in

PPIH Siapkan Skema Badal Lontar Jumrah

Menag beri keterangan pers usai Wujuf di Arafah. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Jemaah haji telah menyelesaikan prosesi wukuf di Arafah, dan kemudian melaksanakan mabit atau menginap di Muzdalifah dan Mina.

Selama di Mina, jemaah akan melontar Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijjah, dilanjutkan jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari-hari Tasyrik.

Menag RI Yaqut Cholil Qoumas, melihat pelaksanaan wukuf di Arafah secara umum berjalan baik dan lancar.

Namun kondisi di Mina jauh lebih berat dibanding di Arafah. Sebab jemaah akan tinggal lebih lama di tenda Mina. Selain itu jika di Arafah, jemaah hanya diam, di Mina ada aktivitas lontar jamarah.

“Sampai selesai wukuf, dilaporkan ada tujuh jemaah wafat di Arafah. Jika di Mina tidak dipersiapkan dengan betul, kejadian yang sama akan terulang, banyak jemaah yang tumbang, termasuk lansia. Kita tidak berharap,” kata Menag, di Arafah sebelum berangkat ke Muzdalifah, belum lama ini, seperti dirilis kemenag.go.id.

Yaqut Cholil Qoumas juga mengatakan pihaknya menyiapkan skenario agar jemaah haji yang mayoritas lansia, bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus gugur kewajiban hajinya.

“Sebab, di Fikih banyak alternatif. Sehingga mereka yang tidak mampu bisa dibadalkan lontar jumrahnya,” sambungnya.

Menag meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, untuk menerapkan skema perlindungan, pelayanan, dan pembinaan dengan menyesuaikan kondisi fisik jemaah, agar mereka tidak memaksakan.

“Jadi yang benar-benar mungkin saja yang boleh lontar jumrah sendiri dan boleh tawaf ifadah sendiri. Lainnya, jemaah yang secara fisik tidak memungkinkan, saya minta lontar jumrahnya dibadalkan,” tegas Mina.

“Skenarionya badal, membadalkan jemaah yang tidak mampu. Jadi intinya kita tidak mau jemaah ini dipaksakan kondisi fisiknya,” kata Menag.

Menag juga meminta PPIH untuk segera mengidentifikasi jemaah yang harus dibadalkan dan para petugas diminta siap membadalkan jemaah.

“Saya kira, kita memiliki petugas yang cukup untuk bisa membadalkan jemaah,” ujarnya.

“Lempar jumrah itu kan satu orang bisa mewakili beberapa orang,” sambungnya.

Gratis

Menag menegaskan bahwa badal lempar jumrah itu sah secara Fikih dan tidak dipungut biaya, sehingga jemaah tidak perlu khawatir.

“Tidak ada pungutan apa pun atas badal lontar jumrah,” kata dia.

Dia menegaskan, jemaah yang wafat juga dibadalhajikan oleh petugas, tanpa dipungut biaya.

“Demikian juga jemaah yang sakit dan tidak memungkinkan disafariwukufkan, juga dibadalhajikan, dan tidak dipungut biaya,” lanjutnya.

Badal Lontar Jumrah

Praktik baik dilakukan tim konsultan dan bimbingan ibadah yang tergabung dalam safari wukuf.

Ada lebih 200 jemaah yang disafariwukufkan. Mereka semuanya akan dibadalkan lontar jumrahnya, baik lontar jumrah aqabah maupun lontar jumrah pada hari-hari Tasyrik.

“Kita sudah berembug dan sepakat, setiap konsultan dan pembimbing ibadah, serta linjam dan petugas lainnya yang tergabung dalam tim safari wukuf akan membadalkan lontar jumrah jemaah safari wukuf,” kata konsultan ibadah Daker Makkah, Imam Khoiri.

Dia mengatakan pihaknya sudah berbagi, rata-rata satu orang akan membadalkan lontar jumrah dari delapan jemaah.

Imam menambahkan, khusus untuk jumrah aqabah, setelah dilaksanakan, tim safari wukuf akan berkoordinasi dengan tim kesehatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah agar jemaah bisa ditahallulkan. (HS-08)

Jelang Lebaran Idul Adha, Prabowo Subianto Akuisisi 13 Radar Ground Control Interception

Idul Adha, Wapres Kurban Sapi Limousin di Masjid Istiqlal