in

Rindu Masakan Kampung, Prajurit TNI Ini Terjun Tekuni Warung Kuliner

Kopral Dua (Kopda) Sunawan, akrab disapa James Owner kedai Wedangan Omahe Dewe yang berlokasi di Jalan Potrosari 1, Srondol Kulon, Banyumanik, Kota Semarang.

 

AKTIVITAS seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) terbilang cukup berat. Termasuk ketika sedang berlatih tempur. Belum lagi, harus siap ditugaskan di mana saja.

Dengan demikian, demi menjalankan tugas, prajurit TNI harus siap berpisah dengan keluarga. Menjadi wajar saat lama tidak pulang kemudian tumbuh rasa rindu dengan orang terdekatnya, termasuk rindu akan masakan kampung halaman.

Hal ini dirasakan oleh Kopral Dua (Kopda) Sunawan, prajurit TNI Angkatan Darat asal Gunung Kidul, DIY yang bertugas di Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 400/Banteng Raiders yang bermarkas di Srondol, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Untuk mengobati rindu masakan kampung, membuat dirinya terjun pada dunia kuliner dengan mendirikan kedai Wedangan Omahe Dewe yang berlokasi di Jalan Potrosari 1, Srondol Kulon, Banyumanik, Kota Semarang.

“Saya merasa orang perantauan cari makanan khas daerah saya itu sulit, masakan ibu saya lah. Apalagi saya jadi anggota yang selalu dipindah tugaskan,” kata Sunawan saat ditemui halosemarang.id di kedainya, Kamis (18/2/2021).

Sejak duduk di bangku STM Muhammadiyah 1 Wonosari, Gunungkudul, kecintaan terhadap kuliner sudah muncul. Karena jarak yang jauh dengan rumah inilah yang kemudian membuatnya semakin bereksperimen belajar masak secara otodidak.

Pria yang akrab disapa James ini, menjadi anggota TNI sejak tahun 2008 hingga akhirnya bertugas di Yonif Raider 400/BR. Daerah rawan konflik menjadi tempat di mana dia ditugaskan.

Tahun 2015, selama setahun dirinya dikirim ke Arso, Kabupaten Keerom, Papua. Setelah itu pada tahun 2017 bertugas sebagai pasukan utama Satgas Yonmek Konga TNI XXIII-L/UNIFIL melaksanakan tugas perdamaian di Lebanon selama satu tahun. Kembali bertugas ke Papua pada tahun 2020.

Selama James bertugas, puncak kemunculan rindunya terhadap masakan kampung khususnya masakan ibunda tercinta tak terelakkan.

“Akhirnya saya mantapkan untuk mendirikan Wedangan Omahe Dewe ini, untuk mengobati rasa rindu saya pada masakan kampung di Gunungkidul. Tidak hanya untuk mengobati rasa rindu saya, namun juga bagi para perantau yang berada di Semarang,” tuturnya.

Tahun 2021 memantapkan dirinya mendirikan usaha ini. Salah satu faktor lain, melihat orang yang tidak bekerja akibat dampak pandemi Covid-19.

“Selain sebagai obat kangen saya pada kampung, saya membuka peluang kerja karena melihat banyak pengurangan karyawan di banyak perusahaan itu,” ujar James.

James menawarkan dekorasi kedainya dengan balutan tradisional Jawa. Mengusung konsep tahun 80an dirinya mengajak pelanggan untuk bernostalgia.

“Saya mengusung konsep 80an, orang masuk harapan saya itu merasa seperti di omahe dewe (rumahnya sendiri). Jadi enggak ada gengsi, enggak ada apapun itu,” terang pria yang sudah megabdi pada negara 13 tahun ini.

Selain dekorasi yang beraroma pedesaan, tentunya menu makanannya juga mengikuti konsep. Menu yang menjadi andalan disajikan di kedai Omahe Dewe yaitu nasi berkat. Menu ini disajikan cukup unik dengan dibungkus daun jati dan isinya nasi, bihun, srundeng, oseng-oseng tempe, lombok hijau dan daging sapi.

Kedai Omahe Dewe buka pada pukul 18.00-23.00 WIB. Semua menu yang ada dirinya bandrol harga terjangkau. Di antaranya pecel ndeso, jadah bakar, mendoan, tahu susur, klenyem, pisang goreng, teh poci jawa, jahe geprek, susu jahe, wedang uwuh, kopi klotok dan kopi jos.

“Nasi berkat ini jadi andalan Omahe Dewe. Harganya tak merogoh kocek cuma Rp 7.000. Selain itu ada teh poci yang saya racik sendiri memakai gula batu,” jelasnya.

Selain itu dalam proses menyajikan hidangan, dirinya meramu dengan proses pemasakan tidak menggunakan bahan bakar gas.

“Kami enggak menggunakan gas elpiji, kami hanya pakai bahan bakar kayu,” jelasnya.

Musik Keroncong

James juga ditemani rekan dalam bertukar gagasan, inovasi, dan strategi menjalankan bisnis ini.

“Awalnya temen saya ada yang ikut bang James ini, saya kan dulunya kerja di salah satu resto. Ketemu beliau, ngobrol kok cocok sama perantauan. Rindu kampung, jadi gini muncul tema tradisional. Ya akhirnya jadi inilah Wedangan Omahe Dewe,” kata Irawan teman James dalam menjalankan bisnis saat ditemui di tempat yang sama.

Pengembangan menu lain juga akan dilakukan, lanjut Irawan berencana akan membuka usahanya dari pagi hingga malam untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Sajian menu lainnya yaitu makanan khas Jawa Tengah dan DIY. Di antaranya gudeg mercon, sate kere, sego gandul dan lainnya.

“Seluruh lapisan masyarakat baik keluarga maupun anak muda boleh masuk, ya bagi mereka yang perantauan rindu kampung halaman,” imbuhnya.

Setiap minggunya pelanggan dimanjakan dengan hiburan musik keroncong yang menjadi pengikat untuk mencintai budaya bangsa.

“Di kedai Wedangan Omahe Dewe juga terbuka untuk komunitas yang ingin berkumpul, tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan,” pungkasnya.(HS)

Share This

Piala Menpora 2021, Ini Target PSIS

Jelang Pelantikan, Basuki Kunjungi Ulama dan Tokoh Masyarakat