in

PW Muhammadiyah Jateng Dan Lazismu Akan Packing Daging Korban jadi Rendang

Ketua PW Muhammadiyah Jateng, Tafsir bersama direktur Lazismu Ikhwan Mustofa saat meresmikan QurbanMU.

 

HALO SEMARANG – Selama ini daging kurban langsung dibagikan pada warga dalam bentuk daging mentah. Cara ini dianggap kurang merata, sehingga ada daerah miskin yang tidak kebagian daging kurban karena lokasinya berada di pelosok desa atau jauh dari pusat perkotaan.

Untuk itu PW Muhammadiyah Jateng melalui Lazismu akan mengemas daging hewan kurban dalam kaleng. Sebelum dikemas, daging akan dimasak menjadi rendang sehingga akan lebih awet.

“Kalau dikalengkan dalam bentuk rendang, bisa bertahan lama,” ujar Direktur Lazismu Jateng, Ikhwan Mustofa.

Saat dihubungi kemarin, Ikhwan Mustofa menuturkan, selama ini hewan kurban banyak yang terpusat di masjis-masjid besar yang berada di tengah kota. Sehingga saat pembagian daerah miskin yang jauh dari pusat kota tidak kebagian daging. Selain itu hewan kurban yang disembelih dalam satu waktu membuat daging kurban melimpah.

“Daging yang dibagikan ke masyarakat masih mentah, sementara banyak warga miskin yang tidak memiliki kulkas sehingga harus dimasak saat itu juga. Karena stok banyak langsung dimasak semua, sehingga harus dipanasi berulang,” katanya.

Akibatnya ada sebagian yang tidak dikonsumsi karena tidak bisa bertahan lama. Belum lagi kondisi negara Indonesia yang rawan bencana baik banjir, tanah longsor, gempa bumi dan lain sebagainya. Saat bencana terjadi, masyarakat yang terdampak tentu membutuhkan asupan makanan yang bergizi.

“Jadi tidak melulu dikasih mi instan atau air mineral, bisa dikasih daging,” katanya.

Berdasarkan realita tersebut Muhammadiyah melakukan inovasi dengan mengemas daging kurban dalam kaleng. Dengan dibuat rendang lalu dikemas dalam kaleng bisa bertahan dua tahun, sehingga bisa dibagikan ke pelosok desa yang membutuhkan dan daerah yang terdampak bencana alam.

“Kami sudah membagikan daging kemasan ini ke lokasi bencana seperti banjir di Kalsel, gempa Palu, banjir di Jateng dan lain sebagainya,” ujar Ikhwan Mustofa.

Sementara itu Ketua PW Muhammadiyah Jateng, Tafsir mengatakan, semua proses penyembelihan hewan korban ini sesuai dengan syariat.

“Misalnya soal waktu, tentu disembelih pada hari tasrik, sehingga tetap mengedepankan aturan baku dalam agama kita,” ujar Tafsir. Demikian juga dalam proses penyembelihan dan pengalengan hewan kurban dilakukan dengan penuh kehati-hatian sehingga dijamin sehat dan sesuai standar nasional industri atau SNI.(HS)

Share This

Unika Soegijapranata Resmi Tarik Mahasiswa KKN Pandemika III

Mantan Kapolres Pulang Pisau, AKBP Yuniar Ariefianto Kini Jabat Kapolres Kendal