in

Profesi Service Payung: Sebuah Kisah yang Mulai Langka di Kota Semarang

Pak Slamet, warga Gungpati Kota Semarang yang saat ini masih menekuni profesi sebagai tukang service payung.

PADA masa lalu, profesi service payung di Kota Semarang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Para pekerja service payung, atau yang sering disebut “tukang payung”, memberikan layanan berharga kepada warga kota dengan memberikan jasa keliling memperbaiki payung milik warga yang rusak.

Di musim hujan, payung memang menjadi properti penting bagi warga untuk menjaga mereka tetap kering dari hujan atau terlindung dari sinar matahari yang terik. Namun, sayangnya, profesi ini saat ini mulai mengalami kemerosotan dan menjadi langka di Kota Semarang.

Profesi service payung telah menjadi bagian dari kehidupan Kota Semarang selama bertahun-tahun. Dulu, tukang payung dapat ditemukan di berbagai sudut kota, terutama di tempat-tempat ramai seperti pasar tradisional, terminal, atau pusat perbelanjaan. Mereka akan berdiri dengan payung-payung yang siap untuk disewakan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Salah satu yang masih menekuni jasa ini adalah Pak Slamet (70), warga Gunungpati, Kota Semarang. Dengan berkeliling ke perumahan atau ke kampung-kampung dengan jalan kaki, Pak Slamet menawarkan jasanya untuk memperbaiki payung warga yang rusak.

“Setiap hari saya keliling dari Gunungpati ke perumahan-perumahan atau ke kampung-kampung di Kota Semarang. Untuk ongkosnya rata-rata Rp 15 ribu perpayung dengan kondisi perbaikan rusak parah,” katanya, saat ditemui di wilayah Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Sabtu (22/6/2024).

Rata-rata, setiap hari Pak Slamet bisa mereparasi sekitar 10 payung milik warga. Tapi tentunya tak setiap hari dia dapat pelanggan, paling ramai saat musim hujan. “Pernah sehari hanya menservice satu atau dua saja. Tapi tak apa, tetap saya syukuri,” katanya.

Alatnya pun sederhanya, hanya tang, gunting, kawat, dan komponen payung yang dia dapat dari payung-payung bekas yang sudah rusak. “Hanya butuh ketekunan saja, karena sebenarnya perbaikan payung sangat sederhana,” papar dia.

Namun, dengan perkembangan zaman dan gaya hidup yang berubah, permintaan terhadap jasa service payung semakin menurun. Banyak orang lebih memilih untuk membeli baru jika payungnya rusak. Atau menggunakan perlindungan lain seperti mantel atau jas hujan. Selain itu, perkembangan teknologi juga turut berperan dalam menggeser peran tukang payung.

Meskipun demikian, penting bagi kita untuk mengenang peran penting yang pernah dimainkan oleh tukang service payung dalam kehidupan kota ini. Kisah perjalanan profesi service payung di Kota Semarang menjadi sebuah cerita yang mengingatkan kita tentang perubahan zaman dan pentingnya menghargai profesi-profesi tradisional yang mungkin mulai langka.

Dalam menghadapi masa depan, penting bagi kita untuk menjaga dan merawat warisan budaya seperti profesi service payung. Dengan demikian, kisah perjalanan profesi service payung di Kota Semarang tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga dapat terus hidup dan berkembang dalam sejarah kota ini.(HS)

Kisah Semarang Sebagai Kota Perdagangan yang Pernah Berjaya di Era Kolonial Belanda

Pemkab Rembang Siapkan Rp 2 Miliar untuk Poles Infrastruktur Wisata Jembatan Merah Hutan Mangrove