in

Potensi Gempa dan Tsunami di Nias Sedang hingga Tinggi, Perlu Kesiapsiagaan

Peta Sejarah Tsunami Indonesia Tahun 1800-1899. (Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 – 2018 / BNPB.go.id)

 

HALO SEMARANG – Gempa bumi dengan magnitudo 6,7 yang terjadi di Nias, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (14/5) mengingatkan semua pihak bahwa wilayah tersebut memang rawan gempa.

Gempa-gempa serupa, atau bahkan lebih besar hingga memicu tsunami, adalah sebuah keniscayaan. Catatan sejarah telah membuktikan bahwa bahaya bencana geologi tersebut tak dapat diremehkan.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr Raditya Jati, seperti dirilis BNPB.go.id, untuk mengantisipasi bencana semacam itu, masyarakat memang harus terus siap siaga. Mereka harus tahu cara menyelamatkan diri, ketika gempa atau tsunami datang.

Berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 – 2018, sejumlah tsunami pernah terjadi di barat daya Sumatera. Sebagai contoh pada periode 1800 – 1899, beberapa gempa besar memicu terjadinya tsunami.

Gempa M7,2 pada 1843, mengakibatkan tsunami yang berdampak di Pulau Nias. Catatan BMKG menyebutkan, bahwa saat itu di Gunung Sitoli, sebuah gelombang pasang datang dari tenggara dengan suara yang mengerikan, menerjang daerah itu.

Hampir seluruh pantai di Pulau Nias terkena gelombang tersebut. Sebuah kampung bernama De Mego yang berjarak 2 km dari Gunung Sitoli, tersapu seluruhnya. Bahkan kapal-kapal ikan di sungai, digambarkan terbawa ke daratan sejauh 30 – 50 km dari tempat tambatan.

Berselang 9 tahun, tepatnya 11 November 1852, gempa M6,8 memicu terjadinya tsunami. Wilayah pantai di Pulau Nias kembali terdampak gempa waktu itu.

Selanjutnya pada 1861, gempa besar M8,5 yang terjadi di barat daya Sumatera memicu terjadinya tsunami.

Beberapa wilayah terdampak tsunami, seperti Pulau Nias dan sekitarnya. Berdasarkan BMKG, Gunung Sitoli mengalami serangan tsunami parah. Awalnya air laut surut sejauh 32 m, tetapi kemudian kembali dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menghancurkan sejumlah desa di pantai. Peristiwa itu mengakibatkan banyak penduduk setempat meninggal dunia.

Pada 1896 gempa bumi dengan M 6,8, kembali mengguncang barat daya Sumatera, khususnya Pulau Nias. Digambarkan pada tahun itu, sekitar satu jam pascagempa, air bah datang dan 6 jam kemudian terjadi lebih dahsyat menerjang Gunung Sitoli.

Gempa M 6,7 yang terjadi Jumat, 14 Mei 2021, pukul 13.33 WIB, juga dirasakan masyarakat di wilayah administrasi lain di Pulau Nias, yaitu Kabupaten Kabupaten Nias, Nias Barat dan Nias Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis parameter III – IV MMI di wilayah Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Nias Barat dan Nias Selatan. Skala MMI atau Modified Mercalli Intesity merupakan satuan untuk mengukur kekuatan gempa. Berdasarkan informasi BMKG, IV MMI mendeskripsikan gempa dirasakan banyak orang yang berada di dalam rumah dan beberapa orang di luar rumah, serta gerabah pecah, jendela dan pintu berderik dan dinding berbunyi.

Sejarah berulangnya gempa mendorong kesiapsiagaan nyata dari setiap individu dalam lingkup keluarga. Kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami perlu dipersiapkan sejak dini oleh keluarga.

Keluarga harus memiliki rencana kesiapsiagaan keluarga karena setiap keluarga memiliki karakteristik berbeda, seperti konstruksi bangunan rumah, kapasitas keluarga dalam kebencanaan, keadaan fisik setiap anggota keluarga atau lokasi rumah.

Rencana darurat keluarga dapat disusun dengan panduan orang tua atau orang dewasa di dalam keluarga. Berbagai informasi menjadi diskusi dan panduan bagi setiap anggota keluarga, misalnya potensi bahaya dan risiko yang ada di sekitar rumah, titik kumpul dan jalur evakuasi ke tempat yang lebih tinggi, penempatan perabot, hingga tas siaga bencana.

“Ingat, setiap keluarga memiliki tingkat bahaya dan risiko yang berbeda, meskipun keluarga-keluarga dalam komunitas, berada pada kawasan dengan potensi bahaya gempa dan tsunami dengan kategori sedang hingga tinggi.” (HS-08)

Share This

Neymar Gagal, Messi Minta Mbappe

24 Juta Terinfeksi Covid-19, Pemerintah India Bunyikan Alarm Bahaya untuk Warga Desa