Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Ponpes Luhur Dondong Ngaliyan, di Salah Satu Ponpes Tertua Jawa Tengah ini Konon Sholeh Darat Pernah Nyantri

Ponpes Luhur Dondong Ngaliyan, Semarang.

 

DI SALAH satu sudut Kota Semarang, belum banyak yang mengetahui berdiri sebuah pondok pesantren yang konon tertua di Jawa Tengah. Pesantren itu bernama Pesantren Salafi Luhur Dondong, yang ada di Kampung Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Nama tersebut diambil dari nama Kampung Dondong, di mana pesantren itu berada. Dari sumber yang diperoleh, pesantren itu didirikan pada tahun 1609 Masehi, oleh Kiai Syafii Pijoro Negoro. Sementara sumber lain mencatat pesantren itu dibangun lebih muda, yakni pada tahun 1612 Masehi. Dan makam Kiai Syafii juga berada tidak jauh dari komplek pesantren.

Di pesantren ini juga memiliki mushala yang syarat dengan nilai sejarah, yaitu Mushala Abu Darda’. Mushala atau surau ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah salat saja, tapi juga sebagai sarana pendidikan, juga pernah jadi markas Badan Keamanan Rakyat (BKR)/Tentara Keamanan Rakyat (TKR) masa perang, atau dikenal sebagai Markas Medan Barat. Dari sejarahnya, Mushala Abu Darda’ ini didirikan pada 1612 Masehi, tiga tahun setelah pendirian Pondok Pensantren Luhur Dondong, yang menjadi satu komplek dengan yayasan Luhur di Kampung Dondong, Ngaliyan.

Penggagasnya salah satunya yaitu Kiai Syafii, keturunan Ki Ageng Gribig, Jatinom, Klaten. Ki Syafii, juga semasa hidupnya adalah Komandan Pasukan Sultan Agung, yang ikut menyerbu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia (Jakarta) pada 1629. Dalam perjalanannya tersebut Kiai Syafii, singgah dan kemudian bermukim di tempat ini yang sekarang berubah bernama jadi Kampung Dondong.

Sejak berdiri, hingga sekarang, surau Abu Darda’ sudah tiga kali direhab. Karena sering rusak karena diterjang banjir. Meski ada perbaikan, tidak mengubah bentuk bangunan seperti semula. Rehab ini diperlukan, jika bagian atap ada yang bocor saat musim hujan. Rehab terakhir dilaksanakan pada sekitar tahun 1980 an, dengan mengganti mustoko kubah surau, namun dengan desain yang lama.

 

Mushola Abu Darda’ sekarang telah dibangun dua tingkat dilengkapi tangga, dulu pernah dijadikan markas gerilyawan Pasukan Pangeran Diponegoro dan markas Medan Barat saat perang kemerdekaan Indonesia.

Saat halosemarang.id berkunjung ke ponpes tersebut, Rabu (4/8/2019), kini surau tersebut dibangun lebih kokoh, dan dicor dua tingkat, serta dipasang keramik. Namun tetap mempertahankan desain bentuk bangunan yang lama. Dulu, dari informasi yang didapat, bangunannya seperti rumah panggung, bagian atasnya terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan tangga kanan dan kiri untuk menuju ke bangunan atasnya.

Ada empat pilar penyangga kini sudah dihilangkan setelah renovasi.
Menurut sejarahnya, surau ini juga dijadikan markas gerilyawan pasukan Pangeran Diponegoro. Dan pada tahun 1949, pernah dijadikan markas tentara BKR/TKR, yang dikenal sebagai Markas Medan Barat dengan pimpinan pasukan Letkol Iskandar Idris.

“Karena sering dipakai sebagai markas pejuang, maka mushala ini pernah dibakar Belanda,” kata salah satu pengasuh Pondok Pesantren Luhur Dondong, Tubagus Mansor (Gus Toba), yang merupakan keturunan ketujuh dari pendiri pondok Dondong, Kiai Syafii.

Dijelaskan Gus Toba, saat ini Ponpes Dondong memang sudah ada beberapa renovasi pembangunan terhadap bangunan yang mulai dimakan usia. Apalagi, daerah Kelurahan Wonosari belakangan kerap diterpa banjir bandang. Banjir ini diakibatkan daerah atas Kecamatan Ngaliyan banyak dibangun pabrik dan perumahan sehingga volume air di Kali Beringin menjadi sangat besar dan deras.

“Setiap kali hujan datang, daerah ini pasti diterjang banjir. Puncaknya pada november 2010, banjir bandang terjadi sehingga beberapa bangunan inti pesantren roboh. Kini tinggal dua bangunan lama, dan baru satu bangunan yang sedang direnovasi, karena pernah terbakar. Agar tempat ngaji santri makin representatif,” jelasnya.

Pada awal pendiriannya, lanjut Gus Toba, Kiai Syafii mendirikan semacam padepokan, belum berwujud pesantren seperti sekarang. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga akhirnya berkembang menjadi pesantren.

“Saat ini jumlah santri ada 30 orang. Yang berasal dari Bogor, Sragen, Jakarta, Kendal Batang, Demak, Jepara, Kudus. Bahkan, Sulawesi, Sumatera, dan Lampung,” katanya.
Diceritakannya, sepeninggal Kiai Syafii yang wafat pada 1711, pengurus pesantren digantikan menantunya Kiai Abu Darda dari Jekulo Undaan Kudus. Abu Darda merupakan suami dari Nyai Rogoniah binti Kiai Syafi’i.

”Menurut cerita-cerita sih Mbah Abu Darda itu masih keturunan Sunan Kudus,” katanya.
Setelah Kiai Abu Darda wafat, pengasuh digantikan menantunya Kiai Abdullah Buiqin bin Umar dari penanggulan Santren Kendal. Abdullah Buiqin merupakan suami dari Nyai Natijah binti Kiai Abu Darda.

“Adapun di antara kiai yang pernah menjadi santri di antaranya Mbah Sholeh Darat dan beberapa alumnus di Pondok Dondong adalah kakeknya Kiai Hadlor Ikhsan. Kiai Mas’ud, pengasuh pesantren Darul Amanah Sukorejo alumni sekitar tahun 1970-an. Ada juga Kiai Zamhari pengasuh pesantren Darunnajah Bogor,” terangnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang