatkan pengetahuan alam, budaya, dan sejarah manusia.

Museum Mini

Rumah Artefak, juga menjadi percontohan museum mini yang cukup informatif dan menarik, sekaligus ruang diskursus berbagai studi ilmu, yang akan menguatkan dan memperkaya generasi muda pada pendidikan, budaya, kesenian, dan pariwisata yang menjadi kebanggaan Blora.

Pihaknya berterima kasih kepada BPSMP Sangiran, yang telah memberikan bantuan teknis berupa penataan display koleksi yang dimiliki Rumah Artefak.

“Kita selama ini banyak mendapatkan bantuan teknis, ini bukan yang pertama, tapi kita memang ada beberapa kali bantuan teknis yang semacam ini, termasuk bantuan pelatihan pada teman-teman untuk perawatan terhadap temuan-temuan kita. Kita banyak dibantu, terima kasih BPSMP Sangiran,” ungkapnya.

Dirinya berkeinginan bahwa Rumah Artefak yang ada di Blora adalah sebagai embrio berdirinya museum. Karena memang di perda tentang cagar budaya hal itu, merupakan amanat bahwa kita harus punya museum, ini agar tercapai pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya sesuai amanah UU No 11 tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan UU No 5 tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. (HS-08).

Share This

Perguruan Tinggi Diajak Bantu Mengentaskan Kemiskinan dan Stunting

Kemenag Dorong Dibentuknya FKUB Pusat