in

Rawan Tumbang, Pohon Peneduh di Kota Semarang Diganti Pule dan Tabebuya

Bibit pohon jenis pule dan tabepuya ditanam di Taman Mangkang, sebagai pengganti pohon peneduh yang selama ini ada. Penggantian itu untuk mencegah peristiwa pohon tumbang yang dapat membahayakan pengguna jalan. (Foto : Yulianto)

 

HALO SEMARANG – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), Kota Semarang mulai meremajakan pohon peneduh jalan yang terlalu rindang, dengan jenis pule dan tabebuya. Hal ini untuk mencegah pohon tumbang saat musim hujan sepeti saat ini.

Kabid Pertamanan dan Pemakaman Disperkrim Kota Semarang, Murni Ediati menjelaskan selain itu juga dilakukan perempelan pohon dilakukan pada pohon-pohon yang rawan misalnya terlalu rindang dan berukuran besar.

Perawatan terhadap  pohon yang ada di jalan protokol sudah dilakukan rutin tiga bulan sekali dengan melakukan pemotongan batang maupun dahan pohon.

“Kita sudah lakukan perawatan , tiga sampai empat bulan sekali batang dan dahan pohon kita rapikan,” kata Pipie, sapaan akrabnya, Senin (13/12/2021).

Pohon peneduh yang dilakukan perawatan hampir semua ruas jalan protokol dan rawan pohon tumbang. Apalagi pohon jenis angsana dan akasia. Misalnya di Jalan Veteran, nampak pohon-pohon peneduh ini nampak tumbuh besar dan berdahan rindang.

Selain itu pemandangan yang sama juga ada di Batan Miroto, Kampung Kali atau DI Panjaitan, sampai ke Jalan Kartini yang juga menghawatirkan. Belum lagi pohon peneduh yang ada di pinggiran kota juga rawan tumbang.

“Sebenarnya idealnya harus ada 16 tim yang melakukan perawatan terhadap pohon peneduh. Namun kita hanya punya tiga tim, satu timnya 10 orang. Minimal kita punya delapan tim, sehingga satu tim bisa mengover dua kecamatan,” paparnya.

Namun, kata dia, setiap pohon punya spesifikasi atau karekteristik yang beda. Misalnya pohon beringin di Taman Gajahmungkur yang belum lama ini roboh, padahal dari segi akar pohon beringin dikenal lebih kuat.

Pipie tidak memungkiri jika saat musim hujan ini banyak aduan masyarakat yang khawatir dengan kondisi pohon yang rawan tumbang. Laporan ini masuk ke hotline Disperkrim ataupun kanal pengaduan lainnya.

Laporan terbanyak, lanjut Pipie terutama pada jenis pohon angsana dan akasia yang saat ini masih banyak di jalan-jalan protokol. Jenis pohon ini pun dikenal cepat tumbuh, namun memiliki kekurangan yakni akarnya kurang kuat dan merusak trotoar.

“Ini pohon rintisan dan memang sudah tua, juga butuh peremajaan. Akarnya pun merusak trotoar, nah kita akan ganti dengan pule dan tabebuya ataupun trembesi¬† yang tidak merusak,” ujarnya.

Disperkim kata Pipie, sudah memprogramkan penggantian tanaman jenis akasia dan angsana dengan pule serta tabebuya, penggantian sudah dilakukan salah satunya di Jalan Pemuda, Gajahmada dan Sultan Agung dan beberapa ruas jalan lainnya.

“Tahun depan kita juga anggarkan sebanyak 16 ribu pohon untuk mengganti pohon-pohon yang tua ini,” katanya.

Pihaknya berharap, masyarakat bisa bergerak bersama untuk mengantisipasi pohon tumbang di sekitar wilayahnya dengan melakukan perempelan dahan pohon yang dinilai sudah rimbun. Hal tersebut diperbolehkan, asalkan tidak menebang pohon tersebut karena akan dikenai sanksi peraturan daerah (Perda).(Yulianto,HS-08)

Kemenag Minta Masyarakat Jalani Nataru dengan Jaga Prokes dan Junjung Kerukunan

Polrestabes Semarang Gagalkan Penyelundupan 8,4 Kilogram Narkoba Jaringan Antarpulau