Polres Batang Ungkap Kasus Penipuan dan Penggelapan Pengurusan Pemecahan Sertifikat

Kapolres Batang, AKBP Edwin Louis Sengka saat konferensi pers, Rabu (30/12/2020).

 

HALO BATANG – Satreskrim Polres Batang berhasil mengungkap kasus tindak pidana penipuan atau penggelapan uang pengurusan pemecahan sertifikat yang membuat korban, Uriyah (40) warga Gringsing mengalami kerugian mencapai Rp 422 juta.

Kapolres Batang, AKBP Edwin Louis Sengka mengatakan, perkara penipuan dan penggelapan itu terjadi dalam kurun waktu tahun 2019 hingga 5 Desember 2020.

Ada dua tersangka dalam kasus ini, yaitu S (51) Warga dukuh Sabetan Kidul, Desa Mororejo, Kaliwungu, Kendal sebagai pelaku utama dan AM (51) warga Kelurahan Medono, Kota Pekalongan.

“Dengan rangkaian perkataan bohong dan tipu muslihatnya, tersangka menawarkan jasa pemecahan sertifikat pada Uriyah dengan dalih dekat petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) Batang,” kata Kapolres Batang, AKBP Edwin Louis Sengka saat konferensi pers, Rabu (30/12/2020).

Tersangka mengaku sanggup untuk melakukan pemecahan sertifikat lahan kavling milik korban, yang sebelumnya merupakan lahan pertanian untuk diubah menjadi lahan darat.

“Karena bujukan tersangka itu, akhirnya korban mau menerima bantuan yang ditawarkan tersangka untuk pemecahan sertifikat hak milik atau splitsing atas tanah hak milik nomor 01563 atas nama Machfud, suami korban,” terang AKBP Edwin Louis Sengka.

Seiring berjalanannya waktu, tersangka S beberapa kali meminta sejumlah uang kepada korban dengan alasan untuk biaya proses pendaratan dan splitsing, meski sebenarnya proses yang dijanjikan S tidak dilakukanya. Penyerahan uang secara bertahap untuk kepentingan itu semua hingga mencapai Rp 422 juta.

“Untuk meyakinkan korban, S menunjukkan sertifikat hasil pemecahan yang seolah-olah diterbitkan oleh BPN. Ternyata setelah korban melakukan kroscek ke BPN, ternyata tidak ada sertifikat yang dimaksud. Surat dan dokumen palsu itu dibuat oleh AM warga Kota Pekalongan,” ungkap Kapolres Batang.

Atas kejadian tersebut, Uriyah dan suaminya Machfud pun langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Batang.

Barang bukti yang berhasil diamankan di antaranya 20 lembar kwitansi pembayaran uang, 1 bendel rekening koran milik tersangka, 1 bendel sertifikat dan dokumen palsu, 1 buah printer, 1 buah layar monitor, 9 bendel sertifikat tanah palsu, dan lainnya.

Akibat perbuatannya itu, tersangka dapat dijerat pasal 378 dan atau Pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.