in

Post Truth : Era yang Membosankan!

Foto ilustrasi.

 

HARI ini, sadar atau tidak kita memasuki sebuah era yang dinamai sebagai era revolusi industri.

Kemajuan teknologi informasi saat ini telah mencapai tahapan revolusi industri 4.0, di mana tekhnologi berkembang begitu pesat dan penggunaan internet sulit dipisahkan dari kehidupan manusia (internet of things).

Pesatnya perkembangan teknologi informasi ini memang membawa banyak pengaruh untuk masyarakat di Indonesia, baik itu pengaruh positif maupun negatif.  Kemajuan teknologi yang membawa dampak positif yaitu mempercepat arus informasi dan mempermudah akses terhadap informasi, di sisi lain dampak negatifnya meningkatnya penipuan, kejahatan cyber, berita bohong (hoax news) dan ujaran kebencian (hate speech).

Berbicara mengenai semakin maraknya hoax, fake dan false news di masyarakat saat ini tidak akan terlepas dari sebuah fenomena yang dinamakan dengan post truth.

Memang kata post truth akhir-akhir ini sering terdengar apabila kita banyak berseluncur di dunia maya dan mencari berita-berita yang terkait dengan politik, karena pada dasarnya post truth ini sangat erat kaitannya dengan politik.

Sebuah era tentang “kegilaan” mutakhir, setelah bertahun mencari pijakan linguistik, post-truth menyebal sebagai konsep. Baru sekarang inilah post truth menghentak selaiknya kelahiran idealisme baru yang meluap dan mungkin saja berubah menjadi teror, dengan titik puncak di mana segala kerusakan adalah seni menakjubkan.

Sebab sebagaimana diketahui bersama, berkembangnya post truth tak bisa dilepaskan dari hoax (fakta yang dipelintir), manipulasi dan fake news (berita bohong). Selaras dengan itu pula suasana post truth di Indonesia terasa kental dengan tumbuh pesatnya internet. Akses yang mudah, cepat dan murah membuat “virus” ini dengan cepat menyergap siapa saja.

Mungkin suasana inilah yang dimaksud Baudrilard (1983), manusia tengah memasuki simulakra (dunia simulasi), dengan penggambaran masyarakat yang mendiami sebuah realitas dan kesulitan membedakan antara realitas dan fantasi. Lebih jauh lagi dapat dikatakan tidak lagi peduli dengan realitas, nyata, palsu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi. Semua ini tumpang tindih tak karuan dan menjadi sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya nilai, fakta, citraan dan kode.

Istilah post-truth sendiri, pertama kali digunakan dalam sebuah artikel pada bulan Januari 1992 di Nation Magazine yang ditulis oleh Steve-Tesich, keturunan Serbia-Amerika. Dengan menggambarkan “the watergate syndrome” di mana semua fakta-fakta buruk yang terungkap malah membuat warga Amerika meremehkan kebenaran. Sebab kebenaran tersebut bukan hal yang nyaman untuk dipercayai. Tesich juga menuliskan bagaimana manusia yang bebas telah memutuskan untuk hidup di era post truth, era di mana fakta dan data objektif bisa dimainkan sedemikian rupa untuk memanipulasi opini publik.

Populernya post truth di Indonesia tak lepas dari menyebarnya secara masif media sosial yang mempunyai pengaruh kuat dalam kehidupan. Orang begitu bebasnya berpendapat dan menyebarkan sesuatu tanpa filter lagi. Apalagi jika penyebarannya didukung oleh masyarakat yang mempunyai pandangan dan kedekatan secara emosional.

Maka dalam dunia simulakra atau maya, siapa pun begitu mudah menjadi pendukung atau pembenci tanpa menimbang, apakah hal tersebut mempunyai fakta objektif atau tidak. Orang begitu mudah disatukan dengan informasi yang dirasakan menguntungkan, begitu pula sebaliknya tanpa menimbang lagi bahwa itu salah atau benar. Celakanya, era post truth ini juga melahirkan pemimpin yang mampu memanfaatkan kelemahan masyarakat untuk mengikuti kebenaran yang mereka ciptakan.

Hingga sejarah pun bisa dipesan dengan mudah untuk melancarakan tujuan mereka dan memperoleh dukungan dari masyarakat yang militan.
Era post truth ini sadar atau tidak telah dicandui sebagaimana sejalan dengan berkembangnya media sosial yang begitu pesat. Dalam media sosial muncul ikatan emosional semu, semua orang serasa hidup dalam jarak-jarak, membuat benteng-benteng atas dirinya sendiri. Keakraban serasa menjadi musuh dan hanya mengenal sebatas wajah.

Dengan begitu, apapun yang muncul di media sosial jarang sekali ditanggapi dengan pemahaman dan pendalaman terlebih dulu. Tanda-tanda ini mungkin bisa terbaca di generasi mileneal sekarang, di mana generasi ini kadung dianggap tidak peduli dengan kondisi sosial, budaya, politik dan ekonomi. Generasi ini membanggakan pola hidup bebas dan hedonisme, tidak memiliki visi realistis dan cenderung tak punya daya kritis dalam hidupnya (rumah mileneals.com). Maka Post truth adalah keniscayaan dan ke depan bisa sungguh membahayakan.

Fenomena post-truth di Indonesia terlihat gamblang di momen Pilpres 2019 hingga sekarang. Di mana masyarakat Indonesia merasakan apa yang dirasakan seperti dalam artikel Steve Tesich, keraguan terhadap informasi yang disebar di benak orang-orang semakin menguatkan kecenderungan untuk menampik kebenaran, meski sudah mendengar dan melihatnya.

Amerika Serikat

Tujuannya tak lagi untuk membalikkan fakta, tapi justru malah ingin menghancurkan eksistensi kebenaran objektif. Sebab kita semua tak pernah menyangka dan sadari, bahwa status atau meme yang bersliweran di media sosial, sengaja didesain secara khusus untuk memicu perdebatan, percekcokan, silang sengketa dengan target menggali segregasi sosial berdasarkan kelompok, mengembangkan sikap ingrup-outgrup dalam masyarakat. Dengan tujuan menciptakan pendukung yang fanatik, pemarah dan kebal terhadap data dan fakta. Hal yang disasar adalah crocbrain (crocodile brain) manusia, di mana security/insecurity feeling berada. Sebab perasaan inilah yang menjadi landasan spirit survival manusia.

Dan dengan desain narasi-narasi dan gambar-gambar yang disisipi pesan subliminal, pesan tidak akan tertangkap dalam pikiran kritis dan logika sehat berada, melainkan menusuk langsung ke croc brain. Tehnik ini biasanya digunakan dalam hypnowriring. Dan konsekuensinya jelas akan memicu reaksi primitif dan tidak akan bisa dihadapi dengan data.

Maka masuk akal, bahkan negara sekaliber Amerika dihajar dengan post-truth dalam pemilu raya yang dimenangkan Donald Trump. Dalam Trump and The Post-Truth World (2017) karya Ken Wilber, di mana post-truth dikaitkan dengan nihilisme, narsis, skeptis dan post-modernisme yang berprinsip menolak kebenaran universal. Kebenaran hanyalah persepsi atau terikat dalam interprestasi individual. Inilah yang jadi pijakan operasional hoax dan fake news.

Dan Indonesia saat ini berkelimpahan hoax dan fake news yang pada akhirnya membuat masyarakat terpecah, ragu dan ketakpercayaan atas sesuatu begitu mengemuka. Tak pelak generasi sekarang tumbuh dalam gelap dan terang sekaligus, berita apapun bisa menyelinap dengan cepat dalam keseharian kita, tanpa pernah tahu benar atau palsu. Semua disantap oleh manusia dengan cepat, dan saat ini sejarah sedang menulis apa yang tengah terjadi adalah sebuah era yang membosankan! Dan kita harus sadar bahwa kita memang generasi yang membosankan juga.

Lantas apa yang bisa diharapkan lagi jika dalam beberapa tahun ke depan semua hanyalah kebohongan? Apa yang bisa diwariskan oleh anak-anak pada masa depan kelak? Bagaimana upaya mengatasi keniscayaan era post truth ini? Tak ada jalan lain yang harus dilakukan adalah meningkatkan literasi pada masyarakat. Kemampuan untuk lebih mendayagunakan potensi diri adalah salah satu jalan keluar yang paling bisa dilakukan, sebagaimana amanah konstitusi kita, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika hal ini tak bisa segera dilakukan, maka biarlah Thanos menjentikkan jarinya, dan kehidupan akan berhenti dengan cara yang tak pernah terpikirkan lagi.(HS)

Langgar Perda, Belasan Kios PKL di Jalan Pemuda dan Kawi Dibongkar Satpol PP Kota Semarang

Juara Liga Futsal Nusantara, BJL Pertahankan Skuad Dalam Persiapan Hadapi Pro Futsal League 2020