in

Revitalisasi Kota Lama Tahap Dua Dianggarkan Rp 70 Miliar, Lalu Dilanjutkan Pecinan, Melayu, dan Kauman

Kampung Pecinan Semarang, yang akan direvitalisasi setelah proses revitalisasi kawasan Kota Lama peninggalan Belanda selesai.

 

HALO SEMARANG РSetelah mempercantik area dalam kawasan Kota Lama Semarang, pada pertengahan Oktober 2019 ini, revitalisasi Kota Lama Semarang tahap kedua akan segera dilanjutkan. Adapun anggaran untuk pelaksanaan pembenahan di sekitaran kawasan Kota Lama untuk tahap kedua, direncanakan mencapai Rp 70 miliar.

Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Kota Lama (BP2KL) Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, untuk pendanaan revitalisasi tahap dua, tetap bersumber dari Kementerian PUPR, dan ditargetkan selesai pada April 2020.

Setelah kawasan Kota Lama tinggalan Belanda selesai dipugar, akan dilanjut dengan revitalisasi tiga kawasan Kota Lama lain, seperti kawasan Kauman, Pecinan, dan kampung Melayu.

“Untuk revitalisasi tahap dua ini, akan meliputi di luar kawasan pada tahapan sebelumnya, yaitu Jalan Sendowo, Suari, dan Kedasih, serta Jalan Merak. Termasuk bangunan yang akan jadi museum Polder Bubakan. Rencananya akan dibuat polder, lengkap dengan air mancurnya, tapi di situ ada artefaknya berupa peninggalan benteng. Jadi nanti dibangun museum dan ada ruang terbuka hijau. Sama dengan Pompa Mberok, nanti akan ditutup dan difungsikan sebagai Pusat Informasi Kawasan Kota Lama,” imbuh Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Sedangkan untuk pembenahan tiga kawasan Kota Lama lain, lanjut Wawali Kota Semarang itu, sudah dilakukan penelitian mendalam. Bahwa selain kawasan Kota Lama peninggalan Belanda, kawasan lain seperti Pecinan, Melayu, dan Kauman juga memiliki nilai historis tinggi berkaitan dengan peradaban di Kota Semarang masa lampau.

“Penelitian ini digagas oleh Profesor Yohannes Widodo, dengan tim dari Untag Semarang jurusan arsitektur, tentang Semarang Lama. Hasilnya tidak hanya Kawasan Kota Lama peninggalan Belanda yang memiliki nilai historis dan perlu dijaga dengan baik. Tetapi juga tiga daerah tersebut harus dilestarikan. Sehingga hal ini jadi pekerjaan rumah kami, dan sudah ada arahan dari Bapak Wali Kota untuk dilakukan pembenahan, baik dari sisi sarana dan prasarananya, maupun kehidupan sosial dan lain sebagainya,” terangnya.

Dijelaskan Ita, bahwa dari Detail Engineering Design (DED)-nya revitalisasi tiga kawasan tersebut sudah dibuat, termasuk penyusunan master plan. Untuk konsep, sama dengan konsep di Kota Lama peninggalan Belanda, diharapkan bisa dibantu oleh Kementerian PUPR.

Bangunan bersejarah yang ada di kawasan Kauman, misalnya masjid Kauman Semarang, dulunya merupakan salah satu pusat untuk penyebaran agama Islam di Kota Semarang.(HS)

Gelar Isemantic, Udinus Libatkan Pembicara Dari Australia dan Jepang

Tak Terpengaruh Kabut Asap, PSIS Bawa 18 Pemain ke Kalimantan