in

Puncak Musim Kemarau Diprediksi September

Satu buah alat berat sedang mengeruk sedimentasi di sungai Banjir Kanal Barat pada musim kemarau.

HALO SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa memprediksi puncak musim kemarau di Jateng terjadi pada bulan September.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah, Sudaryanto menuturkan, Pemprov Jateng sudah melakukan koordinasi dengan PDAM untuk menghadapi puncak musim kemarau.

“Sudah ada rakor (rapat koordinasi) semester satu dengan menghadirkan BMKG dan para Kalak (Kepala pelaksana) BPBD Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah supaya mengetahui informasi tentang berbagai hal. Juga tentang kekeringan yang puncaknya di awal September,” kata Sudaryanto, Sabtu (3/8/2019).

Sehingga ketersediaan air bersih pada masa puncak kekeringan, lanjut dia, harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Termasuk untuk kegiatan produksi pertanian di desa-desa yang ada di Jawa Tengah. Menurutnya, para petani, dapat menanam tanaman yang tidak terlalu memerlukan banyak air.

Dia mengungkapkan, terdapat 1.259 desa dan 360 kecamatan di 31 kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang diprediksi akan terdampak bencana kekeringan pada tahun ini.

“Adapun jumlah jiwa yang diprediksi akan terdampak mencapai lebih dari 2 juta jiwa dengan 545.851 kepala keluarga,” tambahnya.

Daerah-daerah yang diprediksi terdampak kekeringan pada tahun ini antara lain Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara. Kemudian Kebumen, Purwerejo, dan Wonosobo, serta Magelang. Lalu, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Blora dan Grobogan.(HS)

Dua Kali Kalah Berturut-turut di Kandang, Ada Apa PSIS?

Jelang Penutupan Resos Argorejo, Penghuni Tunggu Uang Tali Asih Rp 10,5 Juta/orang