PT Marimas Sumbang 20 Ribu Ecobrick untuk Bangun Taman Kota Semarang

Direktur PT Marimas Putera Kencana Harjanto Kusuma Halim, Eko Pramukawati dari Proklim Purwokeling, dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melakukan peletakan ecobrick pertama di lokasi pembuatan taman ecobrick kota Semarang di dekat kantor DLH Kota Semarang, Jalan Tapak Tugu, Kamis (17/12/2020).

 

HALO SEMARANG – PT Marimas mendukung pembuatan taman Kota Semarang ecobrick dengan memberikan bantuan sebanyak 20 ribu ecobrick. Pembangunan Taman Ecobrick Kota Semarang dimulai dengan peletakan ecobrick pertama di lokasi taman dekat kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang di Jalan Tapak Tugu, Kamis (17/12/2020).

Direktur PT Marimas Putera Kencana, Harjanto Kusuma Halim mengatakan, pihaknya memberikan dukungan sebanyak 20 ribu ecobrick untuk pembuatan taman kota.

Dikatakan Halim, ecobrick untuk taman sekaligus menjadi simbol guna memberikan kesadaran kepada masyarakat agar tidak membuang sampah plastik di sembarang tempat. Sehingga tidak mencemari lingkungan, baik di tanah, laut, dan sungai.

“Kalau sedang jalan-jalan, sampah plastik bisa dimasukkan ke dalam botol itu, jangan dibuang di jalan. Prinsipnya plastik baik, untuk melindungi makanan sampai ke konsumen agar aman, tapi kalau sampah plastik jadi tidak baik kalau masuk ke sungai, laut, atau tanah,” terangnya kepada awak media di sela-sela acara.

Taman Ecobrick, lanjut Halim, tidak sanggup mengatasi persoalan sampah plastik di Kota Semarang ini. Karena total setiap hari produksi sampah di Kota Semarang mencapai 900 ton per harinya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, pihaknya meminta semua masyarakat turut untuk menyelesaikan pembuatan taman ramah lingkungan. Di mana PT Marimas sudah menyumbang 20 ribu botol plastik ecobrick untuk taman kota.

“Sedangkan DLH Kota Semarang juga memberikan tempat dan fasilitas, didukung dari Eko Pramukawati dari Proklim Purwokeling,” imbuhnya.

“Ecobrick ini saya rasa bisa dikembangkan di lokasi-lokasi lain. Yang pertama murah, yang kedua bisa mengatasi persoalan sampah khususnya sampah plastik, dan kekuatan botol plastik ini setelah dimasukkan sampah plastik kuat sekali. Tidak kalah dibandingkan dengan material lainnya,” katanya.

Hendi menerangkan, model- model taman ini, nantinya akan dikembangkan di wilayah lain di Kota Semarang. Hal ini sebagai upaya mengurangi sampah anorganik yang bisa membahayakan lingkungan dan alam.

“Saat ini, proses pengelolaan sampah di Kota Semarang, sampah dari rumah tangga dimasukkan ditempat pembuangan sampah sementara lalu diangkut oleh truk untuk dibuang ke TPA. Dan di TPA ini diolah jadi kompos. Selain itu juga diolah dengan bio membran untuk menjadi energi listrik,” terangnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono mengatakan, persoalan pengelolaan sampah di Kota Semarang menjadi perhatian serius. Sebab jika tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, maka akan berimbas kepada lingkungan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.

Dengan luas TPA Jatibarang yang saat ini sekitar 46 hektare, kata Sapto, jika dibandingkan dengan jumlah sampah yang masuk tiap harinya ke TPA rata-rata mencapai 800 -1000 ton, tempat pembuangan akhir ini kapasitasnya akan cepat penuh.

“Maka dalam dua sampai tiga tahun lagi TPA tersebut akan penuh. Memang kapasitas penampungan makin berkurang, karena sampah tiap hari masuk cukup banyak,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.