Ramadan 1442 H, Masjid Agung Baitunnur Blora Gelar Beragam Kegiatan

Kegiatan di Masjid Agung Baitunnur Blora. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Pengurus Masjid Agung Baitunnur Blora, pada Ramadan 1442 Hijriah ini menggelar berbagai kegiatan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan mencegah Covid-19.

Memasang hand sanitizer, penyemprotan disinfektan, pengecekan suhu tubuh dengan thermogun dan membersihkan lantai masjid, menjadi bagian yang melekat bagi pengurus masjid yang menjadi idola umat muslim khususnya di kabupaten Blora, Jawa Tengah.

“Protokol kesehatan tetap dilaksanakan, mengatur dan menjaga jarak, mencuci tangan dengan hand sanitizer dan harus pakai masker,” kata Ketua Yayasan Masjid Agung Baitunnur Blora, KH. Abdul Ghani, di Blora, Minggu (18/4), seperti dirilis Blorakab.go.id.

Adapun kegiatan Ramadan 1442 Hijriah, antara lain selama tanggal 1 hingga 30 Ramadan 1442 Hijriah, diselenggarakan kajian Kitab Kuning menjelang puasa, pembagian takjil buka puasa, salat tarawih 20 rakaat dan witir 3 rakaat, tadarus Al-Quran, kultum sebelum salat tarawih, kultum sesudah salat subuh.

Kemudian pada tanggal 17 Ramadan  1442 Hijriah dilaksanakan pengajian Nuzulul Quran, tanggal 21 sampai dengan 29 Ramadan 1442 Hijriah,  Kyamul Lail/I’tikaf/Lailatul Qadar.

Selanjutnya, pada 30 Ramadan 1442 Hijriah, dilaksanakan pengumpulan zakat, infaq dan sodaqoh dan menyalurkannya kepada mustachiq.

Selain itu diselenggarakan pula takbiran menyambut Lebaran dan pada 1 Syawal 1442 Hijriah dilaksanakan Salat Idul Fitri.

Masjid Baitunnur di dekat Alun-alun Blora, Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, merupakan bangunan kuno, kebanggaan warga Blora.

Kompleks masjid ini terdiri atas bangunan induk dan serambi. Bangunan induk beratap susun tiga.

Pada bagian puncaknya terdapat mustoko dari logam. Komponen artefak kuno yang terdapat di masjid dan serambi antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug.

Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas ambang pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu.

Bangunan Masjid Baitunnur menggambarkan betapa nilai – nilai Islam dan budaya nusantara dapat berpadu harmonis.

Seperti halnya masjid-masjid kuno di nusantara, Masjid Agung Baitunnur juga menggunakan pakem atau pola yang sama

Menurut FC Pijper, pola yang sama tersebut antara lain adanya pintu gerbang di depan serambi masjid yang dinamakan gapura, atap masjid berbentuk runcing dan bertingkat berjumlah ganjil, terdapat mihrab dan pengimaman yang tidak tepat ke arah kiblat, melainkan tepat ke arah barat.

Ciri-ciri yang sama dapat dijumpai dengan mudah di Masjid Baitunnur Blora.

Dari referensi yang diperoleh, Masjid Agung Baitunnur dibangun pada awal abad XVIII, tepatnya pada tahun 1722. Kemudian pada tahun 1774 dipugar atas perintah Bupati Blora saat itu, R.T. Djajeng Tirtonoto.

Pemugaran ini diabadikan dalam sebuah Surya Cengkala “ Catur Pandhita Sabdaning Ratu”.

Pada zaman orde baru (1968 dan 1975), Masjid Agung Baitunnur kembali dipugar oleh Bupati Blora periode itu, Supadhi Yudhodharmo.

Pada pemugaran era bupati Supadi Yudhodharmo ini ditambahkan sebuah menara di sebelah kiri serambi masjid.

Pembangunan menara ini, membuat citra Islam nusantara pada bangunan Masjid Agung Baitunnur semakin tampak.

Dalam referensi yang lain, disebutkan bahwa Masjid Agung Baitunnur dibangun oleh Pangeran Surabahu atau Sunan Pojok.

Konon ketinggian tanah untuk pembangunan Masjid Agung Baitunnur lebih rendah dari alun – alun Blora, sehingga dari kejauhan tampak bangunan Masjid Agung seperti burung merpati yang sedang duduk di sarangnya (Bahasa Jawa : Dara Ndekem ).

Oleh masyarakat Blora saat itu, Masjid Agung Baitunnur dikenal sebagai Masjid Dara Ndekem, nama Baitunnur diberikan beberapa waktu kemudian.

Dari referensi itu diiyakan oleh penulis sejarah Blora RNgt  Widya Shinta Himayanti.

“Iya benar, data-data dan terjemahan jugs dicantumkan,” ungkapnya.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Baitunnur juga menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan di kalangan mahasiswa dan pelajar Blora. Melalui Himpunan Pengajian Remaja Islam Masjid Baitunnur Blora (Himparisba) sering dilaksanakan kegiatan ilmiah seperti bedah buku dan pelatihan kepemimpinan.

Para Mahasiswa dari kampus V STAI Al Muhammad kerap melakukan diskusi, dengan tema-tema sosial pendidikan, setelah Shalat Asar.

Seiring berjalannya waktu, rencana Pemkab Blora untuk melaksanakan pembangunan dan penataan kawasan Masjid Agung Baitunnnur semakin dimatangkan.

Di tahun sebelumnya menggelar lomba desain masjid untuk umum. Tiga karya desain terbaik hasil lomba itu telah dikonsultasikan kepada publik di hadapan tokoh agama, alim ulama, anggota DPRD dan perwakilan ormas Islam.

Pembangunan atau rehabilitasi Masjid Agung Baitunnur Blora akhirnya dimulai Jumat (13/07/2018).

Masjid yang berada di Jalan Alun-alun Barat ini akan dibangun dan dikembangkan ke arah barat, guna perluasan.

Tahap pertama pembangunan dengan nilai kontrak Rp 5,4 miliar dilaksanakan oleh PT Kartika Karya Konstruksindo, dengan konsultan pengawas CV Graha Cipta Perkasa.

Adapun yang akan dibangun adalah lantai utama masjid, lantai basement 1 dan lantai basement 2.

Konstruksi berupa pondasi tiang pancang mimipile, struktur atas dengan beton bertulang dan atap memakai genteng keramik.

Akan ada empat menara setinggi 33 meter di setiap sudut bangunan masjid yang baru nanti, di sebelah barat masjid utama yang lama.

Menurut informasi dari Ketua Ketua Yayasan Masjid Agung Baitunnur Blora, KH. Abdul Ghani, pembangunan secara bertahap dilanjutkan meski diakui terkendala adanya pandemi COVID-19. (HS-08).

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.