in

Ratusan Guru di Boyolali Ikuti Workshop Kurikulum Muhammadiyah

Kesenian tari yang dibawakan siswa SMK 4 Muhammadiyah, menghibur peserta Workshop Kurikulum Muhammadiyah yang Holostic dan Integrative, Sabtu (12/11/2022). (Foto : boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Ratusan guru dari SMK / SMA / MA Muhammadiyah se-Kabupaten Boyolali, mengikuti Workshop Kurikulum Muhammadiyah yang Holistic dan Integrative di SMK Muhammadiyah 4 Boyolali, Sabtu (12/11/2022).

Kepala SMK Muhammadiyah 4 Boyolali, Suprap, mengatakan peserta workshop sekitar 120 orang, dari kalangan guru SMA / SMK / MA Muhammadiyah se-Kabupaten Boyolali. Adapun materi workshop diberikan langsung dari Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Rangkaiannya memang kami adakan menjelang Muktamar. Cuma untuk Kurikulum Muhammadiyah yang Holistic dan Integrative itu memang sudah dicetuskan lama,” kata dia, seperti dirilis boyolali.go.id.

Suprap mengatakan, melalui kegiatan workshop ini diharapkan semua guru semakin paham mengenai Kurikulum Muhammadiyah yang Holistic dan Integrative. Kurikulum ini sesuai jadwal akan mulai dilaksanakan pada Semester Genap atau di bulan Januari 2023.

“Kurikulum Muhammadiyah yang Holistic dan Integrative itu, memang telah dicetuskan lama. Ini kita mencoba untuk memahamkan kepada bapak ibu guru sehingga nanti bisa dilaksanakan semuanya di semua mapel (mata pelajaran) di masing-masing sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M Bakrun, mengatakan sesuai amanah dari Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, bahwa pendidikan di Muhammadiyah itu pendidikan yang holistic dan integrative.

“Sehingga tujuannya adalah bagaimana kita menerapkan serta bisa mengembangkan pendidikan yang holistic dan integrative, saya kira itu,” ujarnya.

Bakrun menjelaskan, melalui Kurikulum Muhammadiyah yang Holistic dan Integrative ini, Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mencoba pengembangannya agar kurikulum ini bisa terintegrasi antara materi umum dan keagamaan.

Misalnya, jika bicara tentang Bahasa Indonesia, maka pada materi ini kompetensi yang dikembangkan adalah membaca, menyimak, dan mendengarkan.

Dengan demikian mestinya guru-guru di sekolah Muhammadiyah dan juga di dalam kurikulumnya, pada saat bicara tentang membaca, pertama kali yang harus diberikan kepada anak didik adalah pengertian dari membaca.

Membaca kalau di dalam Islam adalah ayat yang pertama kali turun. Maka bicara adalah tentang makna dari membaca itu sendiri. Sehingga sebelum anak itu belajar yang lainnya harus belajar dulu makna dari membaca. Itulah kurikulum holistik dan integrative.

“Dengan adanya kurikulum merdeka dimana sekolah bisa mengembangkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan maka di Muhammadiyah mengembangkan kurikulum yang holistic dan integrative. Ini belum ya, kita baru mencoba pengembangannya,” imbuhnya.(HS-08)

Peringati HKN Boyolali, Bupati Boyolali Minta Jajarannya Perhatikan Stunting hingga ODGJ

Alih Fungsi Lahan Disinyalir Jadi Penyebab Banjir Bandang Semarang