Puluhan Rumah dan Perahu Yang Rusak Di Tambaklorok, Akan Difasilitasi Peroleh Bantuan Pemerintah

Para nelayan di Tambak Rejo RW 16, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara memperoleh bantuan dari dapur umum yang dibuat oleh warga setempat.

 

HALO SEMARANG – Ambrolnya tanggul beton penahan gelombang di Kampung Tambak Mulyo, Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara, membuat rumah warga dan kapal nelayan banyak yang mengalami kerusakan setelah diterjang ombak. Bahkan ada beberapa kapal nelayan yang ditambatkan di tepi laut, dikabarkan tenggelam akibat hantaman derasnya ombak air laut.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Perikanan Kota Semarang berusaha memfasilitasi warga agar kapal-kapal yang rusak dan tenggelam bisa mendapatkan bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jateng.

Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Nur Kholis mengatakan, sebanyak 20 rumah warga di RT 1 RW 15 dan RT 5 RW 16 Kampung Tambak Mulyo mengalami kerusakan akibat terhantam gelombang ombak besar yang melanda wilayah tersebut pada Senin (7/12/2020) tengah malam.

Tidak hanya itu, 19 kapal dikabarkan mengalami kerusakan dan empat kapal tenggelam akibat kejadian tersebut.

“Awalnya kami hanya mendapatkan laporan 20 rumah mengalami kerusakan akibat gelombang ombak besar pada Senin (7/12/2020) tengah malam. Namun pada hari berikutnya, 18 kapal dikabarkan rusak dan ada beberapa yang tenggelam. Kemudian dilaporkan kembali ada tambahan data sebanyak lima kapal. Jadi total ada 19 kapal yang rusak dan empat tenggelam. Rata-rata merupakan kapal berukuran 5 Gross Tonnage (GT). Kami berusaha memfasilitasi bantuan dengan menyampaikannya kepada DKP Jateng, karena wewenang tersebut memang ada di sana,” ujar dia, Jumat (11/12/2020).

Menurut Nur Kholis, pihaknya pun tidak bisa berbuat banyak selain menjalin koordinasi dengan instansi-instansi terkait lainnya. Mengingat kewenangan Dinas Perikanan Kota Semarang hanya fokus pada penanganan permasalahan produksi ikan oleh nelayan dan distribusi ikan saja.

Selain itu, anggaran yang dimiliki dinasnya pun terbatas akibat adanya refokusing anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19. Ditambahkan, korban bencana gelombang ombak besar mengalami pertambahan. Hal ini akibat tanggul penahan gelombang yang ambrol, sementara arus gelombang ombak masih tetap tinggi. Diperkirakan mencapai hingga sekitar 3 meter lebih.

“Kami telah menjalin koordinasi dengan Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang dengan melakukan pembagian sembako. Untuk rehab rumah yang mengalami kerusakan menjadi ranah dari Disperkim, pembersihan lokasi di sekitar permukiman tersebut dilakukan DLH, dan renovasi tanggul beton penahan gelombang ditangani DPU. Karena penanganan bersifat penyelamatan dan penanganan bencana, maka ini menjadi penanganan lintas instansi,” papar dia.

Sementara Kasi Pemberdayaan Nelayan Kecil di Dinas Perikanan Kota Semarang, Bambang Sujono mengungkapkan, jika penanganan bencana ini masih dalam kajian mendalam, karena ternyata memberi dampak yang luas.

Apalagi daerah sekitar direncanakan akan ada pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), bagian perwujudan program nasional dari Pemerintah Pusat untuk menjadi Kampung Wisata Bahari Tambak Lorok.

“Kalau untuk pengajuan bantuan guna perbaikan kapal dan mengganti kapal yang tenggelam tengah diusahakan, dengan mengirimkan surat pemberitahuan ke DKP Jateng. Untuk biaya perahu kayu dengan ukuran 5 GT, ditaksir mencapai harga sekitar Rp 30 juta. Itu belum termasuk dengan biaya mesin kapal. Kerusakan akibat bencana tersebut tentunya tidak akan besar, jika seandainya tanggul penahan gelombang tidak ambrol,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.