PNS Kominfo Diminta Waspadai Konten Radikalisme

Acara #AksiToleransi Menjaga Atmosfer Toleransi, Orientasi CPNS Kominfo 2020 dari Jakarta, secara daring (Foto : Kominfo.go.id)

 

HALO SEMARANG – Para calon pegawai negeri sipil (CPNS), terutama di Kementerian Kominfo, harus mewaspadai setiap konten yang disebarkan melalui dunia maya, termasuk media sosial.

Media-media tersebut, sering dimanfaatkan kelompok-kelompok radikal, untuk menyebarkan konten, sesuai kepentingan dan ideologi mereka. Jika tidak ditindak secara tegas, penyebaran konten seperti ini berbahaya dan dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa serta negara.

“Jadi hal-hal seperti ini sangat berbahaya sekali, bagi kepentingan ideologi dan kesatuan bangsa dan negara kita,” kata Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Zulfan Lindan, dalam acara #AksiToleransi Menjaga Atmosfer Toleransi, Orientasi CPNS Kominfo 2020 dari Jakarta, secara daring Jumat (08/01), seperti dirilis Kominfo.go.id.

Menurut dia sikap radikal yang semula terbatas, dapat berkembang menjadi besar, karena dipengaruhi oleh kepentingan dan ideologi, termasuk kepentingan politik dari luar atau dalam negeri.

Di sisi lain, Zulfan menilai, banyak di antara pemuda yang mudah menyerap konten-konten semacam itu, melalui media daring dan media sosial.

Mereka sering langsung menyerap, tanpa melakukan koreksi, perbandingan, atau telaah secara lebih dalam. Berangsur-angsur mereka kemudian menganggap, ideologi itulah yang tepat untuk diyakini.

Masyarakat yang mengenal kelompok-kelompok radikal dan ekstrem, pendiriannya juga menjadi ekstrim pula.

“Nah ini yang bahaya juga ketika orang hanya bergantung kepada media sosial untuk memahami suatu persoalan-persoalan penting dan prinsip, seperti ideologi ataupun filsafat. Tetapi dengan tidak mendalami atau tidak menguasai, juga lebih mudah terpengaruh,” tandasnya.

Stafsus Menteri Kominfo menyontohkan kelompok ISIS di Eropa yang menyerap anak-anak muda melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan berbagai platform digital lainnya.

“Mereka diajak, dijanjikan macam-macam, sama seperti di Indonesia yang seperti kita tahu. Mereka cerita bahwa mereka dijanjikan, bahwa di sana nanti akan mendapatkan kenikmatan, kemudahan, segala macam, janji-janji indah. Nah kemudian begitu sampai di sana, sampai di Syria, sampai ke Irak, mereka diajarkan latihan militer, setelah latihan militer mereka disuruh perang bunuh orang dan segala macam tanpa ada dasar sama sekali,” ujarnya.

Stafsus Zulfan menilai cara-cara seperti itu, terbangun sebagai bentuk indoktrinasi permusuhan. Bagi orang yang ada di luar kelompok, akan dianggap sebagai musuh dan harus dibunuh.

“Ini pasti dilatarbelakangi oleh suatu pemahaman ideologi yang bahaya sekali. Kalau ini diserap oleh masyarakat Indonesia, apalagi PNS, saya kira lama-lama negara ini bisa bubar sendiri,” ujarnya

Stafsus Menteri Kominfo juga mengajak peserta oriestasi CPNS Kementerian Kominfo tahun 2020 agar selalu menanamkan nilai-nilai Pancasila dan NKRI, “Apa yang kita katakan Pancasila dan NKRI hanya tinggal nama kalau seandainya pikiran-pikiran seperti ini semakin lama semakin banyak masuk ke dalam generasi muda kita,” imbuhnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.