Program Jogo Tonggo, Jurus Jitu Penanganan Covid-19 di Jawa Tengah

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Mualim menyerahkan bantuan kepada salah satu pemulung di Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Ngaliyan, Semarang sebagai salah satu implementasi program Jogo Tonggo, Kamis (21/5/2020).

 

PANDEMI corona di Indonesia saat ini sudah menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan. Sejak pertama kali terdeteksi pada tanggal 2 Maret 2020, sampai tanggal 17 Oktober 2020, Indonesia telah melaporkan 357.762 kasus positif corona.

Angka ini menempati peringkat kedua terbanyak di Asia Tenggara setelah Filipina. Pandemi Covid-19 hingga saat ini pun masih mengalami penambahan di berapa daerah. Karenanya pemerintah terus mengimbau kepada masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran yang telah ditetapkan.

Di Jawa Tengah sendiri, persoalan Covid-19 sudah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data kasus pasien Covid-19 dari Kementerian Kesehatan RI pada Sabtu 17 Oktober 2020 sampai dengan pukul 12.00 WIB, total jumlah penambahan kasus positif di Provinsi Jawa Tengah mencapai 416 kasus baru.

Sehingga akumulasi kasus positif di Provinsi Jawa Tengah sampai data terakhir mencapai 28.723 kasus.

Berbagai upaya dilaksanakan pemerintah Provinsi Jawa Tenga untuk mengatasi persoalan kesehatan, persoalan sosial, dan dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Program Jogo Tonggo saat ini menjadi salah satu senjata ampuh Pemprov Jateng dalam upaya membuat jejaring sosial dan ekonomi, dengan bassis kekuatan masyarakat.

Dengan program ini, masyarakat diajarkan untuk mandiri dengan menerapkan berbagai program kreatif dan inovatif berbassis swadaya masyarakat. Termasuk juga mempedulikan lingkungan sekitar, jika ada warga yang terdampak langsung pandemi, baik dari segi kesehatan, sosial, maupun ekonomi.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sepakat dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta pemerintah daerah untuk menerapkan pembatasan sosial berskala mikro atau komunitas, dalam upaya pencegahan Covid-19.

Langkah Ganjar menindaklanjuti hal itu adalah, optimalisasi fungsi Jogo Tonggo di tingkat RT, RW, dan kelurahan, serta melakukan operasi yustisi penegakan protokol kesehatan serentak di Jawa Tengah.

Ganjar menjelaskan, pihaknya menerapkan kebijakan mikro zonasi sebagai pilihan untuk mengantisipasi penyebaran wabah Covid-19 di wilayahnya.

Mikro zonasi tersebut diterapkan untuk mengetahui secara geospasial, terkait daerah yang masuk zona merah, merah tua, oranye, atau kuning. Juga terkait operasi yustisi penegakan protokol kesehatan Covid-19 bersama TNI-Polri dan Satpol PP.

Selain melakukan pemetaan mikro zonasi, langkah lain adalah mengoptimalisasikan fungsi Jogo Tonggo. Ganjar menuturkan, optimalisasi Jogo Tonggo itu dengan memberikan peran lebih di tingkat RT dan RW, khususnya dalam memberikan laporan terkait pencegahan Covid-19 di lingkungannya.

Optimalisasi fungsi Jogo Tonggo itu juga didukung dengan operasi yustisi gabungan yang sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.

“Hal itu untuk meningkatkan edukasi dan penindakan terkait kesadaran masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan. Sebab masih banyak ditemukan adanya warga, terutama anak-anak muda yang berkumpul tanpa memerhatikan jaga jarak dan pemakaian masker,” kata Ganjar saat ditemui di Rumah Dinas Puri Gedeh, Rabu (16/9/2020).

Di beberapa daerah, program Jogo Tonggo ini sudah mulai direalisasikan oleh warga, dengan mengandalkan kearifan lokal di wilayahnya masing-masing.

Seperti yang dilakukan warga RW 3 Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Semarang.

Masyarakat di sana menerapkan Jogo Tonggo dengan penyediaan stok lumbung pangan, dapur umum, rumah isolasi mandiri, urban farming atau pertanian di lahan terbatas, pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), serta pelatihan pemanfaatan teknologi digital bagi warga.

Hammam Abdi, Ketua RT 8 RW 3 Keluarahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Semarang saat ditemui Kamis (1/10/2020) mengatakan, pihaknya juga melibatkan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Dasa Wisma (Dawis) untuk pengelolaan taman boga.
“Kami berusaha untuk menghidupkan kembali gotong royong, sebagai aplikasi penerapak program Jogo Tonggo,” katanya.

Tak hanya di Semarang, program Jogo Tonggo juga banyak diaplikasikan di daerah lain. Di Kabupaten Temanggung misalnya, ada cara unik yanng dilakukan masyarakat untuk mengaplikasikan program Jogo Tonggo.

Di Dusun Jetis, Desa Gambasan, Kabupaten Temanggung, warga secara swadaya menyediakan bahan makanan, yang bisa diambil secara gratis oleh warga yang membutuhkan. Teknisnya, warga yang secara ekonomi dianggap mampu, diminta membantu masyarakat tidak mampu.

“Di Desa Gambasan ada enam warung yang menyediakan bahan makanan gratis untuk membantu masyarakat agar tidak kesusahan saat ada pandemi corona,” kata Kepala Desa Gambasan, Wahyu Cinto, Selasa (16/6/2020).

Di Magelang, semangat serupa juga digelorakan Pemkot Magelang.

Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito mengatakan, warga di Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, telah menerapkan program Jogo Tonggo untuk menghadapi pandemi.

Sigit pun mengapresiasi semangat gotong-royong dan rasa kepedulian antartetangga yang tinggi di kampung itu.

“Jadi harus seimbang antara dorongan pemerintah dengan kedisiplinan masyarakat. Kuncinya adalah gotong-royong masyarakat, di mana di Wates ini sudah terbentuk embrio Satgas Jogo Tonggo sejak April lalu, untuk mendisiplinkan masyarakat terhadap protokol kesehatan,” katanya, baru-baru ini.

Jogo Siswa

Berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Grobogan. Semangat Jogo Tonggo malah digelorakan salah satu guru di sana.

Ada salah seorang guru MTs yang rela naik-turun bukit dan melewati jalan berliku menyambangi rumah siswa untuk memberikan pembelajaran secara langsung. Dia adalah Muhammad Zaki Iqbal, guru MTs Al Hidayah Karangrayung, Kabupaten Grobogan.

Wabah Covid-19 hampir melumpuhkan aktivitas di semua lini kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan. Semua sekolah menerapkan sistem daring untuk proses belajar-mengajar.

Persoalannya, di Kabupaten Grobogan masih terdapat kendala dalam penerapan sistem pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan (daring).

Terutama ketersediaan perangkat seperti handphone, laptop, sampai kuota internet. Bagi siswa yang berada di pelosok, baik dari kondisi ekonomi yang rendah hingga lokasi yang sudah sinyal, perlu dilakukan tindakan solutif dari pendidik.

Muhammad Zaki Iqbal menuturkan, bahwa pandemi Covid-19 perlu disikapi dengan terus berusaha survive, terutama di dunia pendidikan. Dia pun menerjemahkan Program Jogo Tonggo menjadi Jogo Siswa sebagai langkah solutif.

“Kami tidak bisa berdiam diri atas adanya Covid-19 dan harus tetap survive. Proses pembelajaran dilakukan secara daring, memang itu solusi di saat pandemi. Namun kami juga harus beradaptasi dengan kondisi yang ada di lapangan,” ujarnya, Senin (3/8/2020).

Di daerahnya, masih banyak siswa yang hidup di lingkungan keluarga yang tidak mampu. Selain itu, kondisinya yang bebukitan dan hutan membuat susah menangkap sinyal.

“Kondisi itulah kemudian kami berinisiatif selain daring bagai siswa yang memiliki perangkat dan sinyal, kami juga menyambangi siswa yang tidak mampu mengikuti secara daring,” imbuhnya.

Zaki menyambangi rumah beberapa siswa yang tidak mampu mengikuti daring tiap Sabtu dan Minggu. Dia berkeliling melewati jalan berliku, naik-turun melewati hutan untuk sampai ke rumah siswa.

Baginya, apa yang dilakukan sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang guru.

“Hal ini juga sebagai bentuk aplikasi program Jogo Tonggo yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo,” katanya.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Jateng, Soenarno mengatakan, program Jogo Tonggo yang diterapkan di wilayah Jawa Tengah merupakan semangat kegotongroyongan.

Karena menurutnya, melalui program itu mampu mendorong masyarakat untuk merealisasikan kebersamaan dan kesetia kawanan dalam suatu lingkungan maupun wilayah.

“Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 ini sangat diperlukan kepedulian, kebersamaan, dan kesetiakawanan,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Talkshow yang disiarkan oleh Stasiun radio milik pemerintah di lantai 5 Gedung Berlian, DPRD Jateng, Jumat (14/8/2020).

Pujian terkait penerapan Jogo Tonggo juga datang dari anggota DPR RI. Anggota Komisi VIII, Bukhori Yusuf mengatakan, program Jogo Tonggo yang diprakarsai Ganjar Pranowo sangat menarik sebagai salah satu upaya penanganan Covid-19 di Indonesia.

Di saat problem data berapa orang miskin, berapa pengangguran, dan siapa yang layak mendapat bantuan, program Jogo Tonggo ini menurutnya bisa menjadi solusi tepat.

“Ini menarik, Jogo Tonggo ini seperti gugus tugas paling depan karena berada di tingkat RW. Kebijakan-kebijakan yang diambil dalam program ini sudah pasti mengena. Kepada mereka yang benar-benar miskin, pengangguran dan sebagainya, akan terdata dengan baik,” kata dia.

Bukhori juga menyebut langkah Ganjar yang tidak hanya mengandalkan APBD patut dicontoh. Dengan menggerakkan banyak sektor, maka percepatan penanganan Covid-19 akan optimal.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.