Proyek Semarang Outer Ring Road Butuh Keseriusan Pemerintah Daerah

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso.

 

HALO SEMARANG – Rencana pembangunan Semarang Outer Ring Road yang sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu, hingga saat ini belum juga teralisasi.

Padahal sebagai kota besar di Indonesia, jalur lingkar sangat dibutuhkan untuk memecah kepadatan arus lalu lintas di tengah Kota Semarang.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso mengatakan, rencana pembangunan proyek Semarang Outer Ring Road (SORR) harus menjadi prioritas.

Hal ini mengingat, pembangunan SORR tersebut dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan juga pemerataan pusat keramaian.

“Pembangunan SORR butuh keseriusan. Memang saat ini belum bisa terealisasi karena adanya kendala pada ganti rugi lahan yang belum selesai,” katanya, kemarin.

Lebih lanjut, politisi Partai Gerindra itu mengungkapkan, sebagai kota metropolitan, SORR ini harus direalisasikan. Selain untuk memecah kepadatan arus lalu lintas di tengah kota, juga diharapkan mampu menghidupkan ekonomi wilayah pinggiran.

Dia mencontohkan, adanya pembangunan jalan lingkar di Yogyakarta sukses menumbuhkan perkonomia dan pusat keramaian baru.

“Harus menjadi perhatian khusus oleh Pemerintah Kota Semarang. Bisa dibilang harus dijadikan skala prioritas,” tandasnya.

“Kita sudah pernah menganggarkan, pengukuran pun sudah dilakukan. Namun tidak ada tindak lanjut sampai masanya habis dan uang yang telah digelontorkan harus dikembalikan lagi ke khas daerah,” tambahnya.

Semakin dekatnya pesta demokrasi Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwalkot) Semarang, lanjut Joko, bisa dijadikan program dari calon petahana Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti Rahayu untuk menjadi visi dan misi pembangunan ke depan.

“Apalagi banjir dan rob sudah bisa tertangani, harapannya progam ini bisa direalisasikan,” tambahnya.

Semarang Outer Ring Road (SORR) sendiri rencananya melintas di beberapa kecamatan, di antaranya Ngaliyan, Tugu, Mijen, Gunungpati, Tembalang, Banyumanik, Pedurungan dan Genuk. Di beberapa kelurahan, lahan milik warga bahkan sudah dilakukan pengukuran, misalnya di Wonosari, Podorejo, dan Wates.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.