Program Sembako, Pemkab Jepara Andalkan Beras Petani Lokal

Saat memulai panen, petani di Jepara melaksanakan Budaya Wiwitan Panen (Foto : Jepara.go.id)

 

HALO JEPARA – Pemerintah Kabupaten Jepara mengandalkan produksi beras dari petani lokal, untuk memenuhi kebutuhan dalam Program Sembako di Jepara.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Jepara, Mastukin, mengatakan pihaknya sudah meminta kepastian Bulog, terkait komitmen memenuhi kebutuhan beras dari stok Gudang Bulog Rengging (Kecamatan Pecangaan, Jepara). Gudang Bulog tersebut selama ini menyerap hasil produksi dari petani di Jepara.

“Bulog berkomitmen untuk itu. Kemampuan produksi petani Jepara juga mencukupi,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Kabupaten Jepara, Mastukin, Jumat (8/1) seperti dirilis Jepara.go.id.

Menurut Mastukin, beras merupakan salah satu komoditas bantuan, yang disalurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) penerima Program Sembako.

Dalam setiap penyaluran bantuan, komoditasnya harus memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, sehingga beras menjadi komoditas yang pasti ada dalam setiap pengambilan bantuan. Oleh KPM, pengambilan bantuan dilakukan di e-warung.

“Posisi Bulog adalah sebagai manajer suplai untuk memenuhi kebutuhan beras e-warung, tempat KPM mengambil bantuan. Itu sudah berlangsung sejak Program Sembako masih bernama BPNT (Bantuan Pangan Nontunai –red) tahun 2019. Dalam telekonferensi Kemensos dengan seluruh daerah awal tahun 2020 lalu pun, posisi Bulog sebagai manajer suplai ini disampaikan,” jelasnya.

Berdasarkan informasi dari Bulog, kata Mastukin, serapan beras dari petani lokal Jepara mencapai 2.500 ton per bulan. Sementara rata-rata kebutuhan beras untuk program sembako sekitar 2.000 ton per bulan.

Program Sembako adalah program pemberian bantuan sosial kepada keluarga miskin dan rentan untuk mengurangi beban dalam memenuhi kebutuhan pangan. Jumlah bantuan sebesar Rp 200 ribu per bulan, ditransfer langsung ke rekening KPM, di BTN sebagai bank penyalur.

Dana inilah yang digunakan KPM untuk dibelanjakan komoditas bantuan di agen atau e warung menggunakan Kartu Kesejahteraan Sosial (KKS) yang berfungsi sebagai semacam kartu ATM untuk melakukan pembayaran.

Di Jepara, awal tahun ini jumlah KPM penerima Program Sembako mencapai 140.408. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding total penerima pada akhir tahun 2020 sejumlah 140.986.

“Untuk memberikan layanan pengambilan bantuan kepada seluruh KPM, di Jepara terdapat 172 agen atau e warung. Yang menunjuk e warung adalan BTN. Sedangkan posisi Dinsospermasdes yang menjadi bagian dari Tim Koordinasi Bantuan Sosial Pangan Kabupaten Jepara adalah memonitor atau mengontrol untuk memastikan Program Sembako berjalan sesuai ketentuan,” tambah Mastukin.

Dengan posisi itu, Dinsospermasdes terbuka menerima keluhan masyarakat jika Program Sembako tidak berjalan sesuai ketentuan.

“Misalnya ada pelanggaran oleh e warung, keluhan masyarakat kita terima, lalu kita teruskan ke BTN. Bank inilah yang akan menegur e warung agar bekerja sesuai regulasi dan perjanjian kerja sama di antara mereka,” tandasnya.

Sementara itu, terkait rencana penyaluran program Sembako tahun 2021, Mastukin menyebut telah terbit surat dari Kemensos RI yang menyebut bantuan ke rekening PKM sudah disiapkan di bank penyalur, dalam hal ini BTN. Selanjutnya BTN akan melakukan transfer ke rekening KPM. Pada pertengahan Januari 2021, pengambilan bantuan di e-Warung diperkirakan sudah bisa dilakukan. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.