in

Polri Sebut Kasus TPPO Didominasi Modus Iming-iming Gaji Besar

 

HALO SEMARANG – Iming-iming gaji besar bekerja di luar negeri, umumnya menjadi jurus pemikat yang digunakan para pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO), untuk menjerat calon korbannya.

Namun alih-alih gaji besar yang didapat, para korban biasanya justru dijadikan pekerja rumah tangga tanpa digaji dan bekerja tanpa mengenal waktu.

Berbagai model akal-akalan pelaku tersebut, diungkap Satuan Tugas (Satgas) TPPO, yang dibentuk Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Salah satu pengungkapan kasus, dilakukan Polres Brebes, Polda Jawa Tengah, di mana para calon korban, dijanjikan bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab (UAE) dengan gaji tinggi.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id, Sabtu (24/6/2023), mengatakan korban yang terjerat oleh bujuk rayu pelaku, kemudian dibawa ke penampungan, sebelum dijual ke Arab Saudi sebagai PRT.

Selama bekerja di Arab Saudi, korban tidak menerima gaji serta dipekerjakan tanpa mengenal waktu.

Kemalangan para korban bertambah, karena ketika mereka minta dipulangkan ke Indonesia, justru diminta membayar Rp 20 juta.

Kasus lainnya juga diungkap Polres Boyolali, Polda Jateng. Korban diimingi bekerja sambil kuliah dengan gaji SGD2.700 per bulan.

Namun pada kenyataannya, empat korban yang telah membayar sejumlah uang, tak kunjung diberangkatkan.

Akhirnya salah satu korban diberangkatkan dan mendapati kenyataan apa yang dijanjikan pelaku tidak sesuai.

Melihat modus tersebut, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengingatkan masyarakat untuk tak tergiur dengan iming-iming gaji tinggi bekerja di luar negeri.

Ia juga meminta masyarakat tak mudah membayar sejumlah uang untuk bekerja di luar negeri.

“Masyarakat harus waspada dan hati-hati. Lebih baik gunakan jalur resmi jika ingin bekerja di luar negeri agar terjamin keamanan, hak dan lainnya,” ungkap Karopenmas dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/6/23).

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa sejak dibentuk Satgas TPPO, hingga kini sudah menangani sebanyak 511 Laporan Polisi (LP). Dari ratusan LP tersebut, sebanyak 598 tersangka telah ditangkap.

Ia menuturkan, berbagai macam modus para tersangka menjerat para korban TPPO.

Terbanyak, yakni mengiming-imingi korban bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia atau Pekerja Rumah Tangga (PRT) hingga mencapai 386 kasus.

Modus lainnya yang terbanyak yakni para korban dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK). Angka dalam kasus ini yakni sebanyak 136.

Dua modus lainnya TPPO ini yakni mempekerjakan korban sebagai Anak Buah Kapal (ABK) dengan 6 kasus dan eksploitasi anak sebanyak 34 kasus.

“Dari ratusan kasus yang ditangani Satgas TPPO Bareskrim Polri dan Polda jajaran, telah menyelamatkan korban sebanyak 1.744,” ujarnya.

Dari ribuan korban tersebut, Karopenmas merinci ada 777 korban perempuan dewasa dan 99 perempuan anak. Kemudian, untuk korban laki-laki dewasa ada 819 dan laki-laki anak ada 49 orang.

Lebih lanjut, Karopenmas mengatakan, dari ratusan kasus yang diungkap, saat ini perkembangannya 100 kasus masuk tahap penyelidikan.

Kemudian, 384 dalam tahap penyidikan dan berkas sudah lengkap atau P21 ada satu kasus. (HS-08)

Datang ke Indonesia, Warga Iran Ini Malah Bikin Pabrik Sabu-sabu, Terancam Mati

Diklatsar Banser XXI 2023, Begini Pesan Ketua GP Ansor Kendal